Dunia saat ini tengah menyaksikan pergeseran lanskap geopolitik yang signifikan, di mana berbagai forum internasional menjadi panggung untuk merajut kembali tatanan global yang baru. Pertemuan-pertemuan multilateral, termasuk yang akan datang di Jenewa dan potensi agenda di Bali, bukan lagi sekadar forum dialog, melainkan arena strategis yang mencerminkan ketegangan dan negosiasi kepentingan antarnegara. Perubahan ini menandai era baru dalam dinamika global, di mana Indonesia berupaya memposisikan diri secara strategis.
Pergeseran Geopolitik Menuju Tatanan Multipolar
Era dominasi tunggal kekuatan super mulai memudar, digantikan oleh munculnya kekuatan-kekuatan baru yang membentuk blok-blok dengan pengaruh geopolitik yang kian menguat. Fenomena ini terlihat jelas dari menguatnya aliansi seperti BRICS, yang tidak hanya berfokus pada kerja sama ekonomi tetapi juga bertransformasi menjadi poros geopolitik alternatif. Kehadiran negara-negara berkembang dalam forum-forum ini menunjukkan adanya aspirasi untuk tatanan dunia yang lebih multipolar dan inklusif. Indonesia, dengan posisinya yang strategis, berupaya menjaga keseimbangan dan kemandirian dalam menghadapi dinamika ini.
Dewan HAM PBB dan Peran Strategis Indonesia
Indonesia baru saja terpilih kembali menjadi anggota Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB untuk periode 2024-2026, sebuah kepercayaan yang diberikan negara-negara anggota mengingat kapasitas Indonesia dalam menangani isu HAM. Pemilihan ini, dengan perolehan suara terbanyak di antara negara-negara Asia Pasifik, menegaskan peran penting Indonesia dalam mempromosikan dan melindungi HAM di tingkat global. Agenda utama Indonesia di Dewan HAM PBB mencakup penguatan hak perempuan dan anak, jaminan akses pembangunan, serta isu hak sipil dan politik.
Salah satu isu krusial yang akan diangkat Indonesia adalah persoalan Palestina. Meskipun telah menjadi agenda tetap di Dewan HAM PBB, isu ini seringkali terpinggirkan oleh isu-isu mendesak lainnya. Indonesia bertekad untuk kembali memfokuskan perhatian dunia pada penyelesaian konflik Palestina yang telah berlangsung puluhan tahun, serta mencari jalan keluar bagi krisis di Myanmar dari perspektif HAM.
Potensi Bali Menjadi Lokus Dialog Geopolitik
Di tengah perubahan lanskap global, kehadiran Indonesia dalam forum-forum internasional semacam ini membuka peluang bagi Bali untuk menjadi tuan rumah dialog-dialog penting. KTT BRICS di Rio de Janeiro pada 2025 yang dihadiri Presiden Indonesia, misalnya, mengindikasikan kesiapan Indonesia untuk terlibat aktif dalam perumusan keseimbangan baru dunia. Jika diplomasi Indonesia terus berkembang, bukan tidak mungkin Bali, dengan infrastruktur dan daya tariknya, dapat menjadi lokasi strategis untuk pertemuan tingkat tinggi yang membahas isu-isu geopolitik global yang mendesak.
Hal ini sejalan dengan visi Indonesia untuk menjadi kekuatan regional yang diperhitungkan. Perluasan agenda kerja sama ekonomi, teknologi, dan pertahanan akan membutuhkan platform dialog yang lebih sering. Bali, dengan pengalaman sebelumnya menjadi tuan rumah berbagai pertemuan internasional, memiliki potensi untuk kembali memegang peran kunci dalam memfasilitasi diskusi-diskusi penting ini.
Tantangan dan Peluang bagi Indonesia
Pergeseran menuju tatanan multipolar menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia. Di satu sisi, terbuka lebar peluang kerja sama ekonomi, teknologi, dan pertahanan dengan berbagai negara dan blok kekuatan. Namun, di sisi lain, Indonesia juga harus mampu menavigasi ketegangan antarblok dan menjaga kemandirian politik luar negerinya. Prinsip bebas-aktif perlu dijalankan secara lebih fleksibel dan adaptif dalam merespons gejolak global yang tak menentu.
Untuk memperkuat posisinya, Indonesia perlu merumuskan strategi geostrategis yang multidimensional, tidak hanya berfokus pada kekuatan militer tetapi juga mencakup aspek ekonomi, teknologi, diplomasi, budaya, dan siber. Penguatan industri pertahanan, modernisasi alutsista, dan peningkatan ketahanan ekonomi serta energi menjadi fondasi penting. Kemandirian ekonomi bukan hanya soal kesejahteraan, tetapi juga kekuatan negara dalam menghadapi tekanan global dan ancaman non-tradisional seperti pandemi, serangan siber, dan bencana alam.
Peran aktif Indonesia dalam berbagai forum internasional, baik di Jenewa maupun potensi peran di masa depan, menunjukkan upaya berkelanjutan untuk berkontribusi dalam menciptakan tatanan dunia yang lebih stabil dan berkeadilan.
Penulis: Erwin



















