Strategi Pemprov Jabar Antisipasi Lonjakan Wisatawan Nataru 2025/2026: Pelarangan Angkutan Umum Tradisional Hingga Kompensasi
Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengambil langkah proaktif dalam menghadapi lonjakan aktivitas masyarakat menjelang dan selama periode liburan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Fokus utama diarahkan pada identifikasi tujuh titik rawan kemacetan di jalur-jalur wisata utama, serta kebijakan peliburan sementara moda transportasi tradisional seperti angkutan kota (angkot), delman, dan becak. Langkah ini diambil untuk mengurai potensi kepadatan lalu lintas yang diprediksi akan meningkat drastis.
Tujuh destinasi wisata unggulan yang menjadi perhatian khusus dalam upaya mitigasi kemacetan ini meliputi Puncak, Pelabuhan Ratu, Lembang-Ciater, Ciwidey-Pangalengan, Garut, Kuningan, dan Pangandaran. Wilayah-wilayah ini secara historis selalu menjadi magnet bagi para wisatawan, baik dari dalam maupun luar Jawa Barat.
Peliburan Moda Transportasi Tradisional dan Kompensasi
Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat, Dhani Gumelar, menjelaskan bahwa selain pemantauan intensif di tujuh titik wisata tersebut, pihaknya juga telah mengimbau para pengemudi angkot, delman, dan becak untuk menghentikan sementara operasional mereka pada periode krusial akhir tahun 2025. Total sebanyak 4.711 pengemudi dari berbagai jenis moda transportasi ini diminta untuk tidak beroperasi pada tanggal 24-25 Desember dan 30-31 Desember 2025. Kebijakan ini diharapkan dapat secara signifikan mengurangi volume kendaraan di jalan, terutama di area-area yang rentan terhadap kemacetan.
Rincian jumlah pengemudi yang terdampak oleh kebijakan ini tersebar di beberapa wilayah:
- Bogor: 1.825 pengemudi angkot.
- Cianjur: 1.416 pengemudi angkot.
- Kabupaten Bandung: 111 pengemudi delman.
- Kabupaten Bandung Barat: 10 pengemudi delman.
- Kabupaten Garut: 457 pengemudi delman.
- Kabupaten Tasikmalaya: 28 pengemudi delman dan 229 pengemudi becak.
- Kabupaten Kuningan: 100 pengemudi delman.
- Kabupaten Cirebon: 535 pengemudi becak.
Sebagai bentuk apresiasi dan untuk meringankan beban ekonomi para pengemudi yang terdampak, pemerintah provinsi akan memberikan kompensasi. Besaran kompensasi ditetapkan sebesar Rp 200.000 per hari per orang. Mekanisme pembayaran kompensasi ini akan dilaksanakan secara langsung sebelum tanggal 24 Desember 2025, memastikan para pengemudi dapat menerimanya tepat waktu.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, secara terpisah juga menyatakan niatnya untuk meliburkan angkot di Kota Bandung. Langkah ini sejalan dengan upaya antisipasi kepadatan lalu lintas yang diperkirakan mencapai puncaknya pada tanggal 31 Desember 2025 dan 1 Januari 2026. Bagi angkutan kota di Kota Bandung, kompensasi yang diberikan akan lebih besar, yaitu Rp 500.000 per orang untuk mengganti uang operasional selama dua hari libur tersebut.
Prediksi Pergerakan Masyarakat dan Destinasi Favorit
Dinas Perhubungan Jawa Barat memprediksi total pergerakan masyarakat selama periode Nataru kali ini akan mencapai angka signifikan, yakni sekitar 21,2 juta orang. Dari jumlah tersebut, mayoritas atau sekitar 60 persen diproyeksikan melakukan perjalanan untuk keperluan pariwisata. Data ini didasarkan pada survei yang menunjukkan bahwa 42 persen dari total penduduk Jawa Barat yang berjumlah sekitar 50,34 juta jiwa akan melakukan perjalanan.
Distribusi tujuan perjalanan masyarakat selama Nataru adalah sebagai berikut:
- Pariwisata: Sekitar 60 persen.
- Mudik: Sekitar 35,1 persen.
- Silaturahmi (bukan mudik): Sekitar 4,1 persen.
- Alasan lainnya (termasuk bekerja): Sekitar 0,8 persen.
Adapun daerah asal pergerakan masyarakat yang paling banyak meliputi:
- Kabupaten Bogor: 3,76 juta orang.
- Kabupaten Bandung: 2,52 juta orang.
- Kota Bandung: 1,79 juta orang.
- Kota Depok: 1,6 juta orang.
- Kota Bekasi: 1,6 juta orang.
Sementara itu, lima daerah tujuan wisata yang diprediksi paling banyak dikunjungi selama periode Nataru 2025/2026 adalah:
- Kabupaten Bandung: 3,98 juta orang.
- Kabupaten Bogor: 3,88 juta orang.
- Kota Bandung: 3,03 juta orang.
- Kabupaten Garut: 3,02 juta orang.
- Kabupaten Tasikmalaya: 1,21 juta orang.
Secara spesifik, kawasan Pangandaran diprediksi akan menjadi destinasi favorit dengan kunjungan mencapai 2.069.438 orang. Kota Bandung menyusul dengan estimasi 2.055.710 orang, Kawasan Puncak dengan 1.652.814 orang, dan Lembang dengan 904.535 orang. Pangandaran dan Bandung secara konsisten muncul sebagai tujuan utama responden dalam survei.
Mengenai moda transportasi pilihan, mobil pribadi diprediksi akan menjadi pilihan utama dengan proporsi 65,2 persen. Diikuti oleh sepeda motor sebesar 15,2 persen, dan kereta api sebesar 13,3 persen.
Peningkatan Penumpang Kereta Cepat Whoosh
Di tengah antisipasi lonjakan mobilitas, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mencatat adanya peningkatan minat masyarakat untuk menggunakan layanan kereta cepat Whoosh selama periode libur Natal dan Tahun Baru. Pada tanggal 24 Desember 2025, tercatat sebanyak 24.439 penumpang menggunakan Whoosh.
General Manager Corporate Secretary KCIC, Eva Chairunisa, menyatakan bahwa tren peningkatan volume penumpang Whoosh, dengan rata-rata di atas 21 ribu penumpang per hari, sudah terlihat sejak akhir pekan sebelumnya. Peningkatan volume penumpang terus berlanjut, bahkan pada tanggal 25 Desember 2025 diprediksi akan melampaui angka 24 ribu penumpang.
Eva Chairunisa menambahkan bahwa hingga Kamis pagi, sekitar 16.000 tiket telah terjual, dan angka ini diperkirakan akan terus bertambah hingga jadwal keberangkatan terakhir pada pukul 21.25. Tingkat okupansi Whoosh pada hari itu di Stasiun Halim menunjukkan angka yang sangat tinggi, yaitu di atas 90 persen untuk keberangkatan pagi hingga siang hari. Sementara itu, jadwal keberangkatan lainnya masih berada di kisaran 70 persen. Peningkatan ini menunjukkan bahwa kereta cepat Whoosh menjadi salah satu alternatif transportasi pilihan yang menarik bagi masyarakat yang ingin merayakan momen liburan Nataru.




