Perdebatan dalam LCC 4 Pilar MPR RI Tingkat Kalbar Viral
Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat yang seharusnya menjadi ruang edukasi dan sportivitas justru berubah menjadi polemik nasional. Sebuah video yang merekam perdebatan antara peserta dan dewan juri viral di media sosial, memicu gelombang kritik dari warganet.
Sorotan publik muncul setelah dua tim peserta memberikan jawaban yang dinilai serupa, namun memperoleh hasil penilaian yang berbeda. Satu tim justru dikurangi poin, sementara tim lain mendapat nilai sempurna. Peristiwa itu langsung memantik perdebatan luas, terutama karena lomba tersebut membawa nama besar Empat Pilar MPR RI yang menjunjung nilai keadilan dan objektivitas.
Protes Peserta Picu Perhatian Publik
Dalam video yang beredar luas di media sosial, peserta dari Grup C SMAN 1 Pontianak tampak menyampaikan keberatan kepada dewan juri. Mereka merasa jawaban yang diberikan sebenarnya sama dengan jawaban peserta lain yang kemudian dinyatakan benar. Namun alih-alih memperoleh klarifikasi yang memuaskan, protes tersebut disebut tidak mendapat tanggapan berarti dari pihak juri. Situasi itu membuat suasana perlombaan memanas dan menjadi perhatian publik.
Tak butuh waktu lama, rekaman video tersebut menyebar ke berbagai platform media sosial. Kolom komentar akun Instagram resmi MPR RI pun dibanjiri kritik dari warganet yang mempertanyakan objektivitas penilaian dewan juri.
Dugaan Gangguan Speaker Jadi Penyebab
Menanggapi polemik tersebut, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Barat, Syarif Faisal Indahmawan Alkadrie, mengungkapkan bahwa pihaknya telah memanggil Kepala SMAN 1 Pontianak beserta tim pendamping untuk membahas persoalan tersebut.
“Kami sudah memanggil Kepala SMAN 1 Pontianak dan tim pendamping terkait persoalan ini,” kata Faisal, Senin (11/5/2026).
Faisal menjelaskan, salah satu faktor yang diduga menjadi pemicu kesalahpahaman adalah adanya gangguan pada speaker yang mengarah ke meja dewan juri. Menurutnya, suara jawaban peserta kemungkinan tidak terdengar jelas di sisi juri, meskipun di area penonton dan siaran langsung YouTube terdengar dengan baik.
“Informasi yang saya terima, speaker yang mengarah ke juri mengalami gangguan sehingga jawaban peserta kurang terdengar jelas. Sementara di live YouTube dan ke audiens penonton, suara terdengar jelas,” ujar Faisal.
Diminta Tempuh Jalur Resmi
Meski polemik sudah telanjur viral, Faisal meminta seluruh pihak tetap mengikuti mekanisme resmi perlombaan. Ia menegaskan bahwa LCC 4 Pilar merupakan agenda yang diselenggarakan langsung oleh MPR RI, bukan oleh Pemerintah Provinsi Kalbar. Karena itu, pihak sekolah diminta mengajukan peninjauan ulang melalui prosedur yang berlaku.
Menurut Faisal, secara prinsip SMAN 1 Pontianak menerima hasil akhir perlombaan. Namun evaluasi tetap diperlukan agar insiden serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang.
“Kita selesaikan sesuai ketentuan lomba dan semua pihak harus menunjukkan sikap kesatria,” tegas Faisal.
Sekda Kalbar Soroti Rasa Keadilan Peserta
Polemik ini juga mendapat perhatian serius dari Sekretaris Daerah Kalimantan Barat, Harisson. Ia menilai persoalan tersebut tidak bisa dianggap sepele karena menyangkut rasa keadilan yang dirasakan peserta didik. Menurut Harisson, substansi jawaban peserta sebenarnya sudah benar dan memiliki kesamaan, namun tetap dinyatakan salah oleh dewan juri.
Ia menduga para juri terlalu terpaku pada teks jawaban yang ada di perangkat penilaian mereka.
“Juri ini terkesan tidak terlalu memahami materi yang ditanyakan sehingga harus membaca jawaban yang ada di tab mereka lalu mencocokkannya dengan jawaban peserta,” kata Harisson.
Harisson menilai, apabila juri benar-benar memahami materi Empat Pilar MPR RI secara mendalam, penilaian semestinya bisa dilakukan lebih objektif tanpa bergantung penuh pada redaksi kalimat.
“Kalau kita sudah paham materi yang ditanyakan, tidak perlu lagi terus melihat tab. Cukup dengar jawaban anak-anak ini, kita langsung tahu substansinya benar atau tidak dan bisa langsung memberikan nilai,” ujarnya.
Jangan Sampai Ketidakadilan Membekas
Lebih jauh, Harisson meminta panitia dan dewan juri memberikan rasa keadilan kepada para peserta, khususnya siswa SMAN 1 Pontianak yang merasa dirugikan dalam perlombaan tersebut. Ia mengingatkan bahwa pengalaman seperti ini bisa meninggalkan luka psikologis bagi para pelajar apabila tidak disikapi secara bijaksana.
“Saya minta ada rasa keadilan yang harus diterima oleh anak-anak SMANSA. Jangan biarkan rasa ketidakadilan itu membekas di diri mereka,” tegas Harisson.
Menurutnya, lomba bertema Empat Pilar MPR RI seharusnya menjadi contoh penerapan nilai-nilai keadilan, sportivitas, dan objektivitas.
“Apalagi kita sedang berbicara tentang Empat Pilar MPR RI: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Nilai-nilai keadilan dan objektivitas harus benar-benar dijunjung,” ucap Harisson.
Alumni SMAN 1 Pontianak Desak Sistem Replay Digital
Sorotan juga datang dari Ketua Ikatan Alumni (IKA) SMAN 1 Pontianak, Windy Prihastari. Ia menilai sistem perlombaan perlu diperbarui mengikuti perkembangan teknologi digital saat ini. Windy mengusulkan agar panitia menyediakan fitur pemutaran ulang atau replay secara real time untuk mengantisipasi sengketa jawaban di tengah lomba.
“Setelah menonton ini apa tindak lanjut yang dilakukan dari panitia? Di zaman digital harusnya sudah tersedia pemutaran ulang real time jika terjadi hal-hal seperti ini,” ujar Windy.
Ia juga memberikan apresiasi kepada peserta SMAN 1 Pontianak yang dinilai berani menyampaikan pendapat secara terbuka meski berada dalam tekanan kompetisi.
“Salut atas keberanian adik-adik Smansa untuk menyampaikan pendapat yang benar di situasi tekanan,” tutup Windy.



















