Debat Anggaran Kunjungan Luar Negeri Presiden: Kritik Dino Patti Djalal dan Respons Seskab Teddy Indra Wijaya
Isu mengenai frekuensi dan anggaran kunjungan luar negeri Presiden Republik Indonesia menjadi sorotan publik belakangan ini. Dino Patti Djalal, mantan Wakil Menteri Luar Negeri, melayangkan kritik tajam terkait besarnya biaya yang dikeluarkan untuk agenda internasional tersebut. Namun, kritik ini segera mendapat respons tegas dari Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, yang membantah tudingan tersebut dengan membeberkan berbagai capaian konkret yang dihasilkan dari kunjungan Presiden.
Kritik Dino Patti Djalal: Beban Anggaran Kunjungan Luar Negeri
Dino Patti Djalal melalui unggahan di akun media sosial pribadinya, X, mengungkapkan keprihatinannya atas tingginya frekuensi dan anggaran yang dialokasikan untuk kunjungan luar negeri Presiden. Ia menekankan bahwa setiap perjalanan internasional kepala negara membutuhkan biaya yang sangat besar, mencakup berbagai pos pengeluaran.
“Kunjungan kepala negara ke luar negeri memakan biaya yang besar dan bahkan sangat besar,” ujar Dino. “Ini termasuk biaya rombongan tim pendahulu, biaya pesawat, biaya hotel, biaya logistik, biaya konsumsi, biaya protokoler dan pengamanan, biaya uang harian untuk seluruh delegasi dan perangkat pendamping, dan berbagai biaya lainnya. Satu perjalanan keluar negeri bisa keluar puluhan, bahkan ratusan miliar.”
Menyadari pentingnya menjaga hubungan internasional, Dino kemudian memberikan lima saran kepada Presiden Prabowo Subianto untuk tetap menjalin relasi antarnegara dengan lebih efisien dalam hal anggaran:
- Pemanfaatan Teknologi Komunikasi: Melakukan komunikasi melalui video call, zoom call, atau panggilan telepon sebagai alternatif utama untuk menghemat biaya.
- Strategi Pertemuan di Forum Internasional: Memanfaatkan kehadiran dalam forum internasional untuk bertemu dengan kepala negara lain, sehingga dapat menghemat anggaran perjalanan yang terpisah.
- Perencanaan Kunjungan yang Profesional: Melakukan kunjungan internasional secara profesional dan terencana dengan matang untuk memastikan efektivitas dan efisiensi.
- Prioritaskan Menerima Tamu Negara: Lebih banyak menerima tamu negara di Tanah Air dalam satu tahun ke depan dibandingkan melakukan perjalanan ke luar negeri, mencontohkan Presiden Tiongkok Xi Jinping yang lebih banyak menerima tamu negara di Beijing.
- Delegasikan Misi Diplomatik Taktis: Menyerahkan urusan terkait misi diplomatik yang bersifat taktis kepada Menteri Luar Negeri, Bapak Sugiono, untuk mengurangi beban dan fokus Presiden.
Pernyataan Dino Patti Djalal ini menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas dan efisiensi anggaran negara dalam menjalankan diplomasi internasional.
Respons Seskab Teddy Indra Wijaya: Capaian Nyata dan Tanggung Jawab Pribadi
Menanggapi kritik Dino Patti Djalal, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya memberikan bantahan tegas dan membeberkan berbagai capaian konkret yang berhasil diraih melalui kunjungan luar negeri Presiden. Teddy menekankan bahwa kunjungan tersebut bukanlah sekadar agenda seremonial, melainkan telah menghasilkan manfaat nyata bagi Indonesia.
Teddy mengawali responsnya dengan memberikan apresiasi terhadap Dino Patti Djalal sebagai seorang diplomat yang hebat, namun secara halus menyindir masa jabatan Dino sebagai Wakil Menteri Luar Negeri yang singkat. “Sangat cermat dan terstruktur. Saya pikir beliau adalah diplomat hebat. Pernah menjadi wakil menteri luar negeri, walaupun hanya diberi kesempatan sekitar tiga bulan,” ucap Teddy.
Selanjutnya, Teddy memberikan klarifikasi mendalam mengenai dua poin utama kritik Dino, yaitu biaya dan jumlah rombongan.
Pembiayaan Kunjungan Luar Negeri: Tanggung Jawab Pribadi Presiden
Teddy menegaskan bahwa segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara untuk kunjungan luar negeri Presiden sepenuhnya ditanggung oleh dana pribadi Presiden Prabowo Subianto. “Jadi yang pertama, masalah biaya di luar negeri. Ini sudah dijelaskan beberapa kali. Jadi, segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara, itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo,” jelasnya.
Hal ini menunjukkan komitmen Presiden untuk tidak membebani anggaran negara melebihi yang telah ditetapkan, bahkan jika ada pengeluaran tambahan.
