Seorang pengacara olahraga, Zhafri Aminurashid, telah menyuarakan keraguan mengenai keputusan Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) yang berkaitan dengan tujuh pemain naturalisasi. Menurut Zhafri, putusan CAS sebelumnya menunjukkan pola penanganan yang berbeda terhadap sengketa kelayakan yang melibatkan masalah dokumentasi. Ia berpendapat bahwa sanksi yang dijatuhkan kepada para pemain dalam kasus serupa di masa lalu cenderung terbatas, terutama ketika kesalahan administratif berasal dari asosiasi sepak bola.
Analisis Perbandingan Kasus Sebelumnya
Zhafri Aminurashid menyatakan bahwa setelah CAS merilis putusan operatifnya, ia melakukan tinjauan terhadap putusan-putusan CAS sebelumnya yang memiliki fakta serupa. Kasus-kasus ini melibatkan penggunaan dokumen yang tidak sah dalam proses pendaftaran untuk mewakili negara lain. Tujuannya adalah agar publik dapat mengevaluasi apakah sanksi yang dijatuhkan dalam kasus terbaru ini sudah proporsional.
Salah satu contoh yang ia kutip adalah kasus CAS 2016/A/4831. Dalam kasus tersebut, beberapa pemain terbukti menggunakan dokumen kelahiran atau kewarganegaraan yang tidak sah untuk bermain bagi tim nasional. FIFA, dalam penanganannya, menjatuhkan sanksi skorsing sekitar 10 pertandingan internasional kepada para pemain yang terlibat. Namun, penting untuk dicatat bahwa para pemain tersebut masih diizinkan untuk bermain bagi klub mereka masing-masing. FIFA juga mempertimbangkan peran pejabat federasi yang memiliki pengaruh signifikan dalam proses pendaftaran pemain, yang pada akhirnya mengurangi tingkat kesalahan yang dibebankan kepada para pemain.
Kasus Javier Eduardo Portillo dan Pedro Miguel
Perbandingan kasus juga mencakup pemain internasional Argentina, Javier Eduardo Portillo. Kasus Portillo menimbulkan pertanyaan serupa mengenai keabsahan dokumen yang digunakan untuk mewakili tim nasional. Setelah melalui proses peninjauan dan banding dalam struktur hukum FIFA serta argumen di hadapan CAS, tindakan yang diambil lebih berfokus pada pembatasan kelayakan untuk mewakili tim nasional, bukan menjatuhkan sanksi larangan bermain jangka panjang.
Kasus lain yang disorot adalah pemain internasional Qatar, Pedro Miguel. Kelayakan Pedro Miguel sempat dipertanyakan oleh beberapa asosiasi sepak bola terkait dokumen dan status kewarganegaraannya. Namun, setelah melalui pengawasan FIFA dan proses yang terkait dengan CAS, tidak ada sanksi olahraga yang dijatuhkan kepada pemain tersebut. Masalah ini akhirnya ditangani sebagai isu administratif semata.
Perbedaan antara Kesalahan Administratif dan Kecurangan
Menurut Zhafri, putusan-putusan sebelumnya menunjukkan kecenderungan CAS untuk membedakan antara kesalahan administratif dan kecurangan yang disengaja oleh para pemain. Ia menyoroti bahwa selama proses banding, Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) sendiri telah mengakui tanggung jawab atas kelemahan dalam pengawasan mereka. Namun, Zhafri merasa aneh bahwa CAS tetap menjatuhkan hukuman berat kepada para pemain meskipun FAM telah mengakui adanya kesalahan di pihak mereka.
Zhafri menambahkan bahwa alasan hukum yang mendasari putusan CAS ini baru akan sepenuhnya dipahami setelah putusan tertulis lengkapnya dirilis.
Kronologi Sanksi FIFA dan CAS
Sebagai informasi, pada hari Kamis, CAS menguatkan denda FIFA sebesar 350.000 franc Swiss (sekitar Rp7,6 miliar) yang ditujukan kepada FAM. Selain itu, CAS juga menguatkan sanksi larangan bermain selama 12 bulan kepada tujuh pemain naturalisasi Timnas Malaysia setelah banding mereka ditolak.
Sebelumnya, FIFA telah menjatuhkan sanksi kepada FAM dan ketujuh pemain tersebut atas dugaan pemalsuan dokumen yang berkaitan dengan kelayakan mereka untuk bermain di tim nasional. CAS sempat memberikan penangguhan sementara terhadap sanksi FIFA yang dijatuhkan kepada ketujuh pemain tersebut, sehingga mereka diizinkan untuk kembali bermain bersama klub masing-masing.
Namun, setelah CAS mengumumkan keputusan finalnya, sanksi FIFA tersebut kembali berlaku. Ketujuh pemain naturalisasi Timnas Malaysia yang terlibat dalam kasus ini kini harus menjalani kembali sanksi FIFA berupa larangan bermain selama 12 bulan. Laporan yang ada menyebutkan bahwa larangan bermain ini hanya berlaku untuk turnamen atau kompetisi resmi.
Dampak dan Implikasi
Keputusan CAS ini menimbulkan pertanyaan signifikan mengenai keadilan dan konsistensi dalam penegakan aturan kelayakan pemain. Perbandingan dengan kasus-kasus sebelumnya menunjukkan adanya potensi perbedaan dalam bobot sanksi yang dijatuhkan, tergantung pada bagaimana kesalahan tersebut dikategorikan dan siapa yang dianggap paling bertanggung jawab. Pengakuan FAM atas kesalahan administratif mereka seharusnya menjadi faktor mitigasi yang kuat, namun tampaknya tidak sepenuhnya mempengaruhi keputusan akhir CAS dalam kasus ini. Publik dan para pemangku kepentingan sepak bola akan menantikan rincian lengkap dari putusan tertulis CAS untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam mengenai dasar pertimbangan hukum yang digunakan.




