Badan intelijen Amerika Serikat, Central Intelligence Agency (CIA), kembali membuat gebrakan dengan meluncurkan sebuah video berbahasa Mandarin yang secara spesifik ditujukan kepada para perwira militer di Tiongkok. Peluncuran video ini terjadi pada Kamis (12/02), menandai babak baru dalam upaya pengumpulan intelijen manusia oleh Washington terhadap Beijing.
Video tersebut menyajikan narasi yang menggugah, menampilkan sosok seorang perwira tingkat menengah yang digambarkan merasa kecewa dan tertekan oleh situasi internal di dalam militer Tiongkok. Melalui pesan yang disampaikan, individu ini mengajak para perwira lain yang memiliki akses terhadap informasi strategis untuk menjalin kontak dengan CIA secara aman, memanfaatkan jaringan Tor yang dikenal dengan tingkat anonimitasnya yang tinggi.
Langkah CIA ini merupakan bagian dari strategi terbaru Amerika Serikat untuk memperkuat kemampuannya dalam mengumpulkan informasi intelijen manusia di Tiongkok. Peluncuran video ini juga terjadi hanya beberapa pekan setelah otoritas Tiongkok mengumumkan dimulainya penyelidikan terhadap Zhang Youxia, yang menjabat sebagai wakil ketua Komisi Militer Pusat. Zhang Youxia merupakan salah satu pejabat militer paling senior di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, dan perkembangan ini dinilai telah memicu dinamika politik internal yang cukup signifikan di tubuh militer Tiongkok.
Upaya Komunikasi CIA dan Jangkauannya
Direktur CIA, John Ratcliffe, sebelumnya telah menyatakan bahwa kampanye video serupa yang telah diluncurkan sebelumnya telah berhasil menjangkau jutaan warga Tiongkok. Ia menegaskan komitmen lembaganya untuk terus membuka pintu bagi para pejabat pemerintah Tiongkok yang memiliki keinginan untuk menjalin komunikasi. Ratcliffe menekankan bahwa ini adalah “kesempatan untuk bekerja menuju masa depan yang lebih cerah bersama.”
CIA juga mengklaim bahwa kampanye daring yang mereka jalankan ini memiliki kemampuan untuk menembus pembatasan internet Tiongkok yang ketat, yang dikenal dengan sebutan “Great Firewall”. Kemampuan ini menunjukkan kecanggihan strategi CIA dalam menghadapi tantangan akses informasi di negara dengan kontrol internet yang sangat kuat.
Narasi Video dan Konteks Internal Tiongkok
Dalam video terbarunya, tokoh perwira militer fiktif yang dihadirkan menyampaikan sebuah pesan yang sangat relevan dengan kondisi internal Tiongkok. Ia menyatakan bahwa siapa pun yang memiliki kualitas kepemimpinan yang menonjol berpotensi untuk dicurigai dan bahkan disingkirkan. Narasi ini sangat selaras dengan konteks pembersihan korupsi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun di kalangan militer Tiongkok, yang menyasar jajaran atas Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).
Sejarah Upaya Intelijen dan Persaingan
Upaya CIA untuk membangun kembali jaringan intelijennya di Tiongkok bukanlah hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, CIA telah berupaya keras untuk memulihkan kekuatannya setelah mengalami kemunduran yang signifikan antara periode 2010 hingga 2012. Pada masa itu, sejumlah sumber intelijen Amerika Serikat di Tiongkok dilaporkan tertangkap atau berhasil dilumpuhkan oleh pihak berwenang Tiongkok.
Di sisi lain, pejabat Amerika Serikat juga mengungkapkan bahwa badan intelijen Tiongkok secara aktif terlibat dalam upaya merekrut pegawai pemerintah Amerika Serikat, baik yang masih aktif bertugas maupun yang sudah pensiun. Aktivitas ini menunjukkan adanya persaingan intelijen yang intens antara kedua negara.
Persaingan Intelijen dalam Bentuk Baru Perang Dingin
Persaingan intelijen ini berlangsung di tengah rivalitas yang semakin memanas antara Amerika Serikat dan Tiongkok, baik di bidang militer maupun teknologi. Sejumlah pengamat menilai bahwa dinamika ini menyerupai bentuk baru dari Perang Dingin, di mana persaingan terjadi secara global dalam berbagai aspek.
Yang menarik, selain berlangsung secara tertutup melalui operasi intelijen tradisional, dinamika persaingan ini kini juga terlihat dalam bentuk kampanye komunikasi publik yang lebih terbuka. Pemanfaatan platform digital oleh kedua negara untuk menjangkau audiens lintas batas negara menjadi salah satu ciri khas dari persaingan intelijen modern ini. Hal ini menunjukkan pergeseran taktik, di mana perang informasi dan pengaruh menjadi sama pentingnya dengan pengumpulan intelijen tradisional.












