Adab Menyambut Jamaah Haji dan Makna Gelar “Pak Haji”
Menyambut saudara seiman yang baru saja menunaikan ibadah haji merupakan salah satu bentuk penghormatan dan kegembiraan atas pencapaian spiritual mereka. Dalam ajaran Islam, ibadah haji adalah rukun kelima yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang mampu. Pelaksanaan ibadah mulia ini hanya terjadi setahun sekali pada bulan Dzulhijjah, bertepatan dengan perayaan Idul Adha dan ibadah kurban.
Seorang penceramah ternama, Buya Yahya, menekankan pentingnya adab dalam menyambut para tamu Allah yang baru kembali dari tanah suci. Ia menjelaskan bahwa sikap tulus untuk turut berbahagia atas ibadah haji seseorang dapat menjadi pertanda baik bahwa orang tersebut akan segera diberi kesempatan untuk menyusul menunaikan rukun Islam kelima ini. Sebaliknya, jika ada individu yang menunjukkan rasa marah, dengki, atau tidak senang melihat saudaranya berhaji, Buya Yahya berpendapat bahwa orang tersebut akan mengalami kesulitan untuk dapat menunaikan ibadah haji maupun umrah.
“Turut gembira atau senang dengan adanya orang yang berhaji maka itu bisa jadi pertanda Anda akan segera menyusul, namun ada orang yang sebaliknya marah-marah atau merasa dengki ketika melihat orang lain berhaji, maka dia tidak akan bisa haji, kalaupun bisa umroh dan haji bisa jadi bukan karena Allah melainkan hanya ingin mendapatkan titel,” ujar Buya Yahya.
Tradisi dan Pemahaman Gelar “Pak Haji”
Di Indonesia, telah berkembang sebuah tradisi di mana orang yang baru pulang dari ibadah haji kerap disapa dengan sebutan “Pak Haji” atau “Bu Haji”. Buya Yahya menyatakan bahwa menyandang gelar ini sebagai bentuk penghormatan terhadap mereka yang telah menunaikan ibadah haji adalah hal yang sah-sah saja, sesuai dengan kebiasaan yang berlaku di Tanah Air.
Namun, ia juga mengingatkan agar tidak ada rasa kecewa atau jengkel jika seseorang yang telah berhaji tidak dipanggil dengan gelar tersebut. “Tapi kalau Anda pulang haji lalu orang lain tidak memanggil Anda dengan gelar haji, ya santai saja. Jangan merasa sudah berhaji lalu wajib di panggil Pak Haji,” pesan Buya Yahya. Beliau bahkan menyindir fenomena seseorang yang merasa kesal hingga merobek undangan karena tidak dicantumkan gelar hajinya, seolah-olah gelar tersebut adalah sebuah keharusan yang harus melekat pasca-pulang dari tanah suci. Pemahaman semacam ini dianggap keliru, karena ibadah haji sejatinya adalah panggilan dari Allah bagi mereka yang mampu, bukan semata-mata untuk mendapatkan pengakuan sosial.
“Akan tetapi begitulah setan menggoda kita, melaksanakan ibadah haji bagi yang mampu dan dipanggil Allah lalu merasa hebat,” ungkap Buya Yahya. Oleh karena itu, ia mengimbau agar menyikapi hal ini dengan tenang dan tidak gelisah, melainkan bersikap biasa saja.
Bagi mereka yang memiliki tetangga atau kerabat yang baru pulang dari ibadah haji, memanggil mereka dengan sebutan “Haji” adalah bentuk penghormatan yang baik. Intinya, yang terpenting adalah menjaga perasaan dan hati setiap individu agar tidak tersakiti atau tersinggung oleh ucapan maupun perbuatan.
