Misteri Terpecahkan: Mantan Suami Jadi Pelaku Pembunuhan Cucu Seniman Legenda Betawi
Kasus pembunuhan yang menggemparkan publik, menimpa Dewhinta Anggary, cucu dari seniman legendaris Betawi, Mpok Nori, akhirnya menemui titik terang. Pelaku yang sebelumnya menjadi teka-teki, kini teridentifikasi sebagai mantan suami korban sendiri, yang diketahui berinisial FD. Penangkapan pelaku dilakukan saat ia berupaya melarikan diri, mengakhiri serangkaian upaya pelarian pasca kejadian.
Kepala Unit Reskrim Polsek Cipayung, Iptu Edi Handoko, mengonfirmasi penangkapan FD. Ia diamankan oleh tim gabungan dari Polsek dan Polda Metro Jaya di kawasan Tol Tangerang-Merak pada Sabtu, 21 Maret 2026, sekitar pukul 13.30 WIB. “Tadi bersama-sama (tim gabungan Polsek dan Polda). Ditangkap di ruas tol arah Merak, sekarang pelaku sudah diamankan di Polda Metro Jaya,” ujar Iptu Edi Handoko di Jakarta Timur, pada hari yang sama.
Motif di Balik Tindakan Keji: Cekcok Pernikahan yang Berakhir Tragis
Berdasarkan hasil penyelidikan awal, terungkap bahwa sebelum kejadian tragis tersebut, antara FD dan Dewhinta sempat terlibat perselisihan sengit. Cekcok ini diduga kuat berkaitan dengan urusan rumah tangga mereka yang memang telah berakhir. Pernikahan siri yang dijalani keduanya menjadi latar belakang perselisihan tersebut.
Meskipun demikian, penyebab pasti yang mendorong FD melakukan pembunuhan sadis ini masih dalam pendalaman lebih lanjut oleh jajaran Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya. Pihak kepolisian masih terus mengumpulkan bukti dan keterangan untuk memastikan motif sebenarnya di balik aksi tersebut.
“Itu sudah pisah, menikah siri, jadi pernah ribut lah ya kan. Nah dia, pelaku mengontrak sendiri. Lokasinya enggak jauh, enggak jauh dari rumahnya korban,” jelas Iptu Edi Handoko, memberikan gambaran mengenai kedekatan lokasi tempat tinggal pelaku dan korban.
Bukti yang Menguatkan: CCTV dan Keterangan Saksi
Proses penyelidikan berhasil mengamankan sejumlah barang bukti krusial yang mendukung pengungkapan kasus ini. Salah satunya adalah rekaman kamera CCTV. Rekaman tersebut menyorot keberadaan pelaku di sekitar unit kontrakan korban, memberikan petunjuk penting mengenai pergerakan tersangka sebelum dan sesudah kejadian.
Sanitas Destiani (16), seorang kerabat korban, menuturkan bahwa pasca berpisah dengan FD, Dewhinta diketahui tinggal seorang diri. Hal ini membuat pihak keluarga tidak memiliki gambaran pasti mengenai apa yang terjadi di dalam kontrakan korban, termasuk detail kejadian pembunuhan tersebut.
Identitas Pelaku: Warga Negara Asing dengan Keterbatasan Bahasa
Fakta mengejutkan lainnya yang terungkap adalah status kewarganegaraan pelaku, FD. Ia diketahui merupakan seorang Warga Negara Asing (WNA). Hubungan antara pelaku dan korban sendiri terjalin saat Dewhinta pernah tinggal di Malaysia beberapa tahun lalu. Keterbatasan FD dalam berbahasa Indonesia juga menjadi salah satu poin yang disorot.
“Dia (pelaku) belum punya KTP Indonesia, bisa bahasa Indonesia sedikit saja. Biasanya kalau ngomong lebih sering pakai bahasa Inggris. Kalau pekerjaan dia apa saya kurang tahu,” ungkap Sanitas Destiani, memberikan gambaran mengenai interaksi dan latar belakang pelaku.
Kronologi Penemuan Jenazah: Kehilangan yang Mendalam
Sebelumnya, Dewhinta Anggary ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan di unit kontrakannya yang beralamat di Gang Daman I, Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur. Jenazah korban ditemukan terkapar bersimbah darah pada Sabtu, 21 Maret 2026, sekitar pukul 03.00 WIB dini hari. Luka-luka akibat penganiayaan yang dideritanya menjadi saksi bisu kekejaman pelaku.
Penemuan jenazah ini sontak mengejutkan keluarga dan kerabat korban, serta masyarakat luas. Kehilangan sosok Dewhinta, yang merupakan bagian dari keluarga besar seniman Betawi ternama, meninggalkan duka mendalam.
Kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan, terutama bagi individu yang tinggal seorang diri. Pihak kepolisian terus berkomitmen untuk memastikan keadilan bagi korban dan memberikan hukuman setimpal bagi pelaku. Proses hukum terhadap FD kini tengah berjalan di Polda Metro Jaya.

















