• Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
No Result
View All Result
Subscribe
  • Login
  • Register
batampena.com
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature
batampena.com
No Result
View All Result
Home Internasional

Fakta-fakta Gagalnya Negosiasi AS-Iran

Luna by Luna
18 April 2026 - 13:22
in Internasional
0

Perkembangan Hubungan AS dan Iran

Hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki fase ketegangan baru setelah negosiasi damai pada akhir pekan lalu tidak berhasil mencapai kesepakatan. Hal ini terjadi setelah serangan mendadak yang dilakukan Israel, didukung oleh AS, pada akhir Februari lalu.

AS meningkatkan kehadiran militer di sekitar Asia Barat, termasuk pengerahan armada laut dan sistem pertahanan udara. Tujuan dari tindakan ini adalah untuk membantu demonstrasi Iran yang diklaim melawan rezim. Di sisi lain, Iran menaikkan status siaga militernya dan memberikan peringatan keras terhadap potensi agresi.

Konflik terbuka meledak ketika Israel, yang didukung oleh AS, melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari yang menewaskan Pemimpin tertinggi saat itu, Ali Khamenei. Selain menewaskan Khamenei, rangkaian serangan tersebut juga menyebabkan lebih dari 3.000 korban jiwa hingga pekan kedua April.

Merespons ancaman terhadap kedaulatannya, Iran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Iran juga membatasi pergerakan kapal melalui Selat Hormuz.

Situasi ini dengan cepat berkembang menjadi krisis regional. Jalur perdagangan energi global yang melintasi Selat Hormuz pun terancam, sehingga harga minyak sempat bergejolak.

Gencatan Senjata Sementara

Saat eskalasi semakin memanas dan konflik meluas ke negara-negara Teluk serta Libanon, muncul jeda sempit berupa gencatan senjata sementara selama dua pekan yang membuka ruang bagi diplomasi Iran-AS.

Di tengah tekanan internasional, Amerika Serikat dan Iran pada Selasa sepakat menekan tombol jeda melalui gencatan senjata selama dua pekan setelah mediasi oleh Pakistan.

Namun, gencatan senjata ini sejak awal sudah dipandang rapuh. Iran masih menyimpan kecurigaan terhadap Amerika Serikat yang kerap melanggar kesepakatan. Sebaliknya, Amerika Serikat diduga memanfaatkan jeda ini untuk memperkuat posisinya di Selat Hormuz.

Proposal Iran

Selama masa gencatan senjata, Iran mengajukan serangkaian tuntutan yang dituangkan dalam sebuah proposal. Dari 10 poin yang diajukan, terlihat bahwa Teheran tidak sekadar ingin menghentikan konflik, tetapi juga berupaya mengubah posisi strategisnya.

Teheran menuntut penghentian total operasi militer Amerika Serikat, disertai jaminan tidak akan ada serangan di masa depan. Selain itu, Teheran juga mengangkat isu kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan akibat konflik.

Baca Juga  Dampak Pembatalan Tarif Trump: Negara Beruntung dan Rugi

Poin paling krusial adalah tuntutan pencabutan sanksi ekonomi. Selama bertahun-tahun, sanksi menjadi tekanan utama terhadap Iran. Dengan memasukkan poin ini, Teheran secara jelas menjadikan negosiasi sebagai alat untuk memulihkan perekonomiannya.

Di sektor strategis, Iran juga meminta pengakuan atas haknya dalam pengayaan uranium, serta pembatalan seluruh resolusi Dewan Gubernur IAEA (Badan Tenaga Atom Internasional). Hal ini menegaskan keinginan Teheran untuk tetap mengembangkan program nuklir untuk tujuan damai, isu inti yang selama ini menjadi sumber ketegangan dengan Washington.

Tidak berhenti di situ, Iran juga mendorong pengurangan kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Bahkan, dalam salah satu poin paling sensitif, Iran berupaya mempertahankan kontrol strategis atas jalur energi vital dunia, termasuk Selat Hormuz.

