Harapan Baru Pengemudi Ojol Bekasi: Apartemen Subsidi di Cikarang, Cicilan Diimpikan di Bawah Rp1 Juta
Kabupaten Bekasi – Sebuah angin segar berembus bagi para pengemudi ojek online (ojol) di Kabupaten Bekasi. Program pembangunan apartemen subsidi yang digagas pemerintah di kawasan Cikarang disambut antusias oleh para pekerja berpenghasilan terbatas. Mereka berharap program ini dapat membuka pintu kepemilikan hunian yang selama ini terasa sulit dijangkau akibat keterbatasan ekonomi dan tingginya harga properti.
Ketua Grab Militan Kabupaten Bekasi, Arief, yang akrab disapa Panglima, menyampaikan bahwa program perumahan bersubsidi ini merupakan jawaban atas mimpi banyak anggotanya untuk memiliki tempat tinggal yang layak. “Setiap orang pasti punya mimpi memiliki tempat tinggal. Dengan adanya program rumah bersubsidi dari pemerintah ini tentu sangat membantu kami, terutama pekerja kelas bawah seperti ojol,” ujar Arief pada Senin (9/3/2026).
Selama ini, banyak pengemudi ojek online menghadapi kenyataan pahit: penghasilan yang pas-pasan dan harga properti yang melambung tinggi membuat impian memiliki rumah sendiri menjadi sekadar angan-angan. Program ini diharapkan dapat menjadi jembatan bagi para pekerja informal untuk akhirnya memiliki aset berupa tempat tinggal yang aman dan nyaman.
Namun, di balik antusiasme tersebut, terselip harapan besar agar skema pembiayaan yang ditawarkan benar-benar terjangkau. Para pengemudi ojol secara spesifik berharap agar cicilan bulanan untuk unit apartemen subsidi ini dapat ditekan di kisaran di bawah Rp1 juta per bulan. “Tadi kami juga sempat menyampaikan ke Menteri, kalau bisa cicilannya di bawah Rp1 juta supaya teman-teman ojol juga mampu membayar,” ungkap Arief.
Selain keringanan cicilan, Arief juga menekankan pentingnya percepatan proses pembangunan dan penyederhanaan prosedur pengajuan program. “Harapan kami sebagai calon penerima manfaat, pembangunan bisa cepat dilaksanakan dan prosedurnya dipermudah supaya rakyat bisa segera merasakan manfaatnya,” tambahnya.
Proyek Kolosal: 140.000 Unit Hunian Muncul dari Lahan 30 Hektare
Pembangunan apartemen subsidi ini bukan sekadar proyek kecil. Pemerintah bersama para pelaku usaha telah memulai pembangunan di kawasan Meikarta, Cikarang, yang berlokasi di atas lahan seluas 30 hektare. Lahan ini merupakan hibah dari Lippo Group sebagai bentuk dukungan terhadap program nasional pembangunan 3 juta rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang menjadi prioritas utama pemerintahan Presiden Prabowo.
Acara groundbreaking yang menandai dimulainya pembangunan ini dihadiri oleh tokoh-tokoh penting, termasuk Ketua Satuan Tugas Perumahan Hashim Djojohadikusumo, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait, CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani, jajaran pemerintah daerah, serta pendiri Lippo Group, Mochtar Riady dan James Riady, pada Minggu (8/3/2026).
Proyek ambisius ini ditargetkan menghasilkan sekitar 140.000 unit hunian vertikal. Angka ini diperkirakan setara dengan kurang lebih 5 persen dari target nasional pembangunan 3 juta rumah.
James Riady, CEO Lippo Group, menyatakan bahwa hibah lahan ini merupakan wujud komitmen pihaknya untuk mendukung program pemerintah dalam menyediakan hunian yang layak bagi masyarakat. “Alasan kami menghibahkan tanah ini karena mendukung Presiden yang punya hati untuk rakyat,” ujar James Riady.
Mengatasi Kesenjangan Hunian: Program Prioritas Nasional
Hashim Djojohadikusumo, Ketua Satgas Perumahan sekaligus Utusan Khusus Presiden, menyoroti besarnya kebutuhan akan rumah layak huni di Indonesia. Berdasarkan data pemerintah, diperkirakan terdapat sekitar 9 hingga 15 juta keluarga yang belum memiliki rumah sama sekali, sementara sekitar 27 juta rumah tangga masih menghuni hunian yang tidak layak.
Kondisi ini menjadikan pembangunan perumahan sebagai salah satu program prioritas pemerintah. “Program 3 juta rumah per tahun menjadi bagian dari strategi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelas Hashim.
Lebih lanjut, Hashim menambahkan bahwa sektor perumahan memiliki efek ganda yang signifikan terhadap perekonomian nasional. Pembangunan satu unit rumah saja dapat menggerakkan lebih dari 180 sektor industri, mulai dari material bangunan, tenaga kerja, hingga jasa terkait.
Selain proyek di Cikarang, pemerintah juga tengah menjajaki beberapa lokasi lain untuk pengembangan hunian vertikal. Salah satunya adalah di Depok, yang direncanakan akan memanfaatkan sekitar 45 hektare lahan untuk pembangunan ratusan ribu unit rumah.
Langkah Selanjutnya: Perencanaan Matang dan Skema Terjangkau
Setelah peninjauan lokasi di Cikarang, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman bersama Danantara Indonesia akan melanjutkan tahapan pematangan konsep pembangunan. Proses ini mencakup penyusunan skema pengembangan kawasan yang komprehensif, mekanisme penentuan harga yang adil, serta kriteria pembelian yang jelas bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, menyampaikan apresiasinya yang mendalam kepada pendiri Lippo Group, Mochtar Riady beserta keluarga, atas hibah lahan yang diberikan. “Ini bukan sekadar komitmen, tetapi lahir dari rasa kebersamaan dan kemanusiaan yang luar biasa untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah,” ucap Maruarar Sirait. Ia menambahkan bahwa pembangunan di lahan tersebut akan dilaksanakan secara bertahap dan diproyeksikan dapat menyediakan sekitar 140 ribu unit apartemen bagi MBR.
CEO Danantara, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa peninjauan lokasi merupakan langkah awal krusial untuk memastikan pengembangan hunian bagi MBR berjalan secara terencana dan berkelanjutan. “Penyediaan hunian yang layak dan terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah merupakan salah satu prioritas pembangunan nasional,” pungkasnya.



















