Wapres Gibran Rakabuming Raka Ikut Memikul Salib Saat Pawai Paskah
Wakil Presiden Republik Indonesia (Wapres RI), Gibran Rakabuming Raka, menjadi perhatian publik setelah diketahui ikut memikul salib saat menghadiri pawai paskah. Aksi ini menimbulkan berbagai respons dari masyarakat, baik yang menyambut positif maupun yang merasa tidak sesuai dengan makna simbolis dari pemikulan salib tersebut.
Video rekaman kegiatan Gibran tersebut menjadi topik perbincangan hangat di media sosial. Banyak warganet memberikan komentar terkait tindakan Gibran. Beberapa dari mereka menyoroti cara Gibran memikul salib yang dianggap tidak etis, sementara yang lain memuji sikapnya sebagai bentuk toleransi antarumat beragama.
Kegiatan Gibran Saat Kunjungi Kupang
Gibran hadir langsung dalam acara Pawai Paskah Pemuda Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) 2026 di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia juga berpartisipasi memikul salib usai melakukan penyerahan obor pawai kepada perwakilan Pemuda GMIT dan mengibarkan bendera tanda dimulainya pawai tersebut. Acara ini berlangsung di Bundaran Tirosa Kota Kupang, Senin (6/4/2026).
Momen tersebut terjadi ketika Pemuda GMIT Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, peserta awal yang menjadi peserta awal melintas. Peserta saat itu mengenakan pakaian adat lalu menyuguhkan nyanyian dan puisi di hadapan Gibran dan peserta lainnya. Rombongan ini kemudian diikuti dengan beberapa pemuda yang mengusung salib raksasa.
Simbol Kebersamaan dalam Pemikulan Salib

Ketua Sinode GMIT Pendeta Samuel Pandie mengajak Wapres Gibran, para pejabat lain yang hadir saat itu, seperti Gubernur NTT Melki Laka Lena dan Wali Kota Kupang Christian Widodo untuk ikut ambil bagian memikul salib tersebut.
Gibran langsung mengambil tempat paling depan, di sisi Ketua Sinode GMIT, dan memikul salib raksasa berwarna kuning yang dirantai. Sementara pejabat lainnya mengambil tempat di belakang Gibran. Ia menggunakan tangan kanannya untuk memikul salib. Tampak beberapa pejabat dan pemuda peserta pawai lainnya ikut mengangkat salib tersebut bersama-sama. Mereka berjalan beberapa saat mengikuti peserta berbusana adat di depannya.
Pemikulan salib ini merupakan simbolis persatuan pemerintah, masyarakat, dan gereja dalam menghadapi segala beban dan tanggung jawab bersama-sama.
Setelah itu, Gibran menyapa para difabel dan mendapatkan sejumlah tanda mata dari masyarakat. Ia juga melayani permintaan foto dari masyarakat yang hadir saat itu. Kemudian ia meninggalkan Bundaran Tirosa sekitar pukul 11.48 WITA.
Pesan Gibran tentang Persatuan

Gibran menyampaikan salam damai Paskah dari Presiden Prabowo Subianto kepada warga NTT. Ia juga mendukung Pawai Paskah Pemuda GMIT dapat terus berlangsung dengan dukungan promosi, infrastruktur, UMKM lokal, dan ekonomi kreatif.
Selain Pawai Paskah Pemuda GMIT, Gibran ingin Semana Santa di Larantuka serta Patung Maria Bunda Segala Bangsa di Nilo Sikka menjadi potensi wisata rohani di NTT. Ia mengajak masyarakat terus menjaga toleransi di tengah konflik global.
“Untuk itu, Indonesia perlu menjaga toleransi. Jangan mudah terprovokasi. Jangan mudah percaya kabar bohong. Tidak ada satu negara yang bisa melakukan pembangunan bila ada perpecahan,” ujar Gibran.
Jika ada bibit kesalahpahaman, tukasnya, maka harus segera dimediasi atau klarifikasi sehingga dicari jalan tengah. Ia mengajak masyarakat untuk saling jaga dan menopang karena pembangunan harus dimulai dari masyarakat yang bersatu.
Dengan demikian, aksi Gibran memikul salib adalah berita benar. Aksi ini dilakukan Gibran bersama dengan umat nasrani lainnya sebagai simbol kebersamaan.


















