Tragedi di Bogor: Jeratan Utang Berujung Maut, Suami Gorok Leher Istri
Sebuah peristiwa tragis mengguncang Perumahan Ambar Residence 1, Desa Nagrak, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, pada Minggu malam, 18 Januari 2026, sekitar pukul 21.00 WIB. Insiden berdarah ini melibatkan pasangan suami istri, Nawawi (46) dan Enung (51), yang berujung pada hilangnya nyawa sang istri di tangan suaminya sendiri. Nawawi tega menggorok leher istrinya dengan senjata tajam, sebuah tindakan keji yang diduga dipicu oleh himpitan ekonomi dan akumulasi kekesalan yang memuncak.
Kejadian mengerikan ini bermula ketika Nawawi, yang dilaporkan memiliki banyak masalah keuangan, melampiaskan tekanan yang dihadapinya kepada istrinya yang saat itu berada di rumah. Menurut informasi yang dihimpun dari Ketua RT setempat, Tata Sunarta, Nawawi tidak hanya terlilit utang kepada sejumlah warga, tetapi juga diduga melakukan penipuan terhadap orang lain.
Kronologi dan Motif di Balik Tindakan Keji
Tata Sunarta menjelaskan bahwa rumah tangga Nawawi dan Enung sebenarnya tidak berdomisili permanen di Perumahan Ambar Residence 1. Mereka hanya bertamu di kediaman anak mereka yang berlokasi di perumahan tersebut. Namun, kehadiran mereka di sana justru menjadi saksi bisu dari tragedi yang tidak terduga.
“Karena banyak juga korban yang ketipu datang ke sini. Mungkin tertekan ditagih utang piutang, malahan dia itu sudah melarikan motor orang lain. Sampai sekarang motornya masih ada,” ujar Tata Sunarta saat ditemui pada Senin, 19 Januari 2026.
Informasi yang berkembang menyebutkan bahwa korban penipuan yang merasa dirugikan oleh Nawawi mendatangi rumah anaknya, tempat pasangan suami istri itu menginap. Kedatangan para korban penipuan ini diduga kuat memicu tekanan hebat pada Nawawi. Dalam kondisi terdesak dan tidak mampu menghadapi tuntutan para penagih utang serta korban penipuannya, Nawawi kemudian melampiaskan amarahnya dengan cara yang paling mengerikan.
“Memang sudah banyak yang kena ketipu sama pelaku. Si pelaku yang bermalah, kalau berapa utangnya saya kurang jelas, karena kan memang bukan warga di sini. Jadi mereka itu bertamu di sini terus berbuat ulah di sini,” jelas Tata Sunarta.
Ia menambahkan, “Pas di sini (Ambar Residence) mungkin yang si korban penipuan pada datang. Mungkin dia tertekan, masuk ke kamar, terus digorok gitu lehernya.”
Sebelum kejadian nahas tersebut, Enung dikabarkan telah berada di rumah anaknya selama dua hari. Keberadaan sang istri di rumah tersebut ternyata tidak mampu meredam gelombang emosi dan keputusasaan yang melanda Nawawi.
Perjuangan Menuju Keselamatan yang Gagal
Setelah insiden penggorokan yang dilakukan Nawawi, Enung dilaporkan sempat mendapatkan pertolongan medis. Ia segera dilarikan ke rumah sakit terdekat dengan harapan dapat diselamatkan. Namun, luka parah yang dideritanya menyebabkan pendarahan hebat.
“Meninggalnya sebelum di rumah sakit. Dari sini masih hidup. Darahnya juga banyak bercecer di depan rumah. Mungkin meninggal di perjalanan, karena kebanyakan keluar darah,” tutur Tata Sunarta dengan nada prihatin.
Perjalanan menuju keselamatan yang ditempuh Enung terhalang oleh kehilangan darah yang masif. Ia sempat dibawa ke klinik Aulia sebelum akhirnya dirujuk ke PMI. Sayangnya, upaya penyelamatan tersebut tidak membuahkan hasil, dan Enung dinyatakan meninggal dunia sebelum sempat mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.
Peristiwa ini menjadi pengingat yang kelam tentang bagaimana masalah ekonomi dan tekanan psikologis dapat berujung pada tindakan kekerasan yang merusak. Kasus ini juga menyoroti pentingnya penanganan masalah keuangan dan mental yang efektif untuk mencegah tragedi serupa di masa depan. Pihak kepolisian kini tengah melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap seluruh rangkaian kejadian dan memproses pelaku sesuai hukum yang berlaku.











