Pertumbuhan Uang Beredar (M2) Melonjak di Awal 2026, Didorong Stimulus Fiskal dan Kredit
Bank Indonesia (BI) melaporkan tren positif pada awal tahun 2026, ditandai dengan lonjakan signifikan pada likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2). Angka M2 yang tercatat pada Januari 2026 menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya, mengindikasikan adanya peningkatan aktivitas ekonomi dan ketersediaan dana di masyarakat.
Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, nilai M2 pada Januari 2026 mencapai Rp 10.117,8 triliun. Angka ini mencerminkan pertumbuhan sebesar 10,0% secara year-on-year (yoy). Pencapaian ini lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Desember 2025 yang tercatat sebesar 9,6% yoy. Peningkatan ini merupakan sinyal positif bagi perekonomian Indonesia.
Denny menjelaskan bahwa kenaikan M2 pada Januari 2026 ini utamanya dipengaruhi oleh dua faktor krusial: peningkatan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus) dan percepatan penyaluran kredit. Kedua elemen ini secara kolektif berkontribusi pada membanjirnya likuiditas di pasar.
Peningkatan Tagihan Bersih Pemerintah Pusat: Stimulus Fiskal yang Efektif
Salah satu pendorong utama pertumbuhan M2 adalah peningkatan signifikan pada tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat. Pada Januari 2026, tagihan bersih ini mencapai Rp 849,9 triliun, menunjukkan pertumbuhan sebesar 22,6% yoy. Angka ini jauh melampaui pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang hanya sebesar 13,6% yoy. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa pemerintah aktif dalam menyuntikkan dana ke dalam perekonomian, kemungkinan besar melalui berbagai program stimulus fiskal, belanja infrastruktur, atau pembayaran kewajiban lainnya.
Peningkatan tagihan bersih kepada pemerintah dapat diartikan sebagai ekspansi fiskal yang agresif. Pemerintah mungkin sedang menggenjot belanja untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, terutama di awal tahun di mana momentum seringkali perlu dibangun. Dana yang disalurkan oleh pemerintah ini kemudian beredar di masyarakat dan sektor bisnis, meningkatkan jumlah uang yang tersedia untuk konsumsi dan investasi.
Penyaluran Kredit Meningkat: Mesin Penggerak Investasi dan Konsumsi
Faktor kedua yang tak kalah penting adalah percepatan penyaluran kredit. Pada Januari 2026, total penyaluran kredit mencapai Rp 8.416,4 triliun, dengan pertumbuhan sebesar 10,2% yoy. Angka ini juga tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Desember 2025 yang sebesar 9,3% yoy. Pertumbuhan penyaluran kredit ini menunjukkan bahwa sektor perbankan semakin aktif dalam memfasilitasi kebutuhan pendanaan bagi pelaku usaha maupun rumah tangga.
Peningkatan penyaluran kredit ini memiliki implikasi ganda. Pertama, bagi sektor bisnis, ketersediaan kredit yang lebih mudah dan terjangkau akan mendorong investasi baru, ekspansi usaha, dan peningkatan kapasitas produksi. Hal ini pada gilirannya akan menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan output ekonomi. Kedua, bagi rumah tangga, peningkatan kredit konsumsi dapat menopang daya beli masyarakat, mendorong konsumsi barang dan jasa, serta meningkatkan standar hidup.
Aktiva Luar Negeri Bersih: Kontribusi yang Melambat
Sementara itu, komponen lain yang turut mempengaruhi M2 adalah aktiva luar negeri bersih. Pada Januari 2026, aktiva luar negeri bersih tercatat tumbuh sebesar 5,5% yoy dengan nilai mencapai Rp 2.151,4 triliun. Meskipun masih menunjukkan pertumbuhan positif, angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang mencapai 8,9% yoy. Perlambatan pertumbuhan aktiva luar negeri bersih ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk pergerakan modal internasional, nilai tukar, atau kebijakan investasi luar negeri. Namun, kontribusi positifnya tetap ada dalam menjaga likuiditas perekonomian.
Komponen M2: Dominasi Uang Beredar Sempit (M1)
Jika dilihat dari komponen pembentuk M2, perkembangan pada Januari 2026 didominasi oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1). Uang beredar sempit (M1) yang mencakup uang kartal dan uang giral, tumbuh sebesar 14,9% yoy, mencapai Rp 5.923,3 triliun. Angka ini menunjukkan peningkatan dari bulan sebelumnya yang berada di angka 14% yoy. Pertumbuhan M1 yang kuat ini mengindikasikan peningkatan ketersediaan uang tunai dan saldo rekening giro yang siap dibelanjakan atau digunakan untuk transaksi sehari-hari.
Di sisi lain, uang kuasi, yang mencakup simpanan berjangka dan tabungan, tumbuh sebesar 5,4% yoy, mencapai Rp 4.148 triliun. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 5,6% yoy. Perlambatan pertumbuhan uang kuasi ini bisa jadi mencerminkan pergeseran preferensi masyarakat dari menyimpan dana jangka panjang ke penggunaan dana yang lebih likuid, sejalan dengan peningkatan aktivitas ekonomi yang membutuhkan alat pembayaran segera.
Secara keseluruhan, pertumbuhan M2 yang impresif di awal tahun 2026 ini memberikan gambaran optimis mengenai kondisi likuiditas perekonomian Indonesia. Kombinasi stimulus fiskal yang efektif dari pemerintah dan percepatan penyaluran kredit dari sektor perbankan menjadi motor penggerak utama peningkatan jumlah uang yang beredar. Hal ini diharapkan dapat terus menopang aktivitas ekonomi, mendorong investasi, dan meningkatkan konsumsi masyarakat di bulan-bulan mendatang.




















