Mengungkap Sosok Mayjen TNI (Purn) Soenarko: Dari Kopassus Hingga Kontroversi Ijazah Presiden
Nama Mayjen TNI (Purn) Soenarko kembali mencuat di kancah publik Indonesia, bukan karena prestasi militer terbarunya, melainkan keterlibatannya dalam polemik seputar ijazah Presiden Joko Widodo. Sosok yang pernah memegang komando di satuan elite TNI, Komando Pasukan Khusus (Kopassus), ini kini menjadi sorotan karena sikapnya yang kritis dan bahkan turut menggugat institusi kepolisian terkait penanganan kasus tersebut. Bersama delapan jenderal TNI purnawirawan lainnya, Soenarko melayangkan gugatan terhadap Polda Metro Jaya, menganggap institusi tersebut tidak serius dalam mengusut dugaan pemalsuan ijazah presiden.
Dalam sebuah konferensi pers dan wawancara yang disiarkan media, Mayjen TNI (Purn) Soenarko menyatakan pandangannya bahwa penyelesaian kasus ijazah Presiden Joko Widodo sebenarnya relatif mudah. Ia berpendapat, jika ada kemauan politik yang kuat dan sikap jujur dari pihak yang berwenang, masalah ini bisa segera teratasi. “Kasus ijazah Jokowi mudah diselesaikan kalau Presiden mau bersikap jujur, adil, bertanggung jawab,” ungkap Soenarko, menegaskan bahwa penyelesaian kasus ini sangat bergantung pada integritas pemimpin.
Lebih jauh, Soenarko bahkan menyatakan kesiapannya untuk pasang badan membela Presiden Republik Indonesia saat ini, Prabowo Subianto, apabila ada pihak yang mencoba mengganggu stabilitas negara. “Kalau ada yang mengganggu Bapak, kalau Bapak sudah jujur dan adil, saya siap mati di depan Bapak dan banyak rakyat untuk melindungi Bapak Presiden,” ujarnya, menunjukkan loyalitasnya kepada pemimpin negara yang ia yakini akan membawa keadilan. Pernyataan ini sontak memicu diskusi hangat di kalangan masyarakat dan pengguna media sosial.
Keberanian Soenarko tidak berhenti di situ. Ia secara terang-terangan mendukung delapan orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Metro Jaya terkait kasus pencemaran nama baik yang substansinya menyangkut masalah ijazah palsu. Kasus ini juga disebut-sebut melibatkan tokoh publik lain seperti Roy Suryo. “Mari kita bersama-sama menjaga, mengamankan 8 orang teman kita yang telah ditetapkan oleh Polda Metro menjadi tersangka kasus pencemaran nama baik Joko Widodo, substansinya masalah ijazah palsu,” seru Soenarko, mengajak publik untuk memberikan perhatian lebih pada kasus ini.
Perjalanan Karier Militer yang Gemilang
Lantas, siapa sebenarnya Mayjen TNI (Purn) Soenarko ini? Pria kelahiran Medan, Sumatera Utara, pada 1 Desember 1953 ini memiliki rekam jejak karier militer yang sangat membanggakan. Beliau merupakan purnawirawan perwira tinggi TNI Angkatan Darat dengan pengalaman panjang dan posisi strategis yang pernah diemban.
Sebelum mencapai puncak kariernya sebagai Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Soenarko telah dikenal luas di lingkungan militer, terutama di wilayah Aceh. Sepanjang masa dinasnya, beliau menunjukkan dedikasi dan kemampuan kepemimpinan yang luar biasa.