Proposal Amerika Serikat

Berbanding terbalik dengan Iran, Amerika Serikat tidak langsung menawarkan kesepakatan besar, melainkan memulai dengan gencatan senjata sementara sebagai langkah awal. Namun, alih-alih membuka jalan dialog, proposal Washington yang terdiri dari 15 poin justru mencerminkan tuntutan sepihak yang membela kepentingan Israel dalam aspek keamanan, nuklir, dan geopolitik kawasan.

Pemerintahan Donald Trump menuntut Teheran menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium serta menyerahkan seluruh stok uranium yang telah diproduksi. Langkah ini diklaim sebagai upaya memastikan Iran tidak lagi mampu melanjutkan program nuklirnya.

Di sektor militer, Amerika Serikat meminta Iran menghentikan produksi rudal secara total, termasuk membongkar fasilitas produksi senjata.

Terkait Selat Hormuz, Trump menuntut Iran menjamin keterbukaan jalur pelayaran energi global tersebut. Ia bahkan sempat melempar wacana agar pengelolaan tarif atau tol Selat Hormuz dilakukan bersama Teheran.

Pada awalnya, Iran tidak langsung menolak proposal tersebut. Pemerintah Teheran sempat mempertimbangkannya sebagai kerangka umum. Namun, pada akhirnya menolak dengan alasan tuntutan yang diajukan terlalu berlebihan dan tidak realistis.

Ganjalan Utama

Perbedaan mendasar antara kedua proposal membuat negosiasi menghadapi ganjalan. Iran menginginkan kesepakatan permanen yang menyentuh akar masalah, sementara Amerika Serikat lebih memilih pendekatan bertahap.

Baca Juga  $0.035 Coin Nears Sellout Amidst BTC Stalemate: Your Next Crypto Investment?

Isu nuklir dan Selat Hormuz diperkirakan menjadi titik perdebatan paling krusial dalam perundingan.

Israel-Libanon

Di sisi lain, serangan Israel ke Libanon kian memperburuk optimisme terhadap jalannya negosiasi. Sehari setelah gencatan senjata disepakati, yakni Rabu, Israel kembali melancarkan serangan udara besar-besaran di kawasan Dahiyeh, selatan Beirut, Libanon.

Serangan tersebut tercatat sebagai gelombang terbesar sejak pecahnya konflik antara Israel dan kelompok pejuang Lebanon, Hizbullah, pada 2 Maret lalu. Serangan itu dilaporkan menewaskan lebih dari 300 warga Libanon, mayoritas warga sipil.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, memperingatkan bahwa berlanjutnya serangan Israel ke Libanon dapat membuat negosiasi gencatan senjata dengan Amerika Serikat menjadi “sia-sia”.

Iran menilai serangan itu sebagai pelanggaran terhadap semangat gencatan senjata antara Washington dan Teheran. Namun, Trump berdalih bahwa penghentian serangan Israel ke Libanon tidak termasuk dalam kesepakatan dengan Iran, dengan alasan adanya aktivitas Hizbullah.

Perundingan Gagal di Islamabad

Upaya menjembatani perbedaan tersebut ditempuh melalui pertemuan di Islamabad, yang diharapkan menjadi titik balik menuju kesepakatan lebih konkret.

Delegasi Amerika Serikat dipimpin oleh Wakil Presiden J.D. Vance, serta melibatkan utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Presiden AS, Jared Kushner.

Sementara itu, delegasi Iran dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf, didampingi Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan sejumlah pejabat lainnya.

Perundingan yang berlangsung pada Sabtu itu menjadi yang terpanjang tahun ini. Iran mencatat durasi pembahasan mencapai sekitar 24 hingga 25 jam.

Namun, hasilnya jauh dari harapan. Vance menyatakan pihaknya telah menyampaikan tuntutan yang dapat dan tidak dapat diakomodasi, tetapi Iran tidak menerima tawaran Washington.

Meski terdapat kesepahaman dalam sejumlah isu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Bagaei, mengungkapkan masih ada perbedaan pandangan pada dua hingga tiga isu krusial. Hal ini membuat perundingan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan.

Selat Hormuz menjadi salah satu isu utama yang memicu perbedaan tajam, karena Iran bersikeras mempertahankan kehadiran militernya di perairan tersebut, sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Tasnim.

