Jawa Tengah Alami Deflasi di Bulan April 2026
Pada bulan April 2026, Provinsi Jawa Tengah mencatatkan deflasi sebesar 0,03 persen secara bulanan (month-to-month), berbeda dengan kondisi nasional yang mengalami inflasi sebesar 0,13 persen. Penurunan harga ini terutama dipengaruhi oleh kelompok pangan, yang menjadi faktor utama dalam pergerakan harga.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, menjelaskan bahwa pengendalian harga ini disebabkan oleh normalisasi permintaan masyarakat terhadap komoditas pangan utama setelah puncak perayaan Lebaran. Beberapa komoditas seperti daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, emas perhiasan, dan angkutan antar kota turut berkontribusi pada deflasi tersebut.
Normalisasi Harga Pangan dan Tekanan Global
Penurunan harga pada kelompok pangan menjadi faktor kunci dalam deflasi Jawa Tengah. Hal ini terjadi karena kembalinya pola konsumsi masyarakat ke tingkat normal pasca-Lebaran. Namun, ada beberapa faktor yang menahan deflasi lebih dalam. Salah satunya adalah dampak ketegangan geopolitik, terutama konflik di Timur Tengah yang memengaruhi harga minyak goreng.
“Harga minyak goreng meningkat seiring kenaikan harga kelapa sawit dan biaya produksi plastik kemasan akibat konflik di Timur Tengah,” jelasnya. Selain itu, kenaikan biaya energi seperti gas LPG turut mendorong harga nasi beserta lauk pauk di tingkat konsumen.
Sektor teknologi juga tidak luput dari imbas global. Harga telepon seluler dan laptop tercatat merangkak naik akibat kelangkaan serta kenaikan harga komponen elektronik seperti chipset dan memori di pasar internasional.
Wonogiri Catat Deflasi Terdalam
Secara tahunan (year-on-year), inflasi Jawa Tengah berada di angka 2,11 persen, masih jauh lebih rendah dibandingkan angka inflasi nasional yang mencapai 2,42 persen. Komoditas emas perhiasan, beras, dan sigaret kretek mesin (SKM) menjadi penyumbang utama inflasi tahunan ini.
Secara spasial, peta harga di Jawa Tengah menunjukkan hasil yang bervariasi:
- Deflasi Terdalam: Kabupaten Wonogiri sebesar 0,25 persen.
- Inflasi Tertinggi: Kota Semarang (0,17 persen) dan Kudus (0,02 persen).
Langkah Strategis BI dan TPID
Menyikapi data tersebut, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) berkomitmen memperkuat sinergi untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah. Fokus utama ke depan adalah memastikan kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi barang di seluruh titik pantau.
“Pengendalian terus dilakukan agar inflasi tetap berada dalam rentang sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen,” pungkas M. Noor Nugroho.



















