Pemerintah Indonesia mengumumkan rencana strategis untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai inisiatif. Salah satu langkah utama adalah penerbitan surat utang negara (SUN) dalam mata uang renminbi (CNH), yang dikenal sebagai Panda Bond. Langkah ini bertujuan untuk diversifikasi sumber pembiayaan dan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa Panda Bond dirancang sebagai alternatif pendanaan yang memiliki potensi biaya lebih rendah dibandingkan dengan pembiayaan berbasis dolar. Ia menilai, inisiatif ini dapat membantu memperluas basis investor internasional serta mengurangi ketergantungan terhadap satu mata uang tertentu.
“Kami akan menerbitkan Panda Bond di Tiongkok dengan bunga yang lebih rendah, sehingga kita tidak terlalu bergantung pada dolar,” ujarnya dalam konferensi pers di Istana Merdeka Jakarta pada Selasa (5/5).
Purbaya menekankan bahwa penerbitan Panda Bond merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk menciptakan struktur utang yang lebih terdiversifikasi. “Diversifikasi ini akan membuat posisi keuangan kita lebih baik ke depannya,” tambahnya.
Langkah ini diambil setelah pemerintah mengikuti rapat terbatas bersama Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dan Presiden Prabowo Subianto. Dalam rapat tersebut, hadir juga Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Frederica Widyasari Dewi, serta Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga turut serta dalam pertemuan tersebut.
Selain penerbitan Panda Bond, BI telah merancang tujuh langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Salah satunya adalah memperketat pembelian dolar AS. Sebelumnya, batas pembelian dolar per orang per bulan adalah US$ 100 ribu, tetapi sekarang diturunkan menjadi US$ 25 ribu. “Pembelian dolar di atas atau sama dengan US$ 25 ribu harus menggunakan underlying,” jelas Perry Warjiyo.
Panda Bond bukanlah hal baru bagi pemerintah. Pada Oktober 2025, pemerintah telah menerbitkan surat utang serupa yang disebut Dim Sum Bond. Penerbitan ini dibagi menjadi dua seri, yaitu:
- Seri RICNH1030: memiliki tenor 5 tahun dengan jatuh tempo pada 31 Oktober 2030.
- Seri RICNH1035: memiliki tenor 10 tahun dengan jatuh tempo pada 31 Oktober 2035.
Tanggal penawaran dimulai pada 23 Oktober 2025 dan penerbitan selesai pada 31 Oktober 2025. Total penerbitan mencapai CNH 6 miliar, terdiri dari CNH 3,5 miliar untuk tenor 5 tahun dan CNH 2,5 miliar untuk tenor 10 tahun.
Inisiatif ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menghadapi tantangan ekonomi global sambil tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Dengan diversifikasi sumber pembiayaan, pemerintah berharap bisa memperkuat posisi keuangan negara secara keseluruhan.



















