Netanyahu Dituding Sengaja Serang Iran Jelang 30 Maret: Apa Tujuannya?

Diposting pada

Dinamika Politik Israel: Perang dan Nasib Pemerintahan Netanyahu

Konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah, khususnya ketegangan dengan Iran, menjadi sorotan utama yang memengaruhi lanskap politik domestik Israel. Banyak pengamat meyakini bahwa arah dan durasi perang saat ini memiliki kaitan erat dengan upaya Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk memulihkan citra publiknya yang sempat tergerus pasca-serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Pemilu Israel yang dijadwalkan paling lambat pada Oktober 2026 menjadi latar belakang krusial dalam analisis ini.

Popularitas yang Tergerus

Sebelum eskalasi konflik saat ini, popularitas Benjamin Netanyahu dilaporkan mengalami penurunan drastis. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh serangan Hamas yang mematikan pada 7 Oktober 2023, yang dianggap oleh banyak pihak sebagai kegagalan intelijen dan keamanan di bawah kepemimpinannya. Para kritikus menuding Netanyahu berusaha menghindari tanggung jawab atas insiden tersebut.

Sebagai perdana menteri terlama dalam sejarah Israel dengan total masa jabatan lebih dari 18 tahun, Netanyahu menghadapi tantangan politik yang signifikan. Sejak pertengahan tahun 2025, ia telah kehilangan mayoritas parlemen akibat krisis politik yang melibatkan sekutu ultra-Ortodoksnya. Tekanan politik ini diperparah dengan berlanjutnya persidangan kasus korupsi yang telah lama dihadapinya. Laporan bahkan menyebutkan bahwa Netanyahu telah mengajukan permohonan pengampunan kepada Presiden Israel, Isaac Herzog, dengan dukungan dari mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Upaya Memulihkan Citra Melalui Konflik Iran

Dalam konteks ini, sejumlah analis menilai bahwa Netanyahu mungkin melihat konflik dengan Iran sebagai momentum strategis untuk membalikkan keadaan politiknya. Laporan mengenai serangan gabungan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran, yang dikabarkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, semakin memperkuat spekulasi ini. Netanyahu sendiri menegaskan bahwa kedekatannya dengan Washington memainkan peran krusial dalam operasi tersebut, memungkinkan Israel untuk melakukan serangan besar terhadap Iran yang telah lama diinginkan.

Emmanuel Navon, seorang analis politik dari Universitas Tel Aviv, berpendapat bahwa Netanyahu kemungkinan besar akan mempercepat jadwal pemilihan umum. “Sudah jelas. Dia tidak akan menunggu sampai Oktober mengingat peringatan 7 Oktober,” ujar Navon, menekankan bahwa posisi politik Netanyahu yang sempat berada di titik terendah kini berangsur membaik. Navon menyoroti serangkaian keberhasilan militer Israel terhadap Hamas, Hizbullah, dan Iran sejak dimulainya perang Gaza, yang menurutnya telah membalikkan keadaan.

Jajak pendapat yang beredar menunjukkan bahwa Partai Likud, partai yang dipimpin Netanyahu, diperkirakan akan unggul jika pemilu digelar dalam waktu dekat. Namun, partai tersebut masih berpotensi kekurangan mayoritas bersama sekutu-sekutunya saat ini. Para pengamat meyakini bahwa kemenangan militer yang signifikan atas Iran dapat mengubah kalkulasi politik ini secara substansial.

Michael Horowitz, seorang analis geopolitik independen, sependapat bahwa serangan terhadap Iran memperkuat citra yang ingin dibangun Netanyahu, yaitu citra “kemenangan total”. “Serangan ini tak dapat disangkal memperkuat citra yang ingin dipupuk Netanyahu, citra yang terkait dengan slogan ‘kemenangan total’-nya,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Netanyahu ingin menunjukkan bahwa ini bukan sekadar slogan kampanye, melainkan sebuah agenda nasional dan strategi pemilu.

Tenggat Politik dan Potensi Penundaan Anggaran

Di sisi lain, beberapa pihak melihat adanya kemungkinan bahwa Netanyahu sengaja menciptakan atau memanfaatkan situasi konflik untuk menunda tenggat waktu politik domestik yang genting. Jurnalis Ouriel Deskal dari situs berita Walla bahkan berpendapat bahwa waktu pecahnya konflik bisa jadi berkaitan dengan tenggat waktu domestik. Ia menyebut Netanyahu mungkin sengaja memilih waktu perang untuk secara otomatis menunda—di bawah keadaan darurat—tenggat waktu 30 Maret untuk mengesahkan anggaran negara. Pengesahan anggaran ini dilaporkan sulit memperoleh dukungan mayoritas di parlemen.

Apabila anggaran negara tersebut gagal disahkan sebelum tenggat waktu 1 April, pemerintahan Netanyahu secara otomatis akan jatuh, memaksa Israel untuk menggelar pemilihan umum lebih cepat. Dalam skenario ini, perdana menteri berusia 76 tahun tersebut dinilai akan memasuki masa kampanye dari posisi politik yang lemah, yang berpotensi merugikan upayanya untuk mempertahankan kekuasaan.

Pandangan yang Beragam Terhadap Dampak Perang

Namun, tidak semua pihak sepakat bahwa serangan ke Iran akan secara otomatis menguntungkan Netanyahu. Jurnalis Channel 13, Raviv Druker, berpendapat bahwa Netanyahu akan mencoba meyakinkan publik tentang kemenangan total, meskipun itu hanya ilusi. Ia menekankan bahwa “Hamas masih menguasai Gaza, dan Iran tetaplah Iran bahkan setelah serangan Sabtu (28/2/2026).”

Sementara itu, Emmanuel Navon berpendapat bahwa “Jika perang melawan Iran ini sukses bagi Israel, itu akan menjadi kemenangan politik bagi Netanyahu.” Namun, Michael Horowitz mengingatkan adanya risiko jika konflik berkepanjangan. “Toleransi publik terhadap perang berkepanjangan dengan korban jiwa yang besar, ditambah biaya hidup tinggi, tetap sangat rendah,” ujarnya.

Insiden serangan rudal Iran pada Juni 2025 yang menewaskan 30 orang di Israel, dan laporan 10 orang tewas akibat serangan balasan Iran sejak Sabtu, menyoroti biaya kemanusiaan dari konflik ini. Horowitz menekankan bahwa dukungan publik lebih banyak tertuju kepada militer Israel daripada kepada Netanyahu secara pribadi. “Kemenangan Israel terutama disebabkan oleh tentara dan ketahanan warga sipil, yang memungkinkan negara itu untuk melancarkan perang terpanjang dalam sejarahnya,” katanya. “Popularitas tentara meningkat, bukan popularitas Netanyahu.”

Dengan dinamika politik domestik yang terus berubah dan ketidakpastian arah konflik di Timur Tengah, nasib pemerintahan Benjamin Netanyahu dalam beberapa bulan mendatang akan sangat bergantung pada bagaimana ia mampu menavigasi tantangan internal dan eksternal ini. Faktor-faktor seperti keberhasilan militer, persepsi publik terhadap kepemimpinan, dan stabilitas ekonomi akan menjadi penentu krusial dalam menentukan masa depan politik Israel.

Gambar Gravatar
Rizki merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan