🔥 TERKINI

Ekonom: Produktivitas dan Pekerjaan Formal Kunci Menuju Pertumbuhan 8 Persen

Erwin Oleh: Erwin
1 dilihat
Minggu, 08 November 2026 - 18:01 WIB • Waktu baca: 2 menit
Iklan Atas Artikel (Before Content)

Target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen tidak cukup dikejar dengan menambah jumlah investasi. Yusuf Rendy Manilet, ekonom Center of Reform on Economic (Core) Indonesia, menilai produktivitas modal harus naik agar investasi menciptakan kapasitas produksi dan pekerjaan yang lebih luas. Ia menyampaikan pandangan tersebut dalam wawancara melalui telepon dengan JawaPos.com pada Minggu, 8 November 2026, seraya menekankan pentingnya penguatan industri padat karya.

Tantangannya terlihat dari jarak antara sasaran pertumbuhan dengan capaian dan proyeksi ekonomi. Hingga kuartal III 2026, pertumbuhan kumulatif tercatat 5,45 persen, sedangkan laju ekonomi sepanjang tahun itu diperkirakan berada pada rentang 5,4–5,5 persen. Untuk mencapai sasaran 8 persen, menurut Yusuf, diperlukan bukan hanya tambahan modal, tetapi juga peningkatan efisiensi dan keluaran yang dihasilkan oleh setiap investasi.

Dengan ICOR atau Incremental Capital Output Ratio sekitar 6, kebutuhan investasi secara kasar dapat mencapai 48 persen dari produk domestik bruto jika ekonomi hendak tumbuh 8 persen. Angka tersebut jauh di atas porsi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang saat ini sekitar 31 persen. Perhitungan itu menunjukkan besarnya kebutuhan modal apabila produktivitas tidak berubah. Namun, Yusuf menyebut peningkatan efisiensi modal dan produktivitas dapat mengurangi tekanan untuk terus memperbesar nilai investasi.

“Kuncinya bukan hanya memperbesar investasi,” kata Yusuf, melainkan memastikan modal tambahan memberi hasil lebih besar dalam produksi, pekerjaan, dan nilai tambah. Karena itu, keberhasilan ekonomi juga perlu dilihat dari indikator yang dirasakan pekerja: bertambahnya pekerjaan formal, kenaikan upah riil, serta produktivitas yang membaik. Dengan ukuran tersebut, pertumbuhan tidak hanya dinilai dari angka output, tetapi juga dari mutu pekerjaan dan manfaat ekonomi yang tercipta.

Realisasi investasi pada kuartal III 2026 mencapai Rp 528,7 triliun dan menyerap sekitar 745 ribu tenaga kerja. Meski penanaman modal itu turut membuka pekerjaan, Yusuf melihat kecenderungan investasi yang makin padat modal. Ia mendorong kelanjutan hilirisasi, disertai pengembangan manufaktur padat karya yang berorientasi ekspor. Sektor yang disebutnya meliputi tekstil, alas kaki, elektronik, dan pengolahan pangan, sehingga agenda industri tidak hanya bertumpu pada kegiatan yang membutuhkan modal besar.

Yusuf juga meminta pemerintah menilai insentif fiskal dengan mempertimbangkan lebih dari nilai investasi. Jumlah pekerja formal, pertumbuhan ekspor, alih teknologi, serta keterlibatan pemasok dalam negeri dapat menjadi pertimbangan. Ia menambahkan, hubungan sektor hilirisasi dengan UMKM dan industri lokal perlu diperkuat supaya manfaat pertumbuhan menjangkau pelaku usaha yang lebih luas. Kepercayaan investor swasta untuk berekspansi, menurutnya, turut memerlukan kepastian hukum, regulasi yang konsisten, biaya logistik yang lebih baik, pendidikan vokasi, serta stabilitas nilai tukar.

Tinggalkan Tanggapan

Indeks Berita →