Ketidakpastian Karim Benzema di Al Ittihad: Antara Latihan dan Spekulasi Hengkang
Karim Benzema, sang bintang lapangan hijau, kembali menjadi sorotan utama di tengah situasi yang penuh tanda tanya di klubnya, Al Ittihad. Meskipun telah terlihat berlatih bersama tim, statusnya untuk tampil dalam pertandingan Liga Pro Saudi mendatang masih belum menemui kejelasan. Akar permasalahan ini diduga kuat berawal dari negosiasi kontrak baru yang dilaporkan tidak berjalan mulus, sehingga memicu spekulasi liar mengenai kemungkinan kepindahannya dari Arab Saudi. Situasi ini tentu menjadi pukulan telak bagi Al Ittihad yang saat ini tengah menghadapi krisis pilihan pemain di lini serang.
Benzema kembali menarik perhatian publik menjelang pertandingan penting Al Ittihad melawan Al Najma dalam pekan ke-20 Liga Pro Saudi. Sebelumnya, pemain asal Prancis ini sempat dikabarkan meninggalkan tim dan enggan berpartisipasi dalam beberapa pertandingan. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa ia telah bergabung kembali dalam sesi latihan tim menjelang laga krusial tersebut. Al Najma sendiri saat ini menduduki posisi juru kunci klasemen Liga Arab Saudi, sebuah fakta yang seharusnya memudahkan Al Ittihad.
Meski demikian, kepastian apakah sang kapten akan masuk dalam daftar pemain yang diturunkan masih menjadi misteri. Sejumlah laporan dari media-media Arab Saudi mengindikasikan bahwa Benzema kemungkinan besar akan kembali absen, serupa dengan yang terjadi pada laga sebelumnya ketika Al Ittihad ditahan imbang oleh Al Fateh dengan skor 2-2. Ketidakpastian ini tidak terlepas dari dinamika hubungan antara Benzema dan manajemen Al Ittihad terkait perpanjangan kontraknya.
Permasalahan Kontrak dan Tawaran yang Diperdebatkan
Kontrak Benzema bersama Al Ittihad sejatinya masih berlaku hingga 30 Juni 2026. Namun, muncul perbedaan pandangan yang signifikan mengenai skema perpanjangan kontrak yang diajukan oleh klub. Beberapa media internasional melaporkan bahwa Benzema merasa kecewa dengan proposal yang diajukan. Proposal tersebut disebut-sebut mengarah pada perpanjangan kontrak selama satu musim tanpa adanya gaji tetap, namun sebagai gantinya, Benzema akan mendapatkan hak penuh atas pemasaran citra dirinya.
Bagi seorang pemain dengan status dan rekam jejak sekelas Karim Benzema, tawaran semacam ini dianggap tidak sepadan dengan kontribusinya yang krusial sebagai wajah utama dari proyek ambisius Al Ittihad. Ketegangan yang timbul akibat perbedaan pandangan ini diduga kuat berdampak langsung pada performa dan ketersediaannya di lapangan. Absennya Benzema saat Al Ittihad ditahan imbang oleh Al Fateh, dan kemungkinan besar tidak masuk dalam skuad menghadapi Al Najma, menjadi bukti nyata dari dampak tersebut.
Padahal, jika dilihat dari statistik, pemain berusia 38 tahun ini masih menjadi salah satu andalan tim. Ia telah mencatatkan 8 gol dari 14 penampilan di Liga Pro Saudi musim ini, sebuah angka yang menunjukkan bahwa kualitasnya belum menurun.
Sikap Tim: Fokus pada Pertandingan, Urusan Manajemen
Di dalam tim, para pemain dan staf pelatih Al Ittihad memilih untuk memisahkan urusan pribadi sang kapten dari fokus utama mereka di lapangan. Pelatih Sergio Conceicao menegaskan bahwa segala hal yang berkaitan dengan Benzema berada di ranah manajemen klub. Sementara itu, tugas tim pelatih dan para pemain adalah mengembalikan Al Ittihad ke jalur kemenangan dan meraih hasil positif.
Bahkan, muncul pandangan di kalangan tim bahwa absennya Benzema dalam beberapa pertandingan bisa menjadi momentum berharga untuk membangun kolektivitas tim. Hal ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan tim pada satu sosok bintang. Kondisi ini semakin mendesak mengingat posisi Al Ittihad yang terus merosot di klasemen sementara Liga Pro Saudi. Saat ini, mereka berada di peringkat keenam dengan 31 poin, tertinggal 15 poin dari Al Hilal yang kokoh di puncak klasemen.
Namun, di sisi lain, kehilangan pemain dengan pengalaman dan kualitas superior seperti Benzema jelas bukan perkara yang mudah untuk diatasi. Al Ittihad kini tengah menghadapi krisis di lini serang. Steven Bergwijn masih dibekap cedera, Saleh Al Shehri belum pulih sepenuhnya, dan Talal Haji, yang baru saja kembali dari masa peminjaman, belum menunjukkan kontribusi gol yang berarti di musim ini. Situasi ini semakin memperparah kekosongan yang seharusnya diisi oleh kehadiran Benzema.
Rumor Transfer: Al Hilal, Turki, atau Kembali ke Lyon?
Sementara itu, di luar lapangan, rumor mengenai masa depan Benzema semakin liar beredar. Nama mantan penyerang Real Madrid ini kembali dikaitkan dengan Al Hilal, pemuncak klasemen Liga Pro Saudi saat ini. Beberapa platform media melaporkan adanya komunikasi intensif antara kedua belah pihak. Meskipun demikian, sumber internal Al Ittihad dengan tegas membantah kabar tersebut.
Berdasarkan laporan dari Goal Arab Saudi, manajemen klub menyatakan bahwa Benzema tidak akan memperkuat klub Saudi lainnya selain Al Ittihad. Namun, jika perpisahan dengan Al Ittihad benar-benar terjadi, dua opsi yang paling realistis bagi Benzema adalah pindah ke liga Turki atau kembali ke klub masa kecilnya, Olympique Lyon.
Perkembangan situasi yang dialami Benzema saat ini mengingatkan publik pada gejolak serupa yang terjadi pada musim panas 2024. Kala itu, Benzema juga sempat dikabarkan ingin meninggalkan Al Ittihad sebelum akhirnya memutuskan untuk bertahan. Pada periode tersebut, Al Ittihad bahkan merekrut beberapa figur yang dekat dengannya, seperti Laurent Blanc sebagai pelatih, serta Moussa Diaby dan Houssem Aouar sebagai pemain. Hasilnya pun cukup memuaskan, Al Ittihad berhasil meraih gelar Liga Pro Saudi dan Piala Raja.
Kini, cerita yang hampir serupa tampaknya terulang kembali. Perbedaannya, usia Benzema semakin bertambah, proyek klub memasuki fase baru, dan kesabaran dari kedua belah pihak tampaknya sedang diuji.
Pertanyaan besar yang menggantung adalah: apakah Karim Benzema akan kembali memimpin Al Ittihad dan menjadi ikon klub, atau justru memilih untuk mengakhiri petualangannya di Arab Saudi lebih cepat dari yang diperkirakan? Untuk saat ini, satu hal yang pasti adalah nasib Karim Benzema masih belum jelas. Ia berada di persimpangan jalan, antara bertahan sebagai pilar Al Ittihad atau membuka lembaran baru di tempat lain.

















