Pengawasan dan Efektivitas Sistem Barcode dalam Distribusi BBM
Anggota Komisi XII DPR RI, Syafruddin, melakukan peninjauan di SPBU Jalan MT Haryono, kawasan Damai, Balikpapan, Senin (27/4/2026). Kunjungan ini dilakukan bersama PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, menyusul adanya penyesuaian harga BBM jenis dexlite oleh pemerintah. Tujuan dari kunjungan ini adalah untuk memantau ketersediaan BBM serta mengamati proses transaksi di lapangan, termasuk antrean pembayaran hingga implementasi sistem barcode untuk BBM subsidi.
Dari hasil pengamatannya, Syafruddin menilai bahwa penerapan sistem barcode memberikan dampak positif, terutama dalam mengurangi antrean panjang di SPBU pada jam operasional siang hari. “Ini terlihat dari tidak adanya antrean panjang di SPBU pada jam operasional siang hari,” ujarnya. Ia juga menilai bahwa sistem barcode mampu mengatur distribusi BBM subsidi agar lebih tepat sasaran dan meminimalkan kepadatan kendaraan di area SPBU.
Ancaman Penyalahgunaan Barcode
Meski demikian, Syafruddin mengingatkan adanya potensi penyalahgunaan sistem, seperti penggunaan barcode ganda atau akun ganda untuk memperoleh BBM subsidi secara tidak sah. Hal ini berkaca dari kasus yang pernah diungkap oleh kepolisian, di mana pelaku memanfaatkan beberapa barcode untuk mengumpulkan BBM dari berbagai SPBU, kemudian menimbunnya dalam jumlah besar. Menurut Syafruddin, kondisi ini harus menjadi perhatian bersama agar tidak merugikan masyarakat yang benar-benar berhak.
Peran Masyarakat dan Aparat Penegak Hukum
Syafruddin menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam mengawasi distribusi BBM subsidi. Ia meminta warga untuk segera melapor jika menemukan indikasi penyalahgunaan. “Kami meminta masyarakat yang menemukan kasus dobel barcode untuk melaporkan kepada pihak berwajib,” tegasnya. Ia juga menyebut bahwa laporan masyarakat, termasuk melalui media sosial, dapat membantu percepatan penanganan kasus.
Di sisi lain, aparat penegak hukum, khususnya kepolisian, diminta lebih proaktif dalam melakukan pengawasan dan penindakan. Dengan kerja sama yang baik antara masyarakat dan aparat, diharapkan penyalahgunaan sistem bisa diminimalkan.
Pengalaman Konsumen di Lapangan
Sementara itu, seorang konsumen bernama Andi mengungkapkan bahwa sistem barcode cukup memudahkan proses pembelian BBM subsidi. Namun, ia menyoroti antrean pada jalur pembayaran tunai yang masih memakan waktu. “Kalau yang pakai barcode ini sebenarnya mudah, cuma antrean yang bayar cash itu sudah panjang,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sistem digital telah membantu, aspek pelayanan di lapangan masih perlu terus disempurnakan.
Syafruddin menegaskan bahwa BBM subsidi memiliki kuota terbatas yang diperuntukkan bagi masyarakat tertentu. Oleh karena itu, pengawasan harus diperketat agar tidak terjadi kelebihan distribusi akibat penyalahgunaan.
Tantangan dan Solusi yang Diperlukan
Selain itu, diperlukan peningkatan koordinasi antara pihak Pertamina, pemerintah daerah, dan aparat penegak hukum untuk memastikan bahwa sistem distribusi BBM berjalan dengan baik. Peningkatan edukasi kepada masyarakat tentang cara menggunakan sistem barcode juga menjadi hal penting. Dengan begitu, masyarakat akan lebih sadar dan dapat memaksimalkan manfaat dari sistem tersebut tanpa terlibat dalam praktik penyalahgunaan.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, penerapan sistem barcode dan layanan mandiri dalam distribusi BBM menunjukkan keberhasilan dalam mengurangi antrean dan meningkatkan efisiensi. Namun, tantangan seperti penyalahgunaan sistem tetap menjadi perhatian serius. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat untuk memastikan bahwa BBM subsidi benar-benar sampai kepada yang berhak.















