Gunung Dukono Kembali Mengguncang Halmahera Utara dengan Erupsi Pagi Hari
Halmahera Utara, Maluku Utara – Gunung Dukono, salah satu gunung api paling aktif di Indonesia, kembali menunjukkan keganasannya pada Selasa pagi, Juni 2026. Erupsi terjadi sekitar pukul 07.55 WIT, melontarkan kolom abu vulkanik setinggi kurang lebih 1,3 kilometer di atas puncak. Abu vulkanik tersebut teramati membumbung ke arah timur, membawa kekhawatiran bagi masyarakat sekitar dan menggarisbawahi status waspada yang disandang gunung ini.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan bahwa erupsi kali ini berlangsung selama 43,67 detik, dengan amplitudo maksimum tercatat mencapai 34 milimeter pada seismogram. Kejadian ini menegaskan kembali bahwa Gunung Dukono masih berada dalam Status Level II atau Waspada, sebuah status yang telah lama melekat pada gunung api yang terletak di Kabupaten Halmahera Utara ini.
Imbauan Keselamatan dan Mitigasi Bencana
Menyikapi aktivitas vulkanik yang terus berlangsung, PVMBG mengeluarkan imbauan penting bagi masyarakat dan para wisatawan. Jarak aman yang direkomendasikan adalah tidak mendekati Kawah Malupang Warirang dalam radius 4 kilometer dari pusat erupsi. Larangan ini mencakup aktivitas seperti beraktivitas, mendaki, atau sekadar berada di area tersebut.
Selain menjaga jarak aman, masyarakat juga diwajibkan untuk selalu siap sedia menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut. Peringatan ini sangat krusial mengingat erupsi yang disertai abu vulkanik kerap terjadi dan arah sebaran abu dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti arah dan kecepatan angin. PVMBG menekankan bahwa penggunaan masker adalah langkah preventif yang sangat penting untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan, terutama pada sistem pernapasan, akibat paparan abu vulkanik.
Profil Gunung Dukono: Sang Pembawa Abu Tanpa Henti
Gunung Dukono, yang secara administratif terletak di wilayah Desa Mamuya, Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara, memang dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Karakteristiknya yang hampir tanpa henti mengalami erupsi dalam beberapa tahun terakhir menjadikannya objek kajian vulkanologi yang menarik sekaligus menakutkan.
Secara geologis, Gunung Dukono merupakan gunung api tipe stratovolcano yang berdiri megah di bagian utara Pulau Halmahera. Dengan ketinggian sekitar 1.087 meter di atas permukaan laut (mdpl), Dukono mungkin tidak termasuk gunung tertinggi di Indonesia. Namun, ketinggiannya yang relatif moderat tidak mengurangi potensi bahayanya. Karakter erupsi Dukono yang seringkali berupa lontaran abu vulkanik dalam skala besar menjadikannya salah satu gunung api yang patut diwaspadai.
Sejarah vulkanologi mencatat bahwa aktivitas erupsi Gunung Dukono telah berlangsung sejak tahun 1550. Rentang waktu yang panjang ini menunjukkan siklus aktivitas yang berulang dan intens, mengukuhkan posisinya sebagai salah satu gunung api paling aktif di kawasan Maluku Utara. Dalam dekade terakhir, intensitas erupsi Dukono memang menunjukkan fluktuasi, namun hampir selalu berupa semburan abu vulkanik yang dapat mencapai ketinggian ratusan hingga ribuan meter dari kawah utamanya.
Dampak dari erupsi Gunung Dukono tidak jarang dirasakan hingga ke permukiman warga. Hujan abu vulkanik pernah melanda sejumlah desa di sekitar Kecamatan Galela dan Tobelo, memaksa aktivitas warga terganggu dan menimbulkan kekhawatiran akan kesehatan. Bahkan, aktivitas penerbangan di wilayah Maluku Utara beberapa kali harus mendapatkan peringatan terkait sebaran abu vulkanik yang dapat mengganggu keselamatan penerbangan.
Menjelajahi Keindahan dan Menghadapi Ancaman: Perjalanan ke Gunung Dukono
Bagi para petualang dan pecinta alam, Gunung Dukono menawarkan pesona tersendiri. Panorama alam khas pegunungan vulkanik dengan lanskap yang unik menjadikannya salah satu destinasi yang menarik. Namun, perjalanan menuju gunung ini membutuhkan perencanaan yang matang dan kesadaran akan risiko yang ada.
Perjalanan dari Kota Ternate menuju kawasan Gunung Dukono diperkirakan memakan waktu antara 6 hingga 8 jam, dengan jarak tempuh sekitar 170 hingga 200 kilometer, tergantung pada rute yang dipilih. Perjalanan biasanya dimulai dengan menyeberang dari Ternate menggunakan kapal cepat atau ferry menuju Pelabuhan Sofifi atau Pelabuhan Sidangoli di Halmahera Barat. Dari pelabuhan tersebut, perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat menuju Tobelo, ibu kota Kabupaten Halmahera Utara. Destinasi akhir sebelum mendaki adalah Desa Mamuya, yang menjadi salah satu titik awal pendakian.
Meskipun menawarkan keindahan alam yang eksotis, aktivitas pendakian ke Gunung Dukono sangat bergantung pada kondisi vulkanik terkini. PVMBG secara rutin mengeluarkan rekomendasi dan menetapkan radius bahaya yang wajib dipatuhi oleh masyarakat maupun pendaki. Kepatuhan terhadap aturan ini adalah kunci untuk memastikan keselamatan di tengah aktivitas gunung api yang dinamis.











