Kelangkaan BBM di Lembata Picu Harga Eceran Melambung Tinggi
Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), tengah dilanda kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang signifikan dalam beberapa hari terakhir. Situasi ini telah memicu kenaikan drastis harga BBM yang dijual secara eceran, mencapai angka Rp 50.000 per botol. Kondisi ini menimbulkan kesulitan berat bagi masyarakat, terutama para pekerja yang bergantung pada kendaraan bermotor untuk operasional sehari-hari.
Remigius (35), seorang pengemudi ojek, mengaku sangat kewalahan menghadapi kelangkaan ini. Ia terpaksa membatalkan sejumlah pesanan dari pelanggan karena kesulitan mendapatkan pasokan BBM. “Mendapatkan BBM sekarang sangat sulit, pesanan pelanggan terpaksa dibatalkan,” keluhnya saat dihubungi pada hari Senin (26/1/2026).
Remigius menjelaskan bahwa stok BBM di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Lembata sangat terbatas. Hal ini menyebabkan antrean panjang di SPBU, dan banyak warga yang pulang dengan kecewa karena tidak berhasil mendapatkan BBM. “Kadang antre lama di SPBU, tetapi sama saja, kadang tidak dapat BBM. Terpaksa beli BBM eceran, meskipun harganya mahal,” ungkapnya dengan nada prihatin.
Alfons Tokan (45), seorang warga Kota Lewoleba, turut mengutarakan hal serupa. Ia menyampaikan bahwa kelangkaan BBM ini sangat berdampak pada berbagai aktivitas warga. Ketika dalam keadaan mendesak, warga terpaksa membeli BBM eceran dengan harga yang sangat tinggi. “Harga BBM eceran bervariasi, mulai Rp 35.000 sampai Rp 50.000 per botol. Mau tidak mau kita harus beli,” katanya, menunjukkan betapa terdesaknya warga.
Alfons menambahkan bahwa kelangkaan BBM di Kabupaten Lembata bukanlah hal baru, melainkan sudah sering terjadi. Ia berharap pemerintah dapat belajar dari pengalaman sebelumnya agar kondisi serupa tidak terulang kembali. “Semestinya pemerintah belajar dari pengalaman sebelumnya, agar kondisi yang serupa tidak lagi terjadi,” tegasnya, menyuarakan aspirasi banyak warga. Ia berharap pemerintah dan Pertamina dapat segera menemukan solusi untuk persoalan ini.
Penyebab Kelangkaan dan Upaya Mitigasi oleh Pertamina
Menanggapi kelangkaan BBM yang terjadi, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, memberikan penjelasan. Menurutnya, distribusi BBM ke Lembata terhambat sejak tanggal 19 Januari 2025 akibat dampak cuaca buruk.
“Sesuai arahan Otoritas Pelabuhan Larantuka, penyeberangan kapal pengangkut BBM dari Pelabuhan Larantuka ke Pulau Adonara dan Pulau Lembata belum bisa dilaksanakan karena kondisi cuaca buruk serta gelombang tinggi di jalur pelayaran Selat Solor dan Selat Lembata,” terang Ahad. Kondisi alam yang tidak bersahabat ini menjadi kendala utama dalam pengiriman pasokan BBM ke wilayah kepulauan tersebut.
Pertamina tidak tinggal diam dalam menghadapi situasi ini. Ahad menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi intensif dengan pemerintah daerah setempat dan pihak-pihak terkait lainnya. Tujuannya adalah untuk mempercepat dan memitigasi distribusi BBM di Larantuka dan wilayah sekitarnya.
Sebagai langkah mitigasi awal, Pertamina menerapkan pengaturan penjualan BBM hingga pasokan BBM berikutnya diterima. Secara paralel, Pertamina mengajukan permohonan kepada Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Larantuka terkait rekomendasi proses bongkar muat kapal BBM.
