Gamis ‘Bini Orang’: Tren Busana Lebaran 2026 yang Menggoda Pasar Johar Semarang
Pasar Johar Semarang, sebagai salah satu pusat perbelanjaan tradisional yang selalu ramai, kini semakin diramaikan oleh gelombang pembeli yang mempersiapkan kebutuhan Hari Raya Idulfitri 1447 H. Memasuki hari kesebelas Ramadan, aktivitas perburuan busana muslim terbaru dan aneka perlengkapan Lebaran semakin meningkat. Di tengah hiruk pikuk persiapan tersebut, sebuah tren busana muslim yang unik dan viral di media sosial, khususnya TikTok, mendominasi perhatian para pengunjung: gamis yang akrab disapa ‘bini orang’.
Kehadiran gamis ‘bini orang’ ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan sebuah fenomena yang mendorong peningkatan penjualan di kalangan pedagang di Pasar Johar. Model ini berhasil mencuri hati banyak pengunjung, terutama dari kalangan ibu-ibu, yang mencari pakaian yang tidak hanya modis tetapi juga memberikan kesan anggun dan dewasa.
Mengapa Gamis ‘Bini Orang’ Begitu Diburu?
Popularitas gamis ‘bini orang’ meroket berkat kemunculannya yang masif di berbagai platform media sosial, terutama TikTok. Konten-konten fesyen yang menampilkan gaya busana ini dengan cepat menyebar dan menginspirasi banyak orang untuk ikut mengadopsi tren tersebut. Para pengunjung Pasar Johar mengaku sengaja datang untuk mencari model gamis ini setelah melihatnya beredar di linimasa media sosial mereka.
Mutmainah (23), salah satu pengunjung yang ditemui saat berburu busana Lebaran, mengungkapkan bahwa ia telah mencari referensi baju Lebaran melalui media sosial. “Kebetulan sudah cari-cari referensi baju Lebaran di media sosial. Ini cari bajunya (gamis) ‘bini orang’,” ujarnya. Ia mengaku mengikuti tren yang sedang populer untuk melengkapi penampilannya di Hari Raya Idulfitri 2026. Bagi Mutmainah, berburu baju Lebaran di pasar tradisional seperti Pasar Johar tetap menjadi pilihan utama, meskipun belanja daring semakin marak. Alasannya sederhana, ia merasa lebih nyaman melihat dan mencoba langsung busana yang akan dibeli untuk memastikan kesesuaiannya dengan ekspektasi. Ia juga menambahkan bahwa perbandingan harga antara toko online dan pasar tradisional kini tidak lagi terpaut jauh.
Ciri Khas dan Daya Tarik Gamis ‘Bini Orang’
Para pedagang di Pasar Johar pun mengakui lonjakan permintaan gamis ‘bini orang’ sejak awal Ramadan. Dewi (48), seorang penjual gamis, menuturkan bahwa model ini menjadi salah satu yang paling laris. “Yang paling laris ya ‘bini orang’. Dari awal puasa sudah banyak yang cari,” jelasnya. Ia memperkirakan penjualan gamis ini bisa mencapai lima hingga sepuluh potong per hari, tergantung pada keramaian pasar.
Selain gamis ‘bini orang’, Dewi menyebutkan ada model lain yang juga dicari, seperti gamis ‘menantu idaman’, namun pamor gamis ‘bini orang’ dinilai jauh lebih kuat di pasaran tahun ini. Menurutnya, tren ini ramai diperbincangkan di TikTok dan menyebar cepat melalui konten fesyen. Ia bahkan berspekulasi bahwa tren ini mungkin terinspirasi oleh gaya berpakaian figur publik tertentu.
Secara desain, gamis ‘bini orang’ memiliki ciri khas yang membuatnya mudah dikenali. Modelnya cenderung simpel namun tetap elegan, dengan penambahan detail renda di bagian bawah rok. Variasi motif dan corak memang beragam, namun siluetnya umumnya longgar, memberikan kesan anggun dan dewasa.
- Potongan Simpel: Desain dasar yang tidak berlebihan, mudah dipadukan dengan berbagai aksesori.
- Detail Renda: Aksen renda di bagian bawah rok menjadi ciri khas utama yang memberikan sentuhan feminin dan mewah.
- Siluet Longgar: Memberikan kenyamanan saat dikenakan dan menciptakan kesan anggun.
- Motif Bervariasi: Tersedia dalam berbagai pilihan motif yang dapat disesuaikan dengan selera pembeli.
Pilihan Bahan dan Rentang Harga
Dari segi material, gamis ‘bini orang’ menawarkan beberapa tingkatan kualitas. Ada pilihan bahan standar hingga premium, serta bahan katun jaguar yang dikenal nyaman. Untuk model yang bermotif, umumnya menggunakan bahan ceruti dengan tambahan detail renda yang menyerupai brokat di bagian bawah.
Mengenai harga, gamis ‘bini orang’ dipatok dengan kisaran yang bervariasi, mulai dari Rp225.000 hingga Rp300.000 per potong. Perbedaan harga ini umumnya bergantung pada jenis bahan yang digunakan. “Bedanya di bahan. Seruti itu ada yang biasa, ada yang premium,” jelas Dewi.
Segmen Pasar yang Dituju
Menariknya, Dewi mengamati bahwa segmen pasar utama gamis ‘bini orang’ lebih banyak diminati oleh perempuan usia 30 tahun ke atas atau kalangan ibu-ibu. “Lebih ke orang dewasa sampai orang tua,” ujarnya. Namun, ia juga melihat adanya tren pembelian seragam atau busana couple untuk dikenakan bersama keluarga saat Hari Raya Idulfitri.
Ratnasari, pedagang lainnya, turut mengamini bahwa gamis model ‘bini orang’ menjadi salah satu yang paling banyak ditanyakan menjelang Lebaran 2026. Ia melihat tren ini sudah mulai muncul sebelum Ramadan dan kepopulerannya didorong oleh media sosial, terutama TikTok, yang banyak menampilkan model serupa dari pusat grosir seperti Tanah Abang.
Meskipun ada anggapan bahwa tren viral dapat membuat pembeli ragu karena takut terlihat “kembar” dengan orang lain, Ratnasari justru melihat hal tersebut sebagai daya tarik tersendiri. “Malah banyak yang cari,” katanya. Namun, ia mengamati bahwa segmen pembelinya memang cenderung berbeda, dengan ibu-ibu yang lebih mendominasi dibandingkan remaja. “Biasanya sih ibu-ibu. Kalau remaja, kayaknya kurang suka, takut kembar,” ucapnya.
Dalam sehari, Ratnasari rata-rata mampu menjual dua hingga tiga potong gamis ‘bini orang’, yang jumlahnya dapat meningkat menyesuaikan dengan tingkat keramaian pasar. Dengan semakin dekatnya Hari Raya Idulfitri, para pedagang di Pasar Johar optimis stok gamis ‘bini orang’ akan terus menipis seiring dengan meningkatnya kunjungan warga dari berbagai daerah yang ingin tampil modis di hari spesial.












