Keinginan Slovenia untuk Keluar dari NATO Muncul, Tapi Dukungan Publik Masih Kuat
Pemerintah Slovenia kini tengah mempertimbangkan kemungkinan keluar dari aliansi militer NATO. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Parlemen Slovenia yang baru dilantik, Zoran Stevanovic. Ia menyatakan bahwa pihaknya akan segera menggelar referendum guna mengetahui sejauh mana dukungan publik terhadap rencana pengunduran diri Slovenia dari NATO.
“Kami telah berjanji kepada rakyat untuk mengadakan referendum mengenai masalah keluarnya dari NATO. Kami akan segera mengadakan referendum ini,” ujar Stevanovic dalam pernyataannya, seperti dikutip oleh media lokal.
Dukungan Publik untuk Tetap Jadi Anggota NATO
Meski rencana keluar dari NATO sedang dipertimbangkan, Stevanovic mengakui bahwa keinginan tersebut mungkin tidak akan mudah direalisasikan. Menurutnya, sebagian besar warga Slovenia masih mendukung negaranya tetap menjadi anggota NATO. Sebuah survei yang dirilis pada 2025 menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Slovenia melihat keanggotaan NATO sebagai hal positif, terutama dalam hal pertahanan dan keamanan nasional.
Namun, meskipun demikian, pihak pemerintah tetap ingin menggelar referendum untuk memastikan suara publik. Jika nanti mayoritas penduduk setuju, maka pemerintah akan mengajukan pengunduran diri dari aliansi tersebut.
Rencana Keluar dari NATO Tidak Dipengaruhi Pihak Luar
Stevanovic juga menegaskan bahwa rencana Slovenia untuk keluar dari NATO bukanlah hasil dari tekanan atau paksaan dari pihak mana pun. Ia menekankan bahwa pemerintah Slovenia selalu berkomitmen untuk menjalankan kebijakan secara independen dan tanpa campur tangan luar negeri.
Selain itu, ia menyangkal bahwa keinginan untuk keluar dari NATO berasal dari kecenderungan pro-Rusia. Menurutnya, Slovenia adalah negara yang netral dan tidak memihak kepada negara tertentu. Meski begitu, Slovenia tetap bersedia menjalin hubungan dengan Rusia dan negara lainnya, asalkan tidak bertentangan dengan kepentingan nasional.

Sejarah Slovenia Bergabung dengan NATO
Slovenia bergabung dengan NATO pada tahun 2004, tepat pada saat yang sama mereka juga menjadi anggota Uni Eropa. Namun, rencana keluar dari NATO mulai muncul pada 2025. Salah satu alasan utama adalah masalah anggaran.
Menurut aturan NATO, setiap anggota harus mengalokasikan 20 persen anggaran negara untuk kebutuhan pertahanan. Slovenia menganggap angka tersebut terlalu besar, karena dikhawatirkan bisa mengganggu alokasi dana untuk program penting lainnya, seperti kesehatan dan pendidikan.
Selain itu, Slovenia juga khawatir terlibat dalam konflik internasional, seperti konflik antara Rusia dan Ukraina. Mereka enggan terlibat dalam konflik tersebut karena dinilai hanya akan merugikan negara.

Isu Terkait Lain
Selain isu keluar dari NATO, Slovenia juga sempat menjadi sorotan karena larangan penjualan senjata kepada Israel. Selain itu, Slovenia juga akan mengizinkan pasien dewasa kritis untuk mengakhiri hidupnya. Beberapa menteri Israel juga dilarang masuk ke Slovenia, yang menunjukkan sikap negara tersebut terhadap isu-isu politik dan kemanusiaan.



















