Kisah Sartun: Perjuangan Menuju Rumah Layak Huni Demi Suami Tercinta
Di tengah hiruk pikuk kesibukan mudik, terselip sebuah kisah pilu namun penuh semangat dari Sartun (55 tahun), seorang wanita tangguh yang melakukan perjalanan seorang diri dari Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menuju Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Perjalanannya bukan sekadar pulang kampung biasa, melainkan misi penting untuk menjenguk suaminya yang sedang terbaring sakit dan membawa harapan baru untuk memperbaiki rumah mereka yang memprihatinkan.

Sartun, dengan sorot mata yang menyimpan sejuta cerita, tampak termenung di Terminal Induk Jati Kudus pada Rabu (18/3). Di tangannya tergenggam tiket bus, saksi bisu dari tekadnya yang kuat. Ia membawa dua dus berisi pakaian, satu tas besar, dan dua goodie bag. Beban bawaannya lumayan banyak, sebagian merupakan pakaian yang ia dapatkan dari sang majikan. Perjalanan ini adalah buah dari kerja kerasnya selama tiga bulan terakhir sebagai asisten rumah tangga (ART) di sebuah klinik di Kota Kretek.
Pekerjaannya sehari-hari tidak ringan. Ia tak hanya menjaga anak pemilik klinik, tetapi juga bertanggung jawab atas kebersihan tempat tersebut. Namun, di balik lelahnya, tersembunyi tujuan mulia. “Penghasilan saya gunakan untuk memperbaiki rumah. Setiap bulan saya kirim ke suami saya untuk dibelikan material pasir, semen, batu bata,” ungkap Sartun dengan nada lirih namun penuh keyakinan.
Dukungan untuk Suami dan Rumah yang Terlantar
Kondisi rumah Sartun saat ini sungguh memprihatinkan. Dindingnya terbuat dari bambu yang rapuh, atapnya sering bocor, dan lantainya masih beralaskan tanah. Kondisi ini diperparah dengan sakit yang diderita suaminya. “Biasanya suami saya nukang sendiri memperbaiki rumah, tetapi saat ini sedang sakit, kepalanya sering pusing sakit vertigo, sehingga harus istirahat,” jelas Sartun, menjelaskan alasan mengapa ia harus turun tangan langsung.
Keputusan untuk bekerja di Kudus pun diambil demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Ia rela meninggalkan suaminya di Ngawi demi mewujudkan impian memiliki rumah yang layak. Setiap bulan, ia mengirimkan sebagian besar penghasilannya untuk keperluan perbaikan rumah, berharap kelak mereka bisa menempati hunian yang lebih baik dan aman.
Mimpi Sebuah Atap yang Kokoh

“Saya ingin memiliki rumah sendiri. Selama 15 tahun ini saya dan keluarga menempati rumah saudara. Rumah saya sendiri saat ini belum bisa ditempati karena butuh perbaikan,” ujar Sartun dengan raut wajah yang menunjukkan kerinduan mendalam akan rumah sendiri. Mimpi ini bukanlah hal baru, melainkan cita-cita yang telah lama terpendam dan kini semakin mendesak untuk diwujudkan.
Rencananya, Sartun akan berada di Ngawi selama dua pekan. Selama waktu tersebut, ia akan fokus merawat suaminya dan mengawasi progres perbaikan rumah. Keputusan selanjutnya, apakah akan kembali ke Kudus untuk bekerja atau mencari peluang di kampung halamannya sambil menemani suami, masih akan ia pikirkan matang-matang. “Nanti saya pikirkan lagi setelah lebaran. Intinya saya harus kerja untuk memperbaiki rumah,” tegasnya.
Meskipun terkadang rasa ragu menghampiri, keraguan akan kemampuan untuk menyelesaikan perbaikan rumah, Sartun tidak pernah menyerah. Ia terus berusaha menabung, menyisihkan sebagian kecil dari penghasilannya yang pas-pasan. “Hari ini saja uang saya sudah habis untuk membeli tiket,” ucapnya, menyiratkan betapa berharganya setiap rupiah yang ia keluarkan untuk tujuan mulia ini.
Kisah Sartun adalah pengingat tentang kekuatan cinta dan ketekunan seorang istri yang berjuang demi keluarganya. Ia adalah simbol perjuangan gigih melawan keterbatasan demi sebuah impian sederhana namun sangat berarti: memiliki rumah yang aman dan layak huni, serta merawat suami tercinta hingga pulih.




















