Insiden Menghebohkan di Taman Literasi Blok M: Warga Asing Diduga Lakukan Eksibisionisme
Sebuah insiden yang menggemparkan terjadi di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, kawasan Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 10 Januari 2026, sekitar pukul 12.30 WIB. Seorang warga negara asing (WNA) diduga telah melakukan aksi eksibisionisme di area publik yang ramai dikunjungi tersebut. Peristiwa ini sontak menjadi sorotan setelah rekaman video singkat aksi tersebut beredar luas di media sosial, memicu keresahan di kalangan masyarakat.
Dalam rekaman video yang beredar, terlihat momen ketika seorang petugas keamanan taman menghampiri WNA yang diduga melakukan perbuatan tidak pantas. Perekam video dalam rekaman tersebut juga sempat mengungkapkan kekhawatiran bahwa aksi serupa bukanlah yang pertama kali terjadi di lokasi tersebut. Dugaan awal menyebutkan bahwa WNA tersebut diduga memanggil pengunjung sebelum akhirnya memperlihatkan alat vitalnya di area taman.
Kronologi dan Penjelasan Pelaku
Kepala Unit Reserse Kriminal (Kanit Reskrim) Polsek Kebayoran Baru, Kompol Suparmin, telah mengonfirmasi bahwa pihaknya memang menerima laporan mengenai dugaan aksi eksibisionisme tersebut. Berdasarkan keterangan yang berhasil dihimpun dari saksi di lokasi, pelaku WNA tersebut memberikan alasan yang cukup mengejutkan ketika ditanyai mengenai perbuatannya.
“Keterangan dari saksi sih, saksi menanyakan ke pelakunya alasan mengapa melakukan perbuatan tersebut. Alasannya cuacanya di Indonesia sangat panas dan membuat gatel dari leher sampai bawah gitu,” ujar Kompol Suparmin pada Senin, 12 Januari 2026. Pernyataan pelaku yang mengaitkan tindakannya dengan cuaca panas dan rasa gatal di seluruh tubuh tentu menimbulkan pertanyaan dan keheranan.
Tantangan Penyelidikan dan Langkah Kepolisian
Meskipun telah menerima laporan, pihak kepolisian mengaku menghadapi sejumlah kendala dalam mendalami kasus dugaan eksibisionisme ini, terutama terkait minimnya bukti yang kuat. Salah satu kendala utama adalah tidak adanya kamera pengawas (CCTV) di lokasi kejadian. Petugas keamanan yang berada di sekitar lokasi pun tidak secara langsung menyaksikan aksi tersebut, sehingga kesaksian mereka terbatas pada laporan dari pengunjung dan momen pendekatan terhadap WNA.
Selain itu, kendala bahasa juga menjadi hambatan signifikan dalam proses komunikasi dan interogasi terhadap pelaku WNA. Hal ini mempersulit upaya polisi untuk mendapatkan keterangan yang lebih mendalam dan akurat mengenai motif serta kronologi kejadian dari sudut pandang pelaku.
Setelah mendapatkan teguran dari petugas keamanan, WNA tersebut dilaporkan langsung meninggalkan lokasi kejadian tanpa ada upaya penahanan lebih lanjut.
Imbauan dan Upaya Pencegahan
Menanggapi insiden ini, pihak kepolisian memberikan imbauan penting kepada pengelola Taman Literasi. Salah satu langkah krusial yang disarankan adalah pemasangan kamera pengawas (CCTV) di berbagai titik strategis di area taman. Pemasangan CCTV diharapkan dapat menjadi alat bukti yang kuat apabila terjadi insiden serupa di masa mendatang, serta berfungsi sebagai elemen pencegahan dini.
Selain itu, polisi juga meminta agar petugas keamanan di lingkungan taman tersebut untuk sigap dan segera menghubungi pihak kepolisian apabila kembali menemukan atau menerima laporan mengenai kejadian serupa.
“Kami cari sambil mengimbau pihak keamanan dalam nih kalau bisa pasang CCTV, sama kalau ada kejadian serupa segera telfon kita diamanin dulu pelakunya,” tutur Kompol Suparmin, menekankan pentingnya koordinasi dan respons cepat.
Tindakan eksibisionisme, meskipun terkadang dianggap sebagai gangguan ketertiban, dapat menimbulkan dampak psikologis yang serius bagi para korban, terutama di ruang publik yang seharusnya menjadi tempat aman bagi semua kalangan, termasuk anak-anak. Kejadian di Taman Literasi Blok M ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan dan langkah-langkah preventif yang lebih baik untuk menjaga keamanan dan kenyamanan seluruh pengunjung. Pihak pengelola diharapkan dapat segera menindaklanjuti imbauan dari kepolisian demi mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang.




