Doa Sepulang Haji atau Umrah
Ketika seseorang kembali dari menunaikan ibadah haji atau umrah, ada doa khusus yang diajarkan untuk dibaca, memohon agar kebaikan ibadah tersebut dapat mengantarkan pada tujuan yang lebih mulia:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلىٰ سَـيِّدِنَامُحَمَّدٍ صَلَاةً تُبَلِّغُنَابِهَاحَجَّ بَيْتِكَ الْحَرَامِ وَزِيَارَةَ قَبْرِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Latin:
Bismilla hirrahmaa nirrahiim. Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin. Allahumma sholli wasallim wabaarik ‘alaa sayyidina muhammadin sholatan tuballighuna bihaa hajja baitikal haraami waziyarata qabri nabiyyika muhammadin shallallahu alaihi wa sallam.
Artinya:
“Dengan menyebut nama Allah Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Segala puji bagiNya, Tuhan semesta alam. Ya Allah limpahkanlah shalawat, salam serta berkah kepada junjungan kami nabi Muhammad, melalui shalawat itu dapat menyampaikan kami untuk berhaji ke baitil haram dan ziarah ke makam nabi Muhammad SAW.”
Jadwal Kepulangan Jamaah Haji dari Banjarmasin
Setelah menyelesaikan rangkaian ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), jamaah haji dari Embarkasi Banjarmasin mulai bersiap untuk kembali ke tanah air. Kelompok Terbang (Kloter) 1 Embarkasi Banjarmasin menjadi rombongan pertama yang dijadwalkan kembali.
Para jamaah telah menyelesaikan tawaf ifadah di Masjidil Haram. Ketua Kloter 1, Syamsuri, melaporkan bahwa seluruh 359 jamaah dalam kloternya dalam kondisi sehat walafiat setelah menyelesaikan nafar tsani di Mina. Meskipun sebagian mengalami flu dan batuk ringan, secara umum kondisi kesehatan mereka baik.
Pelaksanaan tawaf ifadah dilakukan secara bertahap untuk mengantisipasi kepadatan di Masjidil Haram. Sebagian jamaah telah melaksanakannya secara mandiri sebelum layanan bus shalawat kembali beroperasi.
Fokus utama jamaah saat ini adalah menyelesaikan tawaf ifadah sebelum memasuki tahap persiapan kepulangan. Selain itu, mereka juga mulai mempersiapkan barang bawaan. Penimbangan koper dijadwalkan pada hari Senin, 1 Juni 2026.
Sesuai jadwal, Kloter 1 yang terdiri dari jamaah asal Banjarmasin akan bergerak dari Makkah menuju Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, pada Selasa malam, 2 Juni. Rombongan ini akan diterbangkan menggunakan pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA-8401 pada Rabu, 3 Juni, pukul 08.55 Waktu Arab Saudi (WAS).
Kedatangan jamaah di Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru, dijadwalkan pada Kamis, 4 Juni, pukul 03.15 Waktu Indonesia Tengah (Wita).
Kehilangan Anggota Jamaah
Di sisi lain, suasana duka menyelimuti Kloter 11 di Mina. Seorang anggota jamaah asal Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Abu Yazid Bustami bin Masdar Mahdi, meninggal dunia pada Jumat, 29 Mei, pukul 20.56 WAS. Almarhum yang berusia 52 tahun ini dimakamkan di tanah suci.
Ketua Kloter 11, Asdiansyah, menjelaskan bahwa almarhum sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) Mina pada Jumat pagi. Kondisinya sempat membaik dan diizinkan kembali ke tenda. Namun, sekitar pukul 19.45 WAS, kondisinya kembali menurun, termasuk kesadarannya. Petugas kloter segera meminta bantuan tim medis Arab Saudi dan merujuknya kembali ke Rumah Sakit Mina.
Ketua PPIH Embarkasi Banjarmasin, Eddy Khairani, menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas wafatnya H Abu. Dengan wafatnya beliau, jumlah jamaah Embarkasi Banjarmasin yang meninggal dunia di tanah suci pada musim haji 1447 Hijriah/2026 Masehi menjadi tiga orang.
Kepala Kemenhaj HSU, H Hapizi, melaporkan bahwa almarhum berangkat ke tanah suci bersama istrinya. Pihak keluarga juga telah menerima kabar duka ini. Almarhum dikenal sebagai pribadi yang ramah dan memiliki semangat ibadah yang tinggi.



