Warga Lembang Geram, Offroad Liar Rusak Fasilitas Publik
Kemarahan warga membuncah di kawasan hutan Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Aktivitas offroad yang dilakukan secara liar telah menimbulkan kerusakan parah pada infrastruktur vital yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat. Sebagai bentuk protes dan upaya menghentikan perusakan ini, warga Kampung Cipariuk, Desa Sukajaya, mengambil langkah tegas dengan menutup akses masuk-keluar kawasan hutan menuju permukiman mereka.
Kerusakan yang ditimbulkan oleh kendaraan offroad, baik roda empat maupun motor trail, sangat mengkhawatirkan. Fasilitas yang paling terdampak adalah saluran air bersih dan jalur pertanian yang menjadi urat nadi kehidupan warga.
1. “Ban Ganas” Offroad Hancurkan Pipa Air Bersih
Dadang Aziz Muslim (50), seorang tokoh masyarakat Kampung Cipariuk, mengungkapkan keprihatinannya atas nasib pipa-pipa saluran air bersih yang melintasi kawasan hutan. Pipa-pipa ini kerap kali hancur terlindas oleh ban kendaraan offroad yang melaju tanpa memperhatikan dampaknya. Kondisi ini secara langsung mengganggu pasokan air bersih bagi seluruh warga.
“Sekarang pipa-pipa itu terpaksa dinaikkan (digantung) ke atas karena kalau di tanah sering hancur terlindas ban-ban ganas offroad,” ujar Dadang dengan nada prihatin. Langkah terpaksa ini diambil untuk setidaknya melindungi sisa-sisa infrastruktur air agar tidak semakin rusak.
2. Jalur Rumput dan Akses Kebun Berubah Menjadi Kubangan Lumpur
Selain masalah air, aktivitas offroad juga telah mengubah jalur yang biasa digunakan warga untuk mencari rumput bagi ternak mereka dan sebagai akses menuju lahan pertanian. Jalur yang dulunya rata dan mudah dilalui kini telah berubah menjadi alur yang dalam dan berlumpur, sangat sulit dilalui baik oleh manusia maupun hewan ternak.
Keresahan warga memuncak hingga mereka menggelar aksi unjuk rasa pada Minggu, 15 Februari 2026, menuntut penutupan jalur-jalur yang merusak lingkungan dan mata pencaharian mereka.
3. Akses Desa Hancur Lebur dalam Empat Tahun Terakhir
Dampak kerusakan tidak berhenti di dalam kawasan hutan saja. Jalan kampung yang berfungsi sebagai akses utama keluar-masuk kendaraan offroad kini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
“Jalan desa ini kalau tidak di-hotmix, ya parah sekali. Padahal 4 tahun lalu kondisinya masih bagus,” jelas Dadang. Ia menambahkan bahwa kerusakan parah ini terjadi akibat lalu lintas kendaraan berat yang terus-menerus melintas tanpa terkendali.
4. Desakan Kuat untuk Penertiban Jalur Liar oleh Perhutani
Setelah melalui proses mediasi yang melibatkan pihak Pemerintah Desa, Perhutani, dan komunitas pegiat offroad, akhirnya disepakati bahwa akses di Kampung Cipariuk akan ditutup sementara. Warga memberikan desakan kuat kepada Perhutani agar melakukan penertiban yang lebih selektif dan memberikan sanksi tegas kepada para pelaku offroad liar.
Dadang menekankan pentingnya membedakan antara komunitas offroad yang resmi dan pelaku liar. Ia menilai komunitas resmi, seperti komunitas Land Rover (Lendi), lebih kooperatif dan bertanggung jawab, bahkan seringkali turut serta dalam perbaikan jalan yang rusak.
“Yang perlu diantisipasi itu yang liarnya. Kami minta ada pemetaan ulang dan minimal ada peringatan tegas di jalur-jalur keluar masuk yang tidak resmi agar tidak semakin merugikan masyarakat,” tandasnya.
Poin-poin Utama Keresahan Warga:
- Krisis Air Bersih: Kerusakan pipa akibat aktivitas offroad menyebabkan terputusnya aliran air bersih yang vital bagi kehidupan sehari-hari.
- Hambatan Ekonomi: Rusaknya jalur pencarian rumput dan akses ke kebun sangat menyulitkan peternak dan petani lokal dalam menjalankan aktivitas ekonomi mereka.
- Kerusakan Infrastruktur Desa: Jalan kampung yang telah dibangun dengan susah payah oleh desa mengalami kerusakan parah akibat beban berat kendaraan offroad.
- Tuntutan Warga: Penutupan jalur-jalur tidak resmi dan pengawasan yang lebih ketat dari pihak Perhutani menjadi tuntutan utama warga.
Perhutani Ambil Langkah Tegas: Akses Offroad Ditutup
Menanggapi keresahan warga, Perhutani secara resmi telah melakukan penutupan akses offroad di Kampung Cipariuk, Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Keputusan ini merupakan respons langsung terhadap protes warga terkait kerusakan jalan kampung, saluran air, dan jalur di dalam kawasan hutan yang digunakan untuk aktivitas offroad.
Cucu Supriatna, Asisten Perhutani (Asper) BKPH Lembang, mengonfirmasi bahwa penutupan dilakukan di objek wisata Nyawang Bandung, yang kerap menjadi pintu masuk dan keluar utama bagi kendaraan offroad.
“Kami hari ini bersama masyarakat dan mitra kami Safari Hutan, melakukan pemasangan banner penutupan sementara wisata Nyawang Bandung, jadi dua akses masuk ke akses wisata ini, sementara kita tutup,” ujar Cucu pada Kamis, 19 Februari 2026.
Cucu menjelaskan bahwa keluhan utama warga mencakup kerusakan aliran air, jalur lintasan warga, dan jalan kampung yang disebabkan oleh aktivitas offroad, baik roda empat maupun sepeda motor trail. Kawasan Nyawang Bandung di Kampung Cipariuk memang dikenal sebagai salah satu akses utama bagi komunitas mobil untuk melakukan kegiatan offroad di area hutan.
“Jadi yang dipermasalahkan (warga) cross sama offroad yang melewati akses masyarakat. Itu yang menjadi permasalahan, dan makanya kita melakukan penutupan,” tegasnya.
Perhutani berharap agar permasalahan ini dapat segera terselesaikan. Pihaknya mendorong agar pengelola Nyawang Bandung segera duduk bersama dengan warga untuk mencari solusi terbaik atas permasalahan yang ada.
“Mudah-mudahan Nyawang Bandung cepat ada solusi, cepat ada kesepakatan antara pengelola dengan warga. Mudah-mudahan menjelang lebaran, sudah buka lagi,” harap Cucu.
Cucu juga menambahkan bahwa Safari Hutan merupakan satu-satunya mitra wisata offroad resmi yang bekerja sama dengan Perhutani. Ia mengakui bahwa aktivitas offroad liar masih sering terjadi, baik yang dilakukan secara mandiri maupun berkelompok.
“Jadi mudah-mudahan dengan adanya gerakan ini, diharapkan aktivitas offroad liar bisa gabung ke Safari Hutan. Jadi yang terbaik itu kolaborasi dengan komunitas dan masyarakat,” pungkasnya, menekankan pentingnya sinergi untuk pengelolaan kawasan yang lebih baik.




















