Kerusuhan Suporter Warnai Laga Persijap Jepara vs Persis Solo, Fasilitas Stadion Rusak
Pertandingan lanjutan Super League 2025/2026 antara Persijap Jepara dan Persis Solo di Stadion Gelora Bumi Kartini, Kamis (5/3/2026), harus ternoda oleh insiden kerusuhan antarsuporter. Meskipun skor akhir imbang 0-0, sorotan utama justru tertuju pada bentrokan yang terjadi baik di dalam maupun di luar stadion, yang mengakibatkan kerusakan fasilitas dan kendaraan.
Kericuhan ini kembali menjadi pengingat pahit akan tantangan yang dihadapi sepak bola Indonesia dalam upaya menciptakan lingkungan yang aman dan tertib bagi para penggemar. Insiden ini tidak hanya merusak citra kompetisi, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran serius mengenai keselamatan semua pihak yang terlibat dalam ekosistem sepak bola.
Kronologi Memanasnya Situasi di Stadion
Ketegangan antara kedua kelompok suporter sebenarnya sudah mulai terasa sejak babak pertama pertandingan. Nyanyian dan provokasi dari tribun suporter tuan rumah terdengar selama jalannya laga. Situasi sempat memanas ketika pagar pembatas yang memisahkan tribun suporter Persis Solo dan tribun VIP hampir roboh. Meskipun petugas keamanan berhasil meredam ketegangan tersebut, atmosfer di stadion tetap terasa panas.
Memasuki babak kedua, kondisi sempat terlihat lebih tenang. Namun, provokasi kembali terdengar sekitar menit ke-70, memicu peningkatan tensi di antara suporter. Puncak ketegangan terjadi menjelang menit ke-80, ketika aksi saling lempar benda, termasuk botol minuman dan petasan, pecah di salah satu sudut tribun. Insiden ini menciptakan suasana yang semakin mencekam dan membahayakan.
Meskipun kericuhan sempat mereda sejenak setelah pertandingan usai, situasi kembali memburuk saat suporter tuan rumah hendak menyanyikan lagu kebanggaan mereka. Bentrokan kemudian meluas ke area pintu keluar stadion sisi barat, di mana suporter tuan rumah dilaporkan mencegat pendukung Persis Solo. Aksi saling lempar batu, kayu, dan botol minuman berlangsung selama kurang lebih 30 menit, menyebabkan sejumlah fasilitas stadion mengalami kerusakan yang signifikan.
Dampak Kerusuhan: Fasilitas Rusak dan Tim Tamu Tertahan
Akibat dari bentrokan yang terjadi, sejumlah fasilitas di Stadion Gelora Bumi Kartini mengalami kerusakan. Kerusakan ini mencakup berbagai area stadion yang menjadi sasaran amukan suporter. Selain itu, beberapa kendaraan milik suporter juga dilaporkan menjadi korban perusakan, menambah daftar kerugian material akibat insiden ini.
Dampak kerusuhan tidak hanya dirasakan oleh fasilitas stadion dan suporter. Tim tamu, Persis Solo, juga mengalami imbas yang cukup serius. Para pemain dan ofisial tim terpaksa bertahan di dalam stadion selama beberapa jam setelah pertandingan berakhir. Hal ini dikarenakan kondisi di luar stadion masih dianggap belum aman untuk mereka tinggalkan.
Direktur PT Persis Solo Saestu, Ginda Ferachtriawan, mengonfirmasi bahwa timnya diminta untuk tetap berada di stadion hingga situasi benar-benar kondusif. Laporan mengenai kondisi keamanan yang belum memungkinkan membuat manajemen memutuskan untuk menunda kepulangan tim. Kondisi baru dinyatakan aman sekitar pukul 03.30 dini hari, memungkinkan para pemain dan ofisial untuk kembali ke hotel mereka. Meskipun tertahan lama, Ginda memastikan bahwa seluruh anggota tim dalam keadaan aman.
Pernyataan PSSI dan Kebijakan Larangan Suporter Tandang
Menanggapi insiden memalukan ini, anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga, menyatakan kekecewaannya yang mendalam. Ia menekankan bahwa aksi kekerasan antarsuporter seharusnya tidak lagi terjadi, terutama mengingat berbagai tragedi yang pernah menimpa sepak bola Indonesia, termasuk insiden Kanjuruhan.
Arya menyoroti bahwa PSSI telah memberlakukan larangan kehadiran suporter tandang demi menjaga keselamatan. Namun, kebijakan ini tampaknya masih sering dilanggar. Ia mengakui bahwa ada beberapa pertandingan yang berjalan aman meskipun dihadiri suporter tim tamu, namun hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk mencabut kebijakan tersebut.
“Ini menyangkut nyawa. Kita ingin para suporter ingat bahwa ketika masuk stadion dengan aman, harus keluar juga dengan aman. Tidak perlu ada korban lagi,” tegas Arya. Ia menegaskan bahwa kebijakan larangan suporter tandang dibuat semata-mata untuk melindungi keselamatan semua pihak, mulai dari pemain, ofisial, hingga penonton.
PSSI Tingkatkan Pengamanan Menjelang Akhir Musim
Arya Sinulingga juga mengungkapkan bahwa PSSI tengah melakukan pembahasan serius terkait peningkatan pengamanan kompetisi yang kini telah memasuki fase akhir musim. Fase ini seringkali diwarnai persaingan yang semakin ketat, baik dalam perebutan gelar juara maupun upaya menghindari zona degradasi, yang berpotensi meningkatkan tensi dan kerentanan terhadap insiden.
“Kami melihat kompetisi sudah memasuki fase akhir musim yang rawan. Persaingan juara sangat ketat, begitu juga persaingan di zona degradasi. Karena itu perlu perhatian khusus,” pungkasnya. PSSI berupaya untuk memastikan bahwa sisa kompetisi dapat berjalan dengan lancar dan aman, tanpa terganggu oleh insiden kekerasan serupa.
Manajemen Persis Solo Menunggu Keputusan Operator Liga
Setelah situasi dinyatakan aman, rombongan Persis Solo akhirnya meninggalkan stadion dan melanjutkan perjalanan pulang keesokan paginya. Manajemen Persis Solo berencana untuk menggelar pertemuan internal guna membahas berbagai insiden yang terjadi selama pertandingan. Selain itu, mereka juga akan menunggu keputusan resmi dari operator liga mengenai tindak lanjut terhadap peristiwa tersebut.
“Kita nunggu operator ya hari ini kita juga ngumpul di kantor terkait pertandingan semalam baik secara tim maupun secara penonton yang cukup banyak insiden yang terjadi di situ ya mungkin kita akan bertanya juga dan juga menunggu keputusan dari I league seperti apa,” ujar Ginda Ferachtriawan. Keputusan operator liga diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai sanksi yang akan diberikan serta langkah-langkah perbaikan ke depannya.

















