Kekalahan Malaysia di Thomas Cup 2026
Pelatih ganda putra Malaysia, Herry Iman Pierngadi, mengungkapkan bahwa cedera menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan performa pemainnya tidak maksimal dalam ajang Thomas Cup 2026. Kekalahan Malaysia di babak perempat final sangat mengecewakan, terlebih karena ambisi untuk meraih gelar juara telah diumumkan sejak awal kompetisi.
Malaysia harus tersingkir setelah gagal memenuhi target lolos sebagai juara grup. Mereka kalah 2-3 dari Jepang dan kemudian dikalahkan China dengan skor 0-3 di babak perempat final. Pada pertandingan melawan China, Malaysia gagal merebut partai ganda putra. Aaron Chia/Soh Wooi Yik mengalami banyak kesalahan saat menghadapi Liang Wei Keng/Wang Chang pada partai kedua. Meskipun sempat unggul, pasangan peringkat dua dunia itu akhirnya kalah dua gim langsung. Kekalahan ini semakin mengurangi peluang Malaysia yang lemah di sektor tunggal.
Kesedihan makin dalam karena Malaysia sebenarnya memiliki kesempatan untuk menghadapi lawan yang lebih mudah di babak delapan besar jika berhasil menjadi juara grup. Namun, kekalahan dari Jepang disebabkan oleh kegagalan memaksimalkan nomor ganda putra sebagai kekuatan utama tim.
Strategi perombakan pasangan ganda tidak berjalan sesuai harapan. Meskipun Aaron Chia/Tee Kai Wun berhasil mengalahkan Kakeru Kumagai/Hiroki Nishi, duet Soh Wooi Yik/Nur Izzuddin gagal mengatasi perlawanan Takeshi Nomura/Yuichi Shimogami. Padahal, Jepang tampil dalam kondisi kurang optimal karena tidak diperkuat oleh pasangan terbaik mereka, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi.
Herry IP, pelatih ganda putra Malaysia, memberikan penjelasan terkait keputusan tersebut. “Keputusan itu dibuat dalam rapat yang melibatkan para pelatih dan pemain,” ujarnya. “Itu adalah pilihan terbaik karena Man Wei Chong belum sepenuhnya fit karena cedera yang dialaminya.” Ia menambahkan, “Kami harus mengacak pasangannya agar pemain ganda dapat menampilkan performa terbaik mereka.”
Meskipun hasilnya tidak sesuai harapan, Herry tetap percaya bahwa para pemain telah memberikan yang terbaik. Di sisi lain, kekalahan di babak perempat final juga membuatnya menyesal. Kekuatan di awal laga menghadapi Liang/Wang harus sirna karena berbagai kesalahan sendiri, terutama dari Soh Wooi Yik yang kurang tenang hingga menjadi incaran lawan.
“Seharusnya kami memenangkan gim pertama, tetapi terlalu banyak kesalahan sendiri di tahap akhir,” jelas Herry. “Ketika kami gagal mengamankannya, pasangan China itu semakin percaya diri. Aaron/Wooi Yik melakukan terlalu banyak kesalahan, dan itu mengganggu ritme permainan mereka.”
Kegagalan di babak perempat final membuat Malaysia semakin disorot, terutama setelah angan-angan juara yang menggebu sejak kompetisi belum dimulai. Terakhir kali Malaysia menjuarai Thomas Cup terjadi pada 1992 silam. Misi tim putra Negeri Jiran untuk mengakhiri paceklik gelar beregu bergengsi ini sempat muncul karena kekuatan ganda putra yang kuat dan hadirnya Lee Zii Jia yang bisa menjadi kartu As. Namun, pengambilan risiko yang tidak berjalan sesuai harapan membuat Malaysia harus kembali berlapang dada.



















