Bank Indonesia (BI) telah memperketat aturan pembelian dolar Amerika Serikat (AS) di dalam negeri. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal dan permintaan valuta asing yang tinggi.
Jessica Tasijawa, analis dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan bagian dari bauran kebijakan BI untuk meredam tekanan terhadap rupiah. Rupiah sempat melemah hingga sekitar Rp 17.425 per dolar AS di pasar spot maupun kurs JISDOR.
Dalam risetnya, Jessica menyebutkan bahwa BI telah menurunkan batas pembelian dolar AS tanpa underlying dari sebelumnya US$ 100.000 menjadi US$ 50.000 per individu per bulan. Selanjutnya, batas ini akan dipangkas lagi menjadi US$ 25.000.
Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk menekan permintaan spekulatif, menjaga likuiditas valas domestik, serta melengkapi instrumen stabilisasi lain seperti SRBI, pembelian SBN, dan intervensi pasar.
Sampai saat ini, BI juga terus melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Hingga saat ini, total pembelian SBN secara year to date mencapai Rp 123,1 triliun.
Di sisi lain, BI juga melakukan lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan total penyerapan sebesar Rp 2,5 triliun, yang merupakan angka terendah sejak Maret 2026. Meski demikian, yield SRBI naik di seluruh tenor ke kisaran 6,1%–6,5%. Tujuannya adalah untuk meningkatkan daya tarik instrumen jangka pendek.
Jessica melihat bahwa kondisi ini mencerminkan strategi mirip operation twist yang mendorong flattening kurva imbal hasil sekaligus menjaga minat investor asing masuk ke pasar domestik.
Aliran dana asing masuk ke SRBI mencapai Rp 8,8 triliun secara month to date dengan porsi kepemilikan asing di atas 12,7%. Namun, lemahnya permintaan SRBI dan arus keluar dari sektor perbankan sebesar Rp 157,3 triliun menunjukkan bahwa pelaku pasar masih cenderung berhati-hati.
“Ini menunjukkan kehati-hatian pasar serta peran BI sebagai penyangga utama,” ujarnya.
Jessica juga mencermati pergerakan yield SBN yang menunjukkan flattening kurva. Yield SBN tenor 10 tahun turun ke level 6,76%, sedangkan tenor 2 tahun justru naik ke 6,46%, sehingga spread kedua tenor menyempit menjadi sekitar 20 basis poin (bps), level terendah saat ini.
Kondisi ini terjadi seiring penguatan rupiah ke kisaran Rp 17.389 per dolar AS yang didukung oleh pelemahan indeks dolar AS (DXY) ke sekitar level 98. Di pasar global, yield US Treasury juga turun dengan tenor 10 tahun di level 4,35% dan tenor 2 tahun sebesar 3,87%.
Menurut Jessica, hal ini menjaga spread obligasi pemerintah Indonesia dan US Treasury tetap lebar, yakni di kisaran 240-250 bps.
“Dan dalam kondisi ini kami tetap prefer tenor jangka pendek dengan tetap waspada terhadap risiko nilai tukar di tengah ketidakpastian global,” pungkasnya.



