Pengurangan Jumlah Rombongan: Efisiensi yang Signifikan
Terkait jumlah rombongan yang mendampingi Presiden, Teddy membeberkan bahwa jumlahnya telah berkurang secara drastis dibandingkan periode pemerintahan sebelumnya. “Kemudian yang kedua, jumlah rombongan. Ini sangat penting. Jumlah rombongan Presiden Prabowo itu sudah berkurang besar-besaran. Berkurang lebih dari separuh dari periode sebelumnya. Jadi kalau dulu, itu sekaligus luar negeri bisa lebih dari 120 orang. Zaman Pak Dino seperti itu. Nah, zaman Presiden Prabowo jumlahnya antara 50 sampai 60 orang maksimal,” ujarnya.
Pengurangan signifikan ini menunjukkan upaya nyata dalam efisiensi anggaran dan operasional kunjungan luar negeri.
Konteks Krisis Global dan Pentingnya Diplomasi
Teddy juga menjelaskan konteks global yang dihadapi Indonesia saat Presiden Prabowo menjabat. “Masalah protokoler dan frekuensi ke luar negeri dalam 1,5 tahun terakhir. Jadi Presiden Prabowo itu adalah Presiden baru yang mulai menjabat saat dunia sedang krisis. Sebelumnya ada konflik di Ukraina, ada di Venezuela, kemudian sekarang ada di Iran dan Timur Tengah, itu terlibat Saudi, Qatar, Bahrain, UAE, dan lain sebagainya,” ujar Teddy.
Dalam situasi krisis global seperti ini, Teddy menekankan pentingnya seorang pemimpin untuk membangun hubungan yang kuat dan dekat dengan para pemimpin negara lain. “Jadi setiap pemimpin tentunya harus bangun hubungan yang dekat antarpemimpin dunia,” sambungnya.
Hubungan yang baik ini krusial agar Indonesia dapat meminta bantuan ketika menghadapi kondisi mendesak. “Untuk itu perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antarpemimpin, baik secara langsung diliput media ataupun tertutup. Nah, itulah diplomasi,” ucap Teddy.
Capaian Nyata dari Kunjungan Luar Negeri
Teddy kemudian memaparkan deretan capaian konkret yang berhasil diraih berkat diplomasi yang dilakukan oleh Presiden Prabowo dalam 1,5 tahun terakhir, membantah anggapan bahwa kunjungan tersebut hanya bersifat seremonial.
- Keanggotaan BRICS: Indonesia berhasil bergabung dengan BRICS. Manfaatnya terlihat jelas di tengah krisis dunia, di mana stok Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi aman dan harganya tidak naik, serta stok pangan juga terjamin.
- Tarif 0 Persen di Uni Eropa: Perjanjian tarif 0 persen di Uni Eropa yang mencakup 25 negara berhasil dicapai pada tahun 2025. Padahal, perjanjian ini telah diupayakan selama belasan tahun sebelumnya.
- Investasi Triliunan Rupiah: Total investasi yang masuk dalam 1,5 tahun terakhir mencapai sekitar Rp 2.430 triliun berdasarkan data dari BKPM. Kunjungan Presiden ke Jepang dan Korea saja berhasil mendatangkan investasi sekitar Rp 575 triliun.
- Penguatan Alat Pertahanan: Indonesia kini memiliki alat pertahanan yang kuat berkat kerja sama dengan berbagai negara seperti Prancis, Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya.
- Kelancaran Program Haji: Program ibadah haji tahun 2025 dan 2026 berjalan lancar tanpa kendala signifikan. Indonesia menjadi satu-satunya negara yang memiliki perkampungan haji di Arab Saudi, bahkan Arab Saudi sampai mengubah undang-undangnya untuk memfasilitasi hal tersebut.
- Peran Aktif di Palestina: Presiden Prabowo menunjukkan peran aktif dalam isu Palestina melalui pengiriman logistik dari udara (drop-off) yang memerlukan diplomasi lintas negara, serta pengiriman kapal rumah sakit ke Palestina. Selain itu, Indonesia juga menyekolahkan sekitar 100 anak Palestina di universitas di Indonesia.
- Pembebasan WNI: Berkat diplomasi yang dilakukan oleh Menteri Luar Negeri Sugiono, seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang ditangkap oleh Israel berhasil dibebaskan dan langsung dikembalikan ke Indonesia.
Teddy menegaskan bahwa hasil-hasil konkret tersebut adalah bukti nyata dari diplomasi yang dilakukan oleh Presiden Prabowo melalui berbagai cara, baik yang dipublikasikan maupun yang tertutup, dengan fokus utama pada hasil yang terukur.
Debat antara Dino Patti Djalal dan Teddy Indra Wijaya ini menyoroti pentingnya transparansi, efisiensi, dan akuntabilitas dalam pelaksanaan diplomasi internasional, serta pentingnya melihat hasil nyata yang dapat dirasakan oleh masyarakat luas.