Kegagalan ini menunjukkan bahwa meskipun ruang dialog terbuka, jarak kepentingan antara kedua negara masih terlalu lebar untuk dijembatani dalam waktu singkat.

Baca Juga  AS larang kapal Iran, blokade Trump di Selat Hormuz

Optimisme Perundingan Berlanjut

Meski pembicaraan di Islamabad berakhir buntu, peluang untuk mencapai gencatan senjata yang lebih langgeng belum sepenuhnya tertutup.

Baqaei menilai bahwa “wajar” jika tidak tercapai kesepakatan dengan Amerika Serikat hanya dalam satu hari perundingan di Islamabad.

Trump juga menyebut pembicaraan berjalan dengan baik, dengan sebagian besar poin telah dibahas. Namun, isu nuklir masih belum menemui titik terang karena Iran menolak menghentikan ambisi pengembangan nuklirnya. Hak yang diakui sebagai anggota Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

Terkait Selat Hormuz, Trump menyampaikan bahwa blokade angkatan laut AS akan segera dimulai dalam waktu dekat dengan melibatkan sejumlah negara.

Pakistan menegaskan akan terus memainkan peran dalam memfasilitasi dialog. Islamabad juga berharap kedua pihak melanjutkan upaya menuju perdamaian berkelanjutan dan kemakmuran kawasan, serta menekankan pentingnya komitmen terhadap gencatan senjata.

Sementara itu, pengamat hubungan internasional Andrea Abdul Rahman Azzqy menilai peluang kesepakatan akan terbuka apabila Teheran memperoleh jaminan.

“Jadi, titik tengahnya dicapai, ya, kalau Iran mendapatkan jaminan keamanan dan kedaulatan,” katanya kepada Antara.

Menurut Andrea, kegagalan perundingan sejak Sabtu malam di Islamabad mencerminkan masih lebarnya jurang kepentingan antara Washington dan Teheran.

Terkait Selat Hormuz, ia menilai Washington seharusnya memberikan jaminan atas keterbukaan jalur perdagangan sesuai hukum internasional.

Solusi yang lebih realistis, menurutnya, adalah mekanisme pengawasan bersama antara Amerika Serikat dan Iran di bawah kerangka internasional, bukan melalui dominasi sepihak.

Gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran bukanlah akhir konflik, melainkan awal dari fase negosiasi yang penuh tantangan. Di balik jeda dua pekan tersebut, berlangsung tarik-menarik kepentingan yang akan menentukan masa depan kawasan.

Tekanan internasional, terutama dari negara-negara yang berkepentingan terhadap stabilitas kawasan dan pasar energi global, akan terus berperan penting dalam mendorong kedua pihak menemukan jalan tengah.

Titik akhir dari perang AS-Iran ini akan ditentukan oleh kesediaan kedua negara untuk mengubah pendekatan demi mencapai perdamaian yang lebih langgeng, sementara dunia menanti kepastian dengan penuh kewaspadaan.

Tags: as-iranfakta-faktagagalnyainternasionalnegosiasi
  • Editor: Riko A Saputra
  • Redaktur Pelaksana: Erwin
Temukan Berita Lainnya

Baca Juga

Negara Tetangga Indonesia Tingkatkan Anggaran Militer: Apa Ancaman Tersembunyi?
Internasional

Negara Tetangga Indonesia Tingkatkan Anggaran Militer: Apa Ancaman Tersembunyi?

3 Juni 2026 - 09:47
Polda Jateng Gandeng FBI: Ungkap Sindikat Kripto Rp41 Miliar
Internasional

Polda Jateng Gandeng FBI: Ungkap Sindikat Kripto Rp41 Miliar

3 Juni 2026 - 07:50
Rusia Murka: Kapal Tanker Dicegat Prancis Picu Kemarahan Luas
berita

Rusia Murka: Kapal Tanker Dicegat Prancis Picu Kemarahan Luas

3 Juni 2026 - 04:24
Sindikat Judi Online Internasional Dibongkar: Jaringan Gelap yang Meresahkan
Internasional

Sindikat Judi Online Internasional Dibongkar: Jaringan Gelap yang Meresahkan

3 Juni 2026 - 03:55
Internasional

Trump Mendesak Kesepakatan Baru dengan Iran, Bagaimana Reaksi Dunia?

