Nelayan Hilang di Perairan Nusa Penida Ditemukan Meninggal di Lombok
Seorang nelayan asal Semawang, Sanur, Denpasar, yang sebelumnya dilaporkan hilang saat beraktivitas melaut di perairan selatan Nusa Penida, akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Jenazah korban ditemukan di Perairan Kerandangan, Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Minggu, 8 Maret 2026, sekitar pukul 11.21 Wita.
Penemuan jenazah ini pertama kali dilaporkan oleh Bapak Kacimong, seorang nelayan lokal yang berasal dari Karangdangan, Senggigi. Menurut keterangan dari Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Denpasar, I Nyoman Sidakarya, kondisi jenazah saat ditemukan dalam posisi tertelungkup. Ciri-ciri pakaian yang dikenakan oleh jenazah tersebut juga dilaporkan mirip dengan pakaian yang dikenakan oleh nelayan yang hilang di perairan selatan Nusa Penida.
“Kondisi jenazah saat ditemukan dalam posisi telungkup, ciri ciri pakaian mirip dengan yang dilaporkan hilang di perairan selatan Nusa Penida, kemudian kita koordinasikan dengan Kantor SAR Mataram,” jelas Nyoman Sidakarya.
Setelah koordinasi dilakukan, proses evakuasi jenazah segera dilaksanakan oleh personel Unit Siaga SAR Bangsal, Senggigi. Jenazah korban kemudian dibawa menuju Rumah Sakit Bhayangkara Mataram menggunakan ambulans milik Kantor Desa Senggigi, Lombok.
Pihak keluarga korban telah memberikan konfirmasi bahwa jenazah yang ditemukan adalah anggota keluarga mereka yang hilang saat melaut di perairan Nusa Penida. Saat ini, keluarga masih menunggu proses selanjutnya untuk pemulangan jenazah ke Bali.
Sebelum jenazah ditemukan, upaya pencarian intensif telah dilakukan oleh tim SAR gabungan. Pencarian ini mengerahkan dua armada utama: sebuah Rigid Inflatable Boat (RIB) dari Basarnas dan satu unit Rubber Boat dari Balawista Pantai Sanur.
Tim yang menggunakan RIB Basarnas terdiri dari lima personel. Mereka menyisir perairan ke arah barat dari lokasi kejadian terakhir yang diketahui, dengan radius pencarian mencapai 20 Nautical Miles (NM). Sementara itu, tim yang menggunakan rubber boat melakukan pencarian di sepanjang pesisir Pantai Sanur, memastikan tidak ada area yang terlewat.
Dengan ditemukannya jenazah I Wayan Suta, Operasi Pencarian dan Pertolongan (SAR) yang telah berlangsung dinyatakan resmi ditutup. Seluruh unsur SAR yang terlibat kemudian kembali ke kesatuan masing-masing setelah menjalankan tugasnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan bahaya yang mengintai para nelayan ketika beraktivitas di laut, terutama di perairan yang memiliki arus kuat dan kondisi cuaca yang tidak menentu. Perairan selatan Nusa Penida memang dikenal memiliki karakteristik laut yang cukup menantang.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keselamatan Pelaut
Keamanan pelaut saat melaut sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari sisi individu maupun lingkungan. Memahami faktor-faktor ini dapat membantu dalam mitigasi risiko dan pencegahan kecelakaan laut.
- Kondisi Cuaca dan Laut:
Perubahan cuaca yang mendadak, seperti angin kencang, gelombang tinggi, dan badai, merupakan ancaman serius bagi keselamatan pelaut. Arus laut yang kuat juga dapat menyulitkan navigasi dan mengganggu stabilitas kapal. - Kondisi Kapal dan Peralatan:
Kelaikan kapal, termasuk mesin, lambung, dan peralatan navigasi, sangat krusial. Kerusakan pada salah satu komponen kapal dapat menyebabkan kecelakaan. Selain itu, ketersediaan dan kelayakan alat keselamatan seperti pelampung, sekoci, dan radio komunikasi juga menjadi penentu. - Kemampuan dan Pengalaman Pelaut:
Keahlian navigasi, pemahaman tentang kondisi laut, serta kemampuan mengambil keputusan yang cepat dan tepat di bawah tekanan adalah modal utama bagi seorang pelaut. Pengalaman juga mengajarkan pelaut untuk mengenali tanda-tanda bahaya dan cara menghadapinya. - Perencanaan Pelayaran:
Perencanaan yang matang sebelum berangkat melaut sangat penting. Ini mencakup penentuan rute, perkiraan cuaca, dan informasi mengenai area pelayaran. Pelaut juga perlu menginformasikan rencana pelayaran mereka kepada pihak yang berwenang atau keluarga. - Faktor Lingkungan:
Keberadaan objek berbahaya di laut, seperti karang, bangkai kapal, atau lalu lintas kapal besar, juga dapat meningkatkan risiko kecelakaan.
Prosedur Pencarian dan Pertolongan
Ketika terjadi insiden orang hilang di laut, tim SAR akan segera bergerak untuk melakukan operasi pencarian dan pertolongan. Prosedur standar ini dirancang untuk memaksimalkan peluang penemuan korban.
- Pelaporan dan Pengumpulan Informasi:
Langkah pertama adalah menerima laporan dari pihak terkait (keluarga, nelayan lain, atau otoritas) mengenai hilangnya seseorang di laut. Informasi detail seperti identitas korban, waktu dan lokasi terakhir terlihat, serta ciri-ciri fisik dan pakaian korban akan dikumpulkan. - Penilaian Situasi dan Perencanaan Operasi:
Tim SAR akan menganalisis informasi yang diterima untuk menilai tingkat urgensi dan merencanakan strategi pencarian. Faktor-faktor seperti luas area pencarian, kondisi cuaca, dan ketersediaan sumber daya akan dipertimbangkan. - Mobilisasi Sumber Daya:
Tim SAR gabungan, yang melibatkan berbagai instansi seperti Basarnas, TNI AL, Polri, BPBD, dan relawan, akan dimobilisasi. Armada yang digunakan bisa berupa kapal SAR, perahu karet, helikopter, hingga pesawat terbang, tergantung pada skala operasi. - Pelaksanaan Pencarian:
Pencarian dilakukan secara sistematis di area yang telah ditentukan. Teknik pencarian dapat bervariasi, mulai dari penyisiran permukaan laut, penyelaman, hingga pemantauan dari udara. - Evakuasi dan Penanganan Korban:
Jika korban ditemukan, tim SAR akan segera melakukan evakuasi. Jika korban selamat, penanganan medis awal akan diberikan sebelum dibawa ke fasilitas kesehatan. Jika korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, jenazah akan diidentifikasi dan diserahkan kepada keluarga. - Penutupan Operasi:
Setelah korban ditemukan atau upaya pencarian dianggap telah maksimal dan tidak ada harapan lagi untuk menemukan korban, operasi SAR akan ditutup secara resmi.
Peristiwa ini diharapkan menjadi pelajaran bagi semua pihak, terutama para nelayan, untuk selalu mengutamakan keselamatan dalam setiap pelayaran. Koordinasi yang baik antara nelayan, keluarga, dan tim SAR juga sangat penting dalam menghadapi situasi darurat di laut.




