Peran Mangrove dalam Menekan Dampak Pencemaran Budi Daya Laut
Mangrove dikenal sebagai ekosistem penting yang memiliki kemampuan alami untuk menyerap dan mengurai limbah perairan. Sebagai biofilter alami, mangrove berperan efektif dalam menjaga kualitas air serta mencegah dampak negatif dari aktivitas budi daya laut. Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Budidaya Laut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Moh. Awaludin Adam, menjelaskan bahwa aktivitas budi daya laut intensif seperti budidaya ikan, udang, dan rumput laut secara tidak langsung menghasilkan limbah organik maupun anorganik.
Limbah tersebut berasal dari sisa pakan, metabolisme organisme, serta bahan pendukung lainnya yang dapat menyebabkan akumulasi limbah di perairan. Akibatnya, terjadi peningkatan kadar nutrien seperti nitrogen dan fosfor yang memicu eutrofikasi. Eutrofikasi ini mengganggu keseimbangan ekosistem dan kesehatan organisme budi daya. Selain itu, kondisi ini juga dapat menyebabkan hipoksia, yaitu penurunan oksigen terlarut dalam air yang berbahaya bagi kehidupan laut.
Dampak lanjutan dari eutrofikasi adalah penurunan kualitas air yang meningkatkan risiko berkembangnya patogen yang menyerang ikan, udang, dan rumput laut. Untuk mengatasi masalah ini, Adam menawarkan pendekatan berbasis ekosistem dengan memanfaatkan mangrove sebagai biofilter alami. Mangrove mampu menyerap, mengendapkan, dan menguraikan limbah serta polutan sehingga menjaga stabilitas lingkungan perairan.
Strategi Budi Daya Laut Berkelanjutan
Adam menyarankan beberapa strategi budi daya laut berkelanjutan yang dapat diterapkan, antara lain:
Penerapan sistem Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA)
Sistem ini mengintegrasikan berbagai komponen budidaya untuk memaksimalkan penggunaan sumber daya dan mengurangi limbah.Rehabilitasi mangrove
Pemulihan ekosistem mangrove sangat penting untuk menjaga fungsi alaminya sebagai biofilter.Pengaturan zonasi budi daya
Zonasi yang sesuai dengan daya dukung lingkungan membantu mengurangi tekanan pada ekosistem.
Selain itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memastikan implementasi strategi berjalan optimal. BRIN melakukan riset komprehensif untuk mendukung strategi ini, termasuk monitoring kualitas air, analisis polutan, uji lapang, dan pemodelan lingkungan.
Hasil Riset Mengenai Mangrove
Hasil riset menunjukkan bahwa mangrove memiliki kemampuan sebagai biofilter alami, termasuk dalam menyerap logam berat seperti merkuri. Dalam penelitian, tidak ditemukan merkuri pada kondisi kontrol tanpa paparan, namun setelah perlakuan, ditemukan adanya serapan merkuri oleh mangrove pada akar, batang, dan daunnya.
Penerapan mangrove dalam sistem budi daya juga menunjukkan hasil positif. Dalam uji coba tambak udang semi-intensif, keberadaan mangrove terbukti mampu meningkatkan ketahanan udang terhadap serangan patogen, meskipun hasil produksi tidak sebanyak sistem intensif.
Inovasi Ramah Lingkungan
Sebagai bagian dari inovasi berkelanjutan, tim peneliti mengembangkan alternatif ramah lingkungan berupa penggunaan daun ketapang sebagai pengganti polybag plastik untuk pembibitan mangrove. Inovasi ini dinilai mampu mendukung pertumbuhan akar propagul sekaligus mengurangi potensi sampah plastik di ekosistem pesisir.
Riset lapangan di Teluk Seriwe mengungkap adanya penurunan kualitas lingkungan akibat alih fungsi lahan dan berkurangnya tutupan mangrove. Kondisi ini berdampak langsung pada menurunnya hasil panen rumput laut masyarakat dalam beberapa tahun terakhir.
Kajian mikroplastik di kawasan mangrove juga menunjukkan pencemaran plastik masih ditemukan, bahkan pada produk garam. Temuan ini menjadi perhatian penting dalam pengelolaan lingkungan pesisir secara menyeluruh.
Solusi Strategis untuk Masa Depan
Sebagai tindak lanjut, BRIN melalui tim riset akan mengembangkan berbagai solusi strategis, termasuk teknologi deteksi polutan berbasis sensor, pengembangan bibit mangrove, serta inovasi pengeringan rumput laut yang lebih higienis dan ramah lingkungan.
Adam menegaskan bahwa mangrove berperan strategis dalam mendukung keberlanjutan budi daya laut. Ia menyarankan implementasi yang lebih luas dan terintegrasi serta kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, swasta, peneliti, dan mahasiswa agar mangrove tetap lestari.



















