Isu Reshuffle Kabinet Mencuat, Istana Beri Klarifikasi dan Spekulasi Pengamat
Isu perombakan kabinet atau reshuffle kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan publik. Menanggapi hal tersebut, Istana Kepresidenan memberikan klarifikasi terkait kebenaran kabar tersebut.
Melalui Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, pemerintah menegaskan bahwa untuk saat ini tidak ada rencana reshuffle kabinet dalam waktu dekat. Pernyataan ini disampaikan Prasetyo saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat. Ia menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi saat ini tidak dapat dikategorikan sebagai reshuffle kabinet.
“Tidak ada (reshuffle). Kalau maknanya reshuffle adalah karena ada proses beralihnya jabatan Wakil Menteri Keuangan menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia, yang kemarin telah melalui proses fit and proper test di DPR, itu benar,” tegas Prasetyo.
Menurutnya, perpindahan jabatan tersebut murni karena penugasan baru dan bukan merupakan bagian dari perombakan kabinet secara keseluruhan. “Artinya ada jabatan Wamenkeu yang ditinggalkan oleh beliau karena penugasan ke tempat yang lain,” imbuhnya.
Prasetyo menjelaskan bahwa satu-satunya posisi yang mengalami perubahan adalah jabatan Wakil Menteri Keuangan yang sebelumnya diisi oleh Thomas Djiwandono.
Thomas Djiwandono, yang juga merupakan keponakan dari Presiden Prabowo Subianto, resmi meninggalkan jabatannya sebagai Wakil Menteri Keuangan setelah terpilih menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia. Meskipun demikian, kursi Wamenkeu yang ditinggalkan oleh Thomas belum akan segera diisi. Prasetyo menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada nama pengganti yang ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini dikarenakan proses pengangkatan Thomas sebagai Deputi Gubernur BI masih dalam tahap penyelesaian.
“Belum (ada kandidat pengganti). Kan belum selesai proses, proses Deputi apa, Gubernur BI-nya kan belum selesai. (Kandidatnya) tunggu dulu,” tegas Prasetyo.
Ia mengimbau kepada publik untuk tidak berspekulasi berlebihan terkait isu reshuffle ini. Pemerintah memastikan bahwa komposisi kabinet saat ini tetap solid.
Daftar Menteri yang Sempat Diisukan Terkena Reshuffle
Meskipun Istana telah memberikan klarifikasi, isu reshuffle sempat menyeret nama beberapa menteri. Berikut adalah daftar tujuh menteri yang sempat diisukan akan terkena reshuffle:
- Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK)
- Menteri Luar Negeri (Menlu)
- Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP)
- Kepala Staf Kepresidenan (KSP)
- Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi)
- Menteri HAM
- Menteri Pariwisata (Menpar)

Keponakan Prabowo Lainnya Masuk Bursa Menteri Luar Negeri?
Selain isu reshuffle yang beredar luas, nama keponakan Prabowo Subianto lainnya, Budisatrio Djiwandono, juga mencuat sebagai kandidat pengganti Menteri Luar Negeri jika terjadi perombakan kabinet. Budisatrio merupakan adik dari Thomas Djiwandono.
Sinyal mengenai kemungkinan Budisatrio berpindah dari legislatif ke eksekutif pertama kali disampaikan oleh Ketua Komisi I DPR RI.
“Mohon izin, di depan ada Pak Menhan, Panglima, dan Kepala BIN yang hadir itu menjadi daya tarik luar biasa. Kalau katanya orang sebelah kanan saya, yang dugaan saya sebentar lagi akan di eksekutif: You cannot beat the band with uniform,” ujar Ketua Komisi I DPR RI saat membuka rapat kerja bersama Menteri Pertahanan, Panglima TNI, dan Kepala Badan Intelijen Nasional (BIN) di DPR RI.
Menanggapi hal tersebut, Budisatrio menegaskan bahwa saat ini ia masih bertugas sebagai Wakil Ketua Komisi I DPR RI. Ia meminta awak media untuk menanyakan isu tersebut kepada pihak yang sebelumnya memberikan sinyal. “Nggak tahu, makanya tanyakan kepada yang bersangkutan. Tugas kita tetap sekarang di Komisi I,” tegas Budisatrio.
Analisis Pengamat Politik Terkait Terpilihnya Thomas Djiwandono
Pengamat politik, Arifki Chaniago, memberikan pandangannya terkait terpilihnya Thomas Djiwandono menjadi Deputi Gubernur BI. Ia menilai bahwa hal ini dapat menjadi pintu masuk bagi Prabowo Subianto untuk melakukan reshuffle kabinet. Meskipun hanya Thomas yang mengalami perubahan jabatan, Arifki berpendapat bahwa dinamika politik seringkali membuat perubahan personalia merembet lebih luas.
“Dalam politik, kursi kosong jarang berhenti sebagai urusan teknis. Ia sering menjadi bola liar yang memicu evaluasi ke pos-pos lain,” kata Arifki.
Ia menambahkan bahwa posisi Wamenkeu berada di sektor strategis, sehingga kekosongannya dapat berkembang menjadi sinyal bahwa presiden sedang mengevaluasi efektivitas kabinet. Hal inilah yang kemudian memicu isu reshuffle lainnya mulai beredar.
“Kekosongan ini bisa menjadi efek domino. Bukan berarti reshuffle pasti melebar, tetapi membuka ruang bagi presiden untuk sekalian melakukan penyelarasan di kementerian lain,” jelasnya.
Arifki menilai bahwa apakah reshuffle akan merembet atau tidak sepenuhnya bergantung pada keputusan Presiden Prabowo Subianto. Jika presiden memilih langkah minimal, penggantian bisa berhenti di level wakil menteri. Namun, jika presiden menilai ada sektor lain yang perlu diperkuat, reshuffle menteri lain menjadi opsi yang rasional.
“Ini momentum yang sering disebut sebagai sekalian berbenah. Presiden bisa saja memanfaatkan satu kursi kosong untuk menata ulang lebih dari satu pos,” pungkasnya.
