3 Juni 2026 - 01:28
Eks Dubes Inggris: Israel Akan Gagalkan Gencatan Senjata Iran-AS
Internasional

Eks Dubes Inggris: Israel Akan Gagalkan Gencatan Senjata Iran-AS

12 Mei 2026 - 02:23
Please login to join discussion
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Setelah Bencana, Ancaman Baru Mengintai: Kenali Penyakit Pascabencana

Setelah Bencana, Ancaman Baru Mengintai: Kenali Penyakit Pascabencana

6 Desember 2025 - 03:04
Cak Nur dan Hardi Selamat Hood mendatangi kantor KPU Kota Batam untuk mendaftarkan diri maju di Pilkada tahun 2024. (Sumber foto: JP - BatamPena.com)

Cak Nur dan Hardi Selamat Hood Bersama Rombongan Datangi KPU Kota Batam 

29 Agustus 2024 - 18:04
Aussie Porn Blocks Fuel VPN App Surge

Aussie Porn Blocks Fuel VPN App Surge

10 Maret 2026 - 21:44
Italia Setujui Hibah Kapal Induk Garibaldi ke RI

Italia Setujui Hibah Kapal Induk Garibaldi ke RI

28 Maret 2026 - 10:07
Sidang pembacaan tuntutan terdakwa mantan Kasat Resnarkoba Polresta Barelang, Kompol Satria Nanda di PN Batam. (Sumber foto: JP - BatamPena.com)

Jaksa Tuntut Kompol Satria Nanda Dengan Pidana Mati 

26 Mei 2025 - 16:54

Media Sosial Bergemuruh: Pernikahan Selebriti Muda Indonesia Jadi Sorotan Heboh

3 Juni 2026 - 10:46
Modus Baru Penipuan Online Terungkap: Ini Cara Warga Tetap Aman

Modus Baru Penipuan Online Terungkap: Ini Cara Warga Tetap Aman

3 Juni 2026 - 10:17
Negara Tetangga Indonesia Tingkatkan Anggaran Militer: Apa Ancaman Tersembunyi?

Negara Tetangga Indonesia Tingkatkan Anggaran Militer: Apa Ancaman Tersembunyi?

3 Juni 2026 - 09:47
Momen Prabowo Bertemu Megawati di Hari Lahir Pancasila: Analisis dan Potensi Dampaknya

Momen Prabowo Bertemu Megawati di Hari Lahir Pancasila: Analisis dan Potensi Dampaknya

3 Juni 2026 - 09:18
SPMB 2026 Batam Dimulai 8 Juni: Belum Memiliki KIA, Siswa Tetap Bisa Mendaftar

SPMB 2026 Batam Dimulai 8 Juni: Belum Memiliki KIA, Siswa Tetap Bisa Mendaftar

3 Juni 2026 - 09:00

Pilihan Redaksi

Media Sosial Bergemuruh: Pernikahan Selebriti Muda Indonesia Jadi Sorotan Heboh

3 Juni 2026 - 10:46
Modus Baru Penipuan Online Terungkap: Ini Cara Warga Tetap Aman

Modus Baru Penipuan Online Terungkap: Ini Cara Warga Tetap Aman

3 Juni 2026 - 10:17
Negara Tetangga Indonesia Tingkatkan Anggaran Militer: Apa Ancaman Tersembunyi?

Negara Tetangga Indonesia Tingkatkan Anggaran Militer: Apa Ancaman Tersembunyi?

3 Juni 2026 - 09:47
Momen Prabowo Bertemu Megawati di Hari Lahir Pancasila: Analisis dan Potensi Dampaknya

Momen Prabowo Bertemu Megawati di Hari Lahir Pancasila: Analisis dan Potensi Dampaknya

3 Juni 2026 - 09:18
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2025 batampena.com

No Result
View All Result
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature

Copyright © 2025 batampena.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

*By registering into our website, you agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.
All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.