Santriwati Hilang Misterius dari Pondok Pesantren di Depok, Polisi Lakukan Pencarian Intensif
Seorang santriwati berusia 17 tahun dilaporkan menghilang dari Pondok Pesantren Al Muhajirin, yang berlokasi di Kampung Cilangkap RT5/16, Kelurahan Cilangkap, Kecamatan Tapos, Kota Depok. Kepergiannya yang mendadak terjadi sejak Senin sore, 2 Februari 2026, dan hingga kini pihak kepolisian masih berupaya keras menemukan keberadaannya.
Santriwati yang hilang ini lahir di Jakarta pada tanggal 12 April 2008. Secara administratif, ia tercatat memiliki alamat di Desa Danasaei, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal.
Kapolsek Cimanggis, Kompol Jupriono, membenarkan adanya laporan kehilangan tersebut. Beliau menjelaskan bahwa laporan diterima oleh pihak kepolisian setelah pihak pesantren menyadari bahwa santriwati tersebut tidak berada di lingkungan pondok. “Benar, sampai saat ini belum ditemukan,” ujar Kompol Jupriono pada Senin, 23 Februari 2026, saat dikonfirmasi.
Sepucuk Surat Menjadi Petunjuk Awal
Proses pencarian santriwati ini menemui titik terang awal ketika teman sekamarnya menemukan sepucuk surat yang tergeletak di atas lemari kamar asrama. Surat tersebut diduga kuat ditulis oleh korban sebelum meninggalkan pondok. Isi surat itu cukup mengejutkan dan memberikan sedikit gambaran mengenai kepergiannya:
SAYA MEMINTA MAAF UMI DAN USTADZ SERTA TEMAN-TEMAN BAHWA SAYA INGIN PERGI GATAU BERAPA LAMA DAN GATAU KEMANA TOLONG JANGAN KASIH TAU ORANGTUA SAYA JUGA DAN JANGAN DICARI, DAN SAYA MEMINTA TOLONG UNTUK BAYARKAN SEMPOL SAYA SEBESAR RP 2.500.
Surat ini menjadi salah satu petunjuk penting dalam investigasi yang sedang berlangsung. Meskipun demikian, polisi belum dapat menyimpulkan motif pasti di balik keputusan santriwati tersebut untuk meninggalkan pondok.
“Kami masih mendalami kenapa meninggalkan pondok. Selain mencari, kami mengimbau apabila masyarakat melihat atau mengetahui keberadaan yang bersangkutan agar segera melapor ke Polsek Cimanggis,” tegas Kompol Jupriono.
Aparat kepolisian tidak hanya melakukan pencarian di lapangan, tetapi juga berkoordinasi erat dengan pihak keluarga santriwati serta pengurus pondok pesantren untuk memastikan keselamatannya.
Kronologi Hilangnya Santriwati
Peristiwa ini bermula pada hari Senin, 2 Februari 2026, sekitar pukul 16.30 WIB. Pada waktu tersebut, Pondok Pesantren Al Muhajirin sedang menggelar pengajian rutin yang dihadiri oleh seluruh santri. Namun, santriwati yang dilaporkan hilang ini tidak terlihat mengikuti kegiatan tersebut.
Setelah acara pengajian selesai, teman-teman dekatnya bersama dengan pengurus pondok pesantren berinisiatif untuk memeriksanya di kamar asrama. Setelah dilakukan pencarian di kamar, termasuk di tempat tidurnya, serta di area sekitar pesantren, korban tidak juga ditemukan.
Pencarian internal yang dilakukan oleh pihak pesantren terus berlanjut hingga malam hari, namun sayangnya belum membuahkan hasil.
Saksi Mata dan Upaya Pencarian Lanjutan
Keesokan harinya, pada Selasa, 3 Februari 2026, sekitar pukul 20.00 WIB, muncul kesaksian dari seorang alumni pondok pesantren bernama Fauzan. Fauzan mengaku sempat melihat korban berada di depan sekolah di daerah Cilodong.
Menurut keterangan Fauzan, ia sempat memanggil korban, namun tidak mendapatkan respons. Saksi mata tersebut juga menyebutkan bahwa kondisi wajah korban saat itu terlihat pucat. Setelah pertemuan singkat tersebut, keberadaan korban kembali tidak diketahui hingga saat ini.
“Kami sudah memeriksa sejumlah saksi, termasuk teman sekamar dan pengurus pondok. Kami juga melakukan pengecekan rekaman CCTV di sekitar lokasi serta menyebarkan informasi melalui media sosial,” jelas Kompol Jupriono mengenai upaya pencarian yang telah dilakukan.
Pihak kepolisian terus bekerja keras untuk mengungkap misteri hilangnya santriwati ini dan berharap masyarakat dapat memberikan informasi yang dapat membantu proses pencarian. Laporan kehilangan ini menjadi perhatian serius, mengingat usia korban yang masih sangat muda dan situasi yang penuh tanda tanya.
















