Tradisi Unik Warga Kecamatan Ladongi dalam Menyambut Salat Idulfitri
Di Kecamatan Ladongi, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), Sulawesi Tenggara (Sultra), warga memiliki cara khas untuk mendapatkan posisi yang strategis saat pelaksanaan Salat Idulfitri 1447 Hijriah atau Id 2026. Tradisi membawa tikar dari rumah menjadi hal yang lumrah setiap tahunnya, terutama di Masjid Nurul Yaqin, Kelurahan Atula.
Pemandangan ini tidak hanya sekadar kebiasaan, tetapi juga bagian dari upaya jemaah mengamankan tempat salat di tengah jumlah warga yang sangat banyak. Kapasitas masjid tersebut terbatas, sehingga tidak mampu menampung seluruh jemaah, terutama pada momen hari raya yang selalu dihadiri oleh warga dari berbagai wilayah.
Masjid berwarna putih dan hijau ini biasanya hanya menyediakan ruang untuk jemaah laki-laki di bagian dalam. Sementara itu, jemaah perempuan melaksanakan salat di area luar masjid yang telah disiapkan oleh panitia menggunakan tenda. Kondisi ini membuat jemaah perempuan harus membawa alas sendiri, karena panitia tidak menyediakan tikar secara khusus.
Meski begitu, tenda biru yang dipasang cukup membantu melindungi jemaah dari panas, terutama jika mereka datang lebih awal. Ketika tiba di lokasi, jemaah langsung menggelar tikar untuk menandai dan mengamankan posisi mereka. Aktivitas ini sudah menjadi kebiasaan turun-temurun setiap pelaksanaan Salat Id di Masjid Nurul Yaqin.
Kebersamaan dalam Tradisi
Fenomena ini juga menunjukkan kebersamaan antar warga. Beberapa warga dengan sukarela berbagi tempat atau mempersilakan jemaah lain bergabung di atas tikar yang mereka bawa, meskipun tidak saling mengenal. Hal ini mencerminkan semangat gotong royong yang kuat di tengah masyarakat setempat.
Warga Kelurahan Atula, Indri, menjelaskan bahwa membawa tikar dari rumah sudah menjadi hal biasa setiap tahun saat Salat Id berlangsung. Ia mengatakan, keterbatasan kapasitas Masjid Nurul Yaqin membuat jemaah harus berinisiatif sendiri agar tetap bisa beribadah dengan nyaman.
Selain itu, kebiasaan membawa tikar dari rumah juga menjadi upaya warga mengurangi penggunaan alas sekali pakai seperti koran maupun kardus bekas saat pelaksanaan Salat Id. Dengan demikian, pengurus masjid maupun jemaah tidak perlu lagi membersihkan koran ataupun kardus bekas yang digunakan sekali sebagai alas. Hal ini juga menjaga kebersihan halaman masjid.
“Kalau bawa tikar sendiri lebih rapi juga, tidak banyak sampah kardus yang dibuang setelah salat,” ujarnya.
Lokasi dan Akses
Atula berada sejauh 123 kilometer dari Kota Kendari, ibu kota Provinsi Sultra. Wilayah ini dapat ditempuh melalui jalur darat dengan naik motor atau mobil selama kurang lebih 3-4 jam berkendara.



















