Kasus dugaan penipuan yang melibatkan Wedding Organizer (WO) PT Ayu Puspita Sejahtera (APS) terus bergulir. Pemilik WO, Ayu Puspita, kini telah ditangkap oleh Polres Metro Jakarta Utara beserta empat orang pegawainya untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Penangkapan ini merupakan tindak lanjut dari laporan yang dibuat oleh para korban yang merasa dirugikan.
Penangkapan dan Pemeriksaan
Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Pol Erick Frendriz, menjelaskan bahwa pihaknya telah menerima laporan dari sejumlah korban terkait dugaan penipuan dan penggelapan yang dilakukan oleh WO tersebut.
“Polres Metro Jakarta Utara menerima laporan dari beberapa pelapor terkait penipuan atau penggelapan yang dilakukan salah satu wedding organizer di wilayah Jakarta,” ujar Kombes Pol Erick Frendriz.
Modus yang digunakan, menurut Erick, adalah WO menerima pembayaran penuh untuk penyelenggaraan acara pernikahan, termasuk catering. Namun, pada hari pelaksanaan, layanan yang dijanjikan tidak diberikan.
“WO ini sudah menerima uang untuk melaksanakan resepsi, kemudian pada hari H tidak terlaksana sesuai kesepakatan. Salah satu contoh, makanan yang harusnya dihadirkan saat pesta tidak datang,” jelasnya.
Akibatnya, para korban yang merasa dirugikan kemudian melaporkan kejadian ini ke polisi. Sebagian korban mengaku telah membayar hingga puluhan juta rupiah.
“Ada lima orang yang sedang kami periksa, termasuk pemilik, manajer, dan karyawan,” imbuh Erick. Ayu Puspita dan para pegawainya diamankan di wilayah Jakarta Timur, setelah polisi menerima informasi dari warga. Mereka kemudian diserahkan ke Polres Metro Jakarta Utara karena laporan resmi berada di wilayah hukum tersebut.
Pengakuan Kontroversial Ayu Puspita
Sebelum penangkapannya, pengakuan Ayu Puspita terkait ganti rugi kepada kliennya justru menuai kontroversi. Alih-alih meredakan kemarahan publik, penjelasannya justru membuka fakta baru yang semakin memperkeruh suasana. Pasalnya, kondisi keuangan Ayu Puspita saat ini sangat memprihatinkan. Ia mengaku saldo di rekeningnya hanya Rp463 ribu.
Saat didatangi di rumahnya, Ayu Puspita mengaku tidak memiliki tabungan berupa emas maupun uang tunai untuk mengembalikan uang klien. Ia mengakui bahwa uang klien telah digunakan untuk membeli rumah dan berlibur ke luar negeri. Ayu Puspita berjanji akan mengembalikan uang klien setelah rumahnya terjual.
“Cuma saya ada KPR (kredit pemilikan rumah), cuma memang kan di situ, memang di situ saya DP-nya (uang muka) lumayan besar,” kata Ayu Puspita. “Nah, itu saya lagi berusaha untuk saya jual. Itu asetnya nanti bisa untuk refund inilah, salah satu usaha saya,” bebernya.
Manajemen keuangan WO milik Ayu Puspita diduga berantakan karena uang dari klien baru digunakan untuk menutupi kekurangan klien lain.
“Makanya itu kemarin benar-benar yang waktu bermasalah, yang masalah katering itu, itu memang baru sekali, untuk masalah katering. Sebelumnya, kami tidak pernah untuk kekurangan katering, malah lebih,” imbuhnya.
Jumlah Korban dan Kerugian
Kombes Pol Erick Frendriz memperkirakan jumlah korban akan terus bertambah. “Termasuk dari korban lain masih banyak yang berdatangan. Ternyata banyak yang menjadi korban WO tersebut,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa laporan yang masuk ke Polres Metro Jakarta Utara baru satu, namun kejadian serupa juga muncul di wilayah lain dan berpotensi ditangani lintas polres. Terkait kerugian, polisi belum dapat memastikan total nominalnya karena banyaknya korban baru yang melapor.
“Kerugian masih dihitung, karena banyak korban-korban baru,” kata Erick.

Trik Marketing yang Menjerat Korban
Di balik kasus viral ini, terungkap trik marketing yang diduga digunakan WO Ayu Puspita untuk menjerat para korban. Salah satu korban, Satrio Yuda, mengungkapkan bahwa dirinya tergiur dengan iming-iming bonus 14 gubukan makanan dalam satu paket pernikahan yang dipesannya dari WO tersebut.
Satrio mengaku tertarik dengan paket yang ditawarkan karena harganya lebih murah dibandingkan WO lain. Selain itu, setiap pembayaran termin disertai bonus tambahan.
“Kita diiming-imingi bonus-bonus yang lumayan banyak lah gitu. Dari total, jadi kan kita ada pembayaran itu ada tiga termin gitu. Jadi untuk termin pertama itu DP 50 persen, nah terus dari marketingnya itu biasanya WhatsApp,” kata Satrio.
“Untuk kalau mau pembayaran lagi nanti kita dapat beberapa bonus-bonus, jadinya banyak yang tergiur lah. Saya itu bonusnya sekitar 14 gubukan. Jadi kalau mungkin kalau dihitung secara yang lain lagi itu ya, 14 gubukan dengan harga Rp 170 juta ya terhitung murah sih,” sambungnya.
Satrio mengungkapkan bahwa dirinya dan pasangan sudah membayar sekitar Rp 147 juta dari total paket Rp 170 juta. Menurutnya, WO tersebut tampak meyakinkan karena aktif mengikuti pameran pernikahan di berbagai tempat.

Satrio dan pasangannya yang merupakan customer WO Ayu Puspita sedianya menikah pada 24 Januari 2026 di salah satu gedung di Depok, Jawa Barat. Ia mengaku pertama kali mengetahui adanya masalah dari pihak gedung yang mengabarkan kasus viral WO Ayu Puspita.
“Pihak gedung ini punya grup sesama venue. Mereka ngasih tahu bahwa WO Ayu Puspita ada masalah, makanan nggak datang pas acara salah satu pasangan,” kata dia.
Dari informasi yang tersebar di grup WhatsApp, disebutkan ada lebih dari 200 pasangan calon pengantin yang menjadi korban, dengan total kerugian ditaksir mencapai Rp 16 miliar.
Satrio juga menceritakan nasib korban lain yang pernikahannya digelar pada 6 Desember 2025. Saat itu, pihak catering tidak datang, dekorasi setengah jadi, tamu sudah terlanjur hadir, hingga keluarga mempelai jatuh pingsan karena panik.
“Kebanyakan catering-nya nggak datang. Ada yang desainnya cuma setengah jadi. Tamu udah datang semua. Akhirnya ada yang pesan nasi padang sama makanan sekitar gedung,” ucapnya.
Harapan Para Korban
Saat ini, Satrio bersama para korban lain sudah membentuk grup komunikasi dan tengah melapor resmi ke Polres Metro Jakarta Utara. Mereka berharap ada penyelesaian yang jelas dari pihak berwajib.
“Harapan saya sih semoga uang kami bisa kembali. Kalau nggak bisa kembali, minimal gimana caranya acara kami tetap bisa berjalan sebagaimana mestinya,” kata Satrio.



















