Pada November 2026, pengamat langit di Indonesia berkesempatan menyaksikan empat hujan meteor utama yang masing‑masing memiliki periode aktif dan puncak berbeda. Fenomena ini terjadi saat Bumi melintasi jejak debu dan puing komet atau asteroid sehingga partikel‑partikel tersebut terbakar memasuki atmosfer. Waktu puncak dan jangka pengamatan untuk tiap hujan meteor tercantum berdasarkan data lembaga astronomi internasional; untuk melihatnya cukup dengan mata telanjang asalkan memilih lokasi gelap dan cuaca cerah.
Secara umum, tiap hujan meteor memberikan jumlah meteor per jam yang bervariasi dan tergantung kondisi ideal pengamatan. Sumber seperti NASA, Royal Observatory Greenwich, In‑the‑Sky, dan International Meteor Organization (IMO) menjadi rujukan perhitungan periode dan puncak aktivitas. Rekomendasi praktis: jauhkan diri dari polusi cahaya kota, beri waktu adaptasi pada mata terhadap kegelapan, dan siapkan pakaian hangat bila mengamati semalam suntuk.
Taurid Utara menjadi yang pertama mencapai puncak pada 12 November 2026. Hujan meteor ini aktif antara 20 Oktober hingga 10 Desember dan berasal dari sisa‑sisa Komet 2P/Encke. Menurut pengamatan, jendela pengamatan di wilayah WIB terbuka sejak sekitar 18.28 hingga 05.00, dengan kesempatan terbaik sekitar tengah malam sampai sekitar pukul 01.00. Lokasi terbuka dan bebas cahaya akan meningkatkan peluang melihat kilatan‑kilatan lambat khas Taurid.
Puncak Leonid diperkirakan pada 18 November 2026, dalam periode aktivitas 6–30 November. Hujan meteor ini bersumber dari debu Komet 55P/Tempel‑Tuttle dan pada kondisi ideal dapat menghadirkan sekitar 15 meteor per jam. Di Indonesia, Leonid dapat mulai terlihat sekitar 00.20 hingga 05.00 WIB, dengan momen terbaik menjelang fajar ketika radian rasi Leo semakin meninggi di langit timur.
Alpha Monocerotid adalah hujan meteor minor yang aktif antara 15–25 November dan diperkirakan mencapai puncak pada 21 November, meski pada wilayah Indonesia puncak lokal dapat terjadi pada 22 November sekitar pukul 07.00 WIB. Jendela pengamatan selama periode itu dilaporkan antara 21.39 hingga 05.01 WIB, dan titik optimal untuk menyaksikan fenomena ini diperkirakan sekitar pukul 04.00, ketika radian di rasi Canis Minor berada pada elevasi tertinggi.
Terakhir, Orionid November aktif dari 13 November sampai 6 Desember dan diprediksi mencapai puncak pada 28 November 2026. Observasi dapat dilakukan mulai sekitar 19.34 hingga 05.02 WIB, dengan waktu terbaik sekitar pukul 01.00 ketika radian di rasi Orion paling tinggi; intensitas pada puncak diperkirakan sekitar tiga meteor per jam dalam kondisi pengamatan ideal. Untuk semua hujan meteor tersebut, memilih malam tanpa awan dan lokasi yang gelap akan sangat menentukan jumlah meteor yang berhasil disaksikan.
Penulis: Redaksi


