Dukungan Tokoh Adat untuk Pembersihan Kali Jaifuri
Para tokoh adat, baik Ondofolo maupun Kepala Suku di wilayah Danau Sentani, memberikan dukungan penuh terhadap rencana kegiatan pembersihan Kali Jaifuri yang akan dilaksanakan oleh Klasis GKI Sentani bersama Pemerintah Kabupaten Jayapura. Dukungan ini menunjukkan bahwa masyarakat setempat sangat memahami pentingnya menjaga kondisi lingkungan sekitar danau.
Ondofolo Raukhokonomi Kampung Puay, Yakob Fiobetauw, menyatakan bahwa Kali Jaifuri merupakan satu-satunya jalur pembuangan air dari Danau Sentani. Kondisi kali tersebut sangat berpengaruh pada stabilitas debit air danau. Jika kali ini tersumbat, maka air danau akan meluap dan berdampak pada permukiman warga di sekitar danau.
“Kalau kali ini tersumbat, maka air danau akan meluap dan berdampak pada permukiman warga di sekitar danau,” ujar Ondofolo Yakob Fiobetauw dalam keterangannya di Kota Sentani, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Kamis, 9 April 2026.
Ia menjelaskan, secara adat masyarakat sebenarnya telah memahami pola alami naik-turunnya air danau. Namun, kondisi saat ini dinilai tidak lepas dari dampak aktivitas manusia, seperti pendangkalan danau serta berkurangnya daerah resapan air. Menurut Ondo Jack sapaan akrabnya, alih fungsi lahan, termasuk penimbunan dusun sagu dan kawasan resapan, menyebabkan air hujan langsung mengalir ke danau tanpa terserap dengan baik. Hal itu mempercepat kenaikan volume air ketika curah hujan tinggi.

“Sekarang ini, kalau hujan sedikit saja, air danau cepat naik dan bisa merendam rumah-rumah warga di kampung sekitar,” katanya.
Jack mengaku para pemimpin adat mulai khawatir dengan kondisi tersebut, terutama jika masyarakat kehilangan tempat tinggal akibat luapan air danau. Karena itu, ia menyambut baik inisiatif pemerintah dan gereja yang mengajak masyarakat melakukan kerja bakti membersihkan Kali Jaipuri. Ia juga menyatakan pihak adat memberikan izin serta dukungan penuh terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut, termasuk membuka akses bagi masyarakat yang akan terlibat dalam kerja bakti.
“Kami harap semua masyarakat bisa datang dengan hati yang baik untuk bersama-sama membersihkan kali, supaya kondisi danau bisa kembali normal,” ujarnya.
Senada dengan itu, Kepala Suku Felayme Kampung Yahim Hermes Felle turut mengapresiasi inisiatif gereja dan pemerintah dalam menggerakkan aksi gotong royong pembersihan Kali Jaifuri. Menurutnya, Kali Jaifuri merupakan “jalur pernapasan” Danau Sentani. Jika aliran air di kali tersebut terganggu, maka akan berdampak langsung pada peningkatan volume air danau.
“Kalau tersumbat sedikit saja, maka danau tidak bisa membuang air dengan baik, sehingga permukaan air cepat naik,” katanya.
Hermes juga menyoroti berbagai aktivitas manusia yang memperparah kondisi danau, seperti penimbunan di bibir danau untuk pembangunan serta pembuangan sampah sembarangan. Ia mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam memanfaatkan kawasan danau, khususnya mengontrol aktivitas ekonomi seperti keramba apung yang dinilai berpotensi memicu pendangkalan.
Selain itu, ia menekankan pentingnya kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, khususnya tidak membuang sampah ke sungai dan danau.
“Danau ini bukan tempat pembuangan sampah. Kalau kita terus buang sampah sembarangan, itu akan mempercepat pendangkalan dan menghambat aliran air,” ujarnya.
Hermes berharap seluruh elemen masyarakat, pemerintah, dan gereja dapat terus bekerja sama menjaga kelestarian Danau Sentani, sekaligus mengurangi risiko bencana akibat luapan air. “Kita tidak bisa hanya menyalahkan alam. Perilaku manusia juga harus diperbaiki supaya danau tetap terjaga,” katanya.


















