Karakter jenderal dalam drama Tiongkok terbaru, “Pursuit of Jade,” telah memicu perdebatan sengit mengenai standar maskulinitas di layar kaca. Penampilan aktor Zhang Linghe yang memerankan jenderal tersebut, dengan riasan wajah yang dianggap mencolok, telah menjadi sorotan utama. Kritikus berpendapat bahwa penggambaran ini tidak sesuai dengan citra prajurit sejati, terutama di tengah narasi peperangan yang seharusnya keras dan realistis.
Perdebatan Riasan dan Realisme di Medan Perang
Salah satu poin utama kritik adalah bagaimana karakter jenderal tersebut tampil dengan wajah yang tetap mulus dan terawat, bahkan di tengah kondisi medan perang yang penuh dengan debu, keringat, dan potensi luka. Sindiran dari warganet, seperti “memakai riasan pukul 4 pagi untuk bertempur pukul 6,” mencerminkan kekecewaan terhadap minimnya realisme dalam penggambaran tersebut. Hal ini dianggap mengurangi bobot dramatis dan keseriusan adegan pertempuran yang seharusnya ditampilkan.
Kritik yang lebih tajam datang dari media yang memiliki afiliasi dengan militer Tiongkok. Mereka secara tegas menyatakan bahwa penggambaran tersebut “jauh dari semangat sejati seorang prajurit.” Media tersebut menilai bahwa drama-drama semacam ini cenderung “melembutkan” persona seorang jenderal, sebuah penggambaran yang dianggap menyimpang dari pemahaman publik yang telah terbentuk secara historis dan militeristik mengenai sosok pemimpin perang. Persepsi publik tentang bagaimana seorang jenderal seharusnya terlihat dan bertindak, yang sering kali diasosiasikan dengan ketangguhan, keberanian, dan penampilan yang lebih natural, tampaknya dilanggar oleh tren visual yang diusung oleh drama ini.
Pembelaan dari Penggemar dan Perspektif Kreativitas
Namun, tidak semua pihak sepakat dengan gelombang kritik yang dilayangkan. Sebagian besar penggemar dari aktor Zhang Linghe justru membela penampilan sang aktor. Mereka berargumen bahwa pendekatan visual yang unik dalam sebuah drama adalah bagian integral dari kreativitas artistik. Bagi mereka, riasan dan gaya visual yang disajikan bukan semata-mata tentang realisme, melainkan sebuah pilihan estetika yang dirancang untuk memperkaya karakter dan cerita. Mereka memandang bahwa industri hiburan memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi interpretasi visual yang berbeda, dan tidak seharusnya terpatok pada satu standar penampilan yang kaku.
Terlepas dari kontroversi yang mengemuka, “Pursuit of Jade” sendiri tetap meraih popularitas yang signifikan. Hingga awal April, drama ini telah berhasil mengumpulkan lebih dari 3,6 miliar tayangan, menunjukkan bahwa daya tarik cerita dan karakternya tetap kuat di mata penonton, meskipun ada perdebatan mengenai aspek visualnya. Hal ini mengindikasikan adanya segmen penonton yang lebih menerima atau bahkan mengapresiasi pendekatan visual yang berbeda.
Kebijakan Pemerintah dan Arah Industri Hiburan
Polemik ini tidak berdiri sendiri, melainkan juga berkaitan erat dengan kebijakan pemerintah Tiongkok yang semakin tegas dalam mengatur industri hiburan. Pada tahun 2021, otoritas terkait telah mengeluarkan pedoman yang secara eksplisit menolak atau membatasi citra pria yang dianggap “terlalu feminin” di layar kaca. Kebijakan ini bertujuan untuk membentuk kembali persepsi publik tentang maskulinitas, sesuai dengan nilai-nilai budaya dan etika yang dianggap lebih sesuai oleh pemerintah.
Penegasan arah kebijakan ini kembali terlihat pada awal April, ketika regulator media Tiongkok mengeluarkan instruksi kepada platform streaming. Mereka diminta untuk lebih memprioritaskan produksi karya-karya yang memiliki gaya “Tiongkok” otentik, yang menekankan nilai-nilai budaya tradisional dan konten yang dianggap positif serta mendidik. Permintaan ini menunjukkan keinginan pemerintah untuk mengarahkan industri hiburan agar sejalan dengan visi budaya dan sosial yang mereka tetapkan.
Benturan Tren dan Kebijakan
Kontroversi seputar karakter jenderal dalam “Pursuit of Jade” secara gamblang menggambarkan adanya benturan antara tren yang berkembang dalam industri hiburan global yang cenderung lebih eksperimental dalam hal estetika, dengan arah kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah Tiongkok. Perdebatan mengenai citra pria di layar kaca, yang mencakup aspek penampilan, perilaku, dan peran gender, kembali mencuat ke permukaan. Ini menjadi cerminan dari dinamika kompleks antara ekspresi kreatif, ekspektasi pasar, dan pengaruh regulasi negara dalam membentuk lanskap media dan hiburan di Tiongkok.





