Beberapa jabatan penting yang pernah dipegangnya antara lain:
- Asisten Operasi Kasdam Iskandar Muda (2002)
- Komandan Resor Militer (Danrem) 11/SNJ
- Danrem 22
- Perwira Menengah Renhabesad
- Perwira Tinggi Ahli Kasad Bidang Sosial Budaya (Bidsosbud)
- Kepala Staf Divisi Infanteri 1 Kostrad (Kasadif-1 Kostrad)
Puncak karier militernya adalah ketika ia dipercaya menjabat sebagai Komandan Jenderal Kopassus ke-22 pada tanggal 12 September 2007. Ia menggantikan Mayjen TNI Rasyid Qurnuen Aquary. Selama memimpin pasukan elite ini, Soenarko menorehkan berbagai pencapaian. Masa jabatannya sebagai Danjen Kopassus berakhir pada 1 Juli 2008, kemudian estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh Mayjen TNI Pramono Edhie Wibowo.
Setelah menanggalkan seragam Kopassus, Soenarko kembali dipercaya untuk mengemban amanah jabatan tinggi lainnya. Ia ditunjuk sebagai Panglima Daerah Militer (Pangdam) Iskandar Muda, menggantikan Mayjen TNI Supiadin AS. Tugasnya sebagai Pangdam Iskandar Muda berakhir pada tahun 2009.
Selanjutnya, pada tahun yang sama, beliau didapuk menjadi Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Pussenif), menggantikan Mayjen TNI Nartono. Setahun kemudian, pada 2010, posisi ini diisi oleh Mayjen TNI Siswondo, menandai akhir dari penugasan Soenarko di Pussenif.
Merambah Dunia Politik dan Kontroversi
Setelah purna tugas dari Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, Mayjen TNI (Purn) Soenarko tidak serta merta pensiun dari kegiatan publik. Ia memilih untuk terjun ke arena politik, sebuah langkah yang membawanya pada berbagai pengalaman dan bahkan kontroversi.
Perjalanan politik Soenarko meliputi beberapa partai politik:
- Menjadi anggota Partai Aceh (2012-2016)
- Bergabung dengan Partai Gerindra (2012-2016)
- Bergabung dengan Partai Nangroe Aceh pada tahun 2017.
Pada Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2019, Mayjen TNI (Purn) Soenarko secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Prabowo Subianto. Pada masa itu, ia dikenal sebagai salah satu loyalis kuat calon presiden tersebut. Namun, kiprahnya di dunia politik tidak lepas dari cobaan. Ia sempat tersandung kasus dugaan kepemilikan senjata api ilegal dan dituding terlibat dalam upaya makar. Isu ini mencuat seiring dengan kerusuhan yang terjadi pada tanggal 22 Mei 2019, di mana Soenarko disebut-sebut turut terlibat. Akibat tudingan tersebut, ia sempat ditahan oleh Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI di Rumah Tahanan POM Guntur, Jakarta Selatan. Beruntung, berkat upaya penangguhan penahanan yang diajukan oleh Panglima TNI saat itu, Marsekal Hadi Tjahjanto, dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan, kepada Mabes Polri, Soenarko akhirnya dibebaskan.
Menariknya, dalam Pilpres 2024, pilihan politik Soenarko berubah. Ia menjadi salah satu pendukung Anies Baswedan. Perubahan orientasi politik ini juga tercermin dari posisinya saat ini di kancah partai politik. Mayjen TNI (Purn) Soenarko kini menjabat sebagai Dewan Pakar di Partai Keadilan Sejahtera (PKS), sebuah partai yang merupakan salah satu pengusung Anies Baswedan.
Riwayat Pendidikan
Perjalanan panjang Mayjen TNI (Purn) Soenarko, baik di militer maupun politik, didukung oleh latar belakang pendidikan yang solid. Ia menempuh pendidikan di berbagai lembaga bergengsi, yang membentuknya menjadi sosok yang berwawasan luas dan cakap.
Riwayat pendidikannya mencakup:
- Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) pada tahun 1978.
- Sekolah Dasar Kecabangan Infanteri (Susarcabif) pada tahun 1978.
- Pendidikan Komando pada tahun 1979.
- Pendidikan Lanjutan Perwira I (Diklapa-I) pada tahun 1985.
- Pendidikan Lanjutan Perwira II (Diklapa-II) pada tahun 1988.
- Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad) pada tahun 1995.
- Sekolah Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia (Sesko TNI).
- Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) pada tahun 2005.