Koordinasi juga dilakukan dengan Bupati Lembata dan Bupati Flores Timur. Tujuannya adalah untuk memfasilitasi proses muat kapal BBM pada jam operasional pelabuhan umum dan mengatur sementara penjualan BBM selama masa krisis ini. “Koordinasi kepada Bupati Lembata dan Bupati Flores Timur juga dilakukan untuk proses muat kapal BBM pada waktu jam operasional pelabuhan umum dan pengaturan sementara penjualan BBM untuk sementara waktu,” jelas Ahad.
Situasi Berangsur Normal dan Langkah Pencegahan Penyelewengan
Ahad mengungkapkan bahwa kondisi mulai berangsur normal. Pasokan BBM berhasil dikirimkan ke Pulau Lembata dan Adonara pada hari berikutnya, Selasa, 20 Januari 2026. Distribusi rata-rata mencapai 25-35 kiloliter per hari, menunjukkan adanya perbaikan pasokan.
Lebih lanjut, sebagai langkah mitigasi lanjutan, Pertamina berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan aparat penegak hukum (APH) setempat. Tujuannya adalah untuk meminimalisir potensi penyalahgunaan BBM, seperti penimbunan oleh pelangsir. Pertamina juga melakukan pemblokiran nomor polisi (nopoll) bagi kendaraan yang terindikasi melakukan praktik pelangsiran.
“Terakhir seluruh SPBU telah diarahkan untuk menyalurkan BBM sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan mengutamakan penjualan kepada kendaraan,” tandasnya, menegaskan komitmen untuk memastikan BBM sampai ke tangan konsumen yang berhak.
Meskipun kondisi sudah mulai membaik, Ahad mengingatkan masyarakat untuk tetap melakukan pembelian BBM secara bijak dan sesuai dengan kebutuhan. Penggunaan BBM yang efisien dan tidak berlebihan akan membantu menjaga stabilitas pasokan di masa mendatang.
Dampak Kelangkaan Terhadap Aktivitas Warga
Kelangkaan BBM ini bukan hanya sekadar masalah antrean di SPBU atau kenaikan harga eceran. Dampaknya terasa jauh lebih luas dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Lembata.
Aktivitas Ekonomi Terganggu:
Bagi para pelaku usaha kecil seperti pedagang keliling, nelayan, dan pengemudi transportasi, BBM adalah urat nadi operasional mereka. Keterbatasan pasokan memaksa mereka untuk mengurangi jam kerja, membatalkan pesanan, atau bahkan menghentikan sementara aktivitas mereka. Hal ini tentu berdampak pada pendapatan dan kelangsungan usaha mereka.Biaya Hidup Meningkat:
Kenaikan harga BBM eceran yang drastis secara langsung meningkatkan biaya operasional untuk berbagai keperluan. Mulai dari mengantar anak sekolah, berbelanja kebutuhan pokok, hingga melakukan perjalanan penting, semuanya menjadi lebih mahal. Hal ini membebani anggaran rumah tangga masyarakat, terutama bagi mereka yang memiliki pendapatan terbatas.Aksesibilitas Terbatas:
Di daerah kepulauan seperti Lembata, transportasi darat dan laut sangat bergantung pada ketersediaan BBM. Kelangkaan dapat membatasi mobilitas warga, menyulitkan akses ke layanan kesehatan, pendidikan, atau bahkan untuk sekadar bersilaturahmi dengan keluarga di pulau lain.Potensi Keresahan Sosial:
Ketika kebutuhan dasar seperti BBM sulit terpenuhi dan harganya melambung tinggi, potensi keresahan sosial dapat meningkat. Masyarakat yang merasa kebutuhan mereka tidak terpenuhi dapat menimbulkan kekecewaan dan ketidakpuasan terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab.
Situasi ini menekankan pentingnya manajemen pasokan energi yang baik dan antisipasi terhadap potensi kendala, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki akses transportasi terbatas seperti Lembata. Kolaborasi antara pemerintah, Pertamina, dan masyarakat menjadi kunci untuk mengatasi krisis seperti ini dan mencegahnya terulang kembali di masa depan.



















