Gerakan Inisiatif Umat: Majelis Ta’lim Jalsatul Inat Hadirkan Oase Ilmu di Tengah Permukiman
Di tengah hiruk pikuk kehidupan perkotaan, sebuah inisiatif mulia muncul dari keprihatinan mendalam terhadap kondisi lingkungan sekitar. Ustadz Muhammad Sarbani, seorang tokoh agama yang berdedikasi, mengambil langkah berani untuk mendirikan sebuah pusat pembelajaran agama di kediamannya sendiri. Inilah lahirnya Majelis Ta’lim Jalsatul Inat, sebuah wadah yang dirancang khusus untuk membawa cahaya ilmu agama langsung ke depan pintu rumah para tetangga.
Motivasi utama di balik pendirian majelis ini bukanlah sekadar menambah jumlah majelis taklim yang sudah ada di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Sebaliknya, Ustadz Sarbani memiliki misi yang lebih besar: merangkul mereka yang selama ini belum memiliki rutinitas untuk hadir ke majelis ilmu.
“Meskipun sudah banyak majelis taklim yang berdiri, masih cukup banyak saudara muslim kita, khususnya para tetangga, yang belum rutin menghadiri majelis ilmu. Dari sinilah muncul niat untuk menghadirkan majelis di kediaman saya sendiri,” ungkap Ustadz Muhammad Sarbani dalam sebuah perbincangan.
Berbeda dengan kebanyakan majelis taklim yang cenderung lebih menonjolkan aspek shalawat dan qasidah, Jalsatul Inat memilih jalur yang lebih serius dalam pendalaman literasi agama. Ustadz Sarbani sangat menekankan pentingnya kajian keilmuan yang sistematis dan mendalam.
Fondasi Keilmuan yang Kokoh: Mengusung Semangat “Mazharuna Mazharul ‘Ilm”
Pedoman utama yang menjadi pegangan teguh Ustadz Sarbani adalah pesan berharga dari Guru Mulia Al-Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf dari Pasuruan. Pesan tersebut berbunyi, “Mazharuna Mazharul ‘Ilm,” yang secara harfiah berarti penampilan dan perilaku kita haruslah mencerminkan ilmu yang telah dipelajari.
“Ini bukan soal pamer atau riya’, melainkan bagaimana akhlak kita sehari-hari menjadi buah dari ilmu yang kita serap dari para guru. Terutama, ilmu yang bersambung ke para ulama Hadhramaut di Tarim, Yaman,” jelas Ustadz Sarbani.
Oleh karena itu, porsi pengajian di majelis ini dirancang lebih panjang. Pembacaan maulid, seperti Maulid Abdiya Ul Lamiah karya Al-Habib Umar bin Hafiz, disampaikan secara ringkas. Tujuannya adalah agar waktu lebih banyak terserap untuk pembahasan kitab-kitab agama yang mendalam.
Makna Spiritual di Balik Nama “Jalsatul Inat”
Nama “Jalsatul Inat” sendiri bukanlah sekadar penamaan biasa, melainkan memiliki makna spiritual yang sangat mendalam. Nama ini diberikan langsung oleh Al-Habib Hasan bin Ismail Al-Muhdhor dari Probolinggo.
Secara harfiah, “Jalsatul Inat” dapat diartikan sebagai “Tempat Berkumpul di Inat”. Pemilihan nama ini merupakan bentuk tabarruk atau upaya mengambil keberkahan dari seorang waliullah besar, yaitu Al-Syekh Abu Bakar bin Salim yang berasal dari Kota Inat, Hadhramaut.
“Bagi kami, ini bukan sekadar nama, tetapi sebuah doa. Doa agar semangat keilmuan dan ketawadhu’an para ulama Hadhramaut senantiasa mengalir di majelis ini,” tambahnya dengan penuh harap.
Perjuangan dan Adaptasi: Mengatasi Tantangan di Masa Perintisan
Perjalanan dalam membangun majelis ini tentu tidaklah instan. Di masa-masa perintisan, Ustadz Sarbani memulai segalanya dengan sarana yang sangat terbatas. Ruangan rumah yang sederhana dan sistem suara dengan kualitas yang kurang optimal menjadi saksi bisu perjuangan beliau.
Tantangan juga datang dari segi teknis waktu. Awalnya, majelis seringkali berlangsung hingga larut malam, yang tentu saja menyulitkan sebagian jamaah untuk hadir secara rutin. Namun, Ustadz Sarbani menunjukkan sikap adaptif yang luar biasa. Beliau kini membatasi durasi majelis maksimal hingga pukul 22.00 WITA, agar lebih banyak jamaah yang dapat berpartisipasi.
Buah Kesabaran: Fasilitas yang Semakin Nyaman dan Dukungan Masyarakat
Kesabaran dan ketekunan Ustadz Sarbani mulai membuahkan hasil yang manis. Berkat semangat gotong royong dari para jamaah dan para dermawan, majelis ini telah berhasil direnovasi dan kini memiliki fasilitas yang jauh lebih nyaman.
Dukungan dari masyarakat pun mengalir secara unik dan organik. “Masyarakat secara sukarela membantu kami. Ada yang rutin menyumbang beras, bahkan ada donatur yang setiap minggunya menghadiahkan ayam, ada yang satu ekor hingga sepuluh ekor, untuk kebutuhan majelis,” kenang Ustadz Sarbani dengan rasa syukur yang mendalam.
Membina Generasi Muda dan Memanfaatkan Teknologi
Majelis Jalsatul Inat tidak hanya menyasar kalangan dewasa, tetapi juga menjadi tempat pembinaan yang penting bagi generasi muda. Di luar jadwal rutin yang diadakan setiap malam Selasa (menjelang malam Rabu), Ustadz Sarbani secara khusus membina anak-anak muda. Materi yang diajarkan sangat mendalam, mencakup Nahwu (tata bahasa Arab), Sharaf (morfologi Arab), Fikih (hukum Islam), dan Tauhid (keesaan Allah), dengan menggunakan kitab-kitab standar yang biasa diajarkan di pesantren.
Seiring dengan perkembangan pesat teknologi, pengajian di Majelis Jalsatul Inat kini juga ditayangkan secara langsung melalui platform YouTube. Hal ini bertujuan agar para jamaah yang berhalangan hadir secara fisik tetap dapat mengikuti kajian ilmu dan mendapatkan manfaatnya.
“Harapan saya, majelis ini terus menjadi pusat pembelajaran yang bermanfaat bagi umat. Pesan saya untuk seluruh jamaah adalah untuk tetap istiqomah dalam menuntut ilmu. Mari jadikan majelis ini sebagai ruang belajar yang tidak hanya menumbuhkan rasa persaudaraan (ukhuwah), tetapi juga membawa keberkahan bagi lingkungan sekitar kita,” pungkas Ustadz Muhammad Sarbani, mengakhiri perbincangan.



















