Krisis Rudal Pencegat: AS Terdesak, Korea Selatan Panik Akibat Eskalasi Timur Tengah
Kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah semakin nyata, memicu serangkaian manuver militer yang berdampak luas hingga ke Asia Timur. Laporan dari lapangan menunjukkan bahwa Amerika Serikat tengah menghadapi kesulitan signifikan dalam menghadapi serangan balasan yang dilancarkan oleh Iran. Situasi ini diperparah dengan adanya dugaan krisis rudal pencegat yang dialami AS, mengingat Iran diperkirakan telah meluncurkan lebih dari 500 rudal ke wilayah Israel dan aset-aset militer AS di berbagai negara Timur Tengah.
Kondisi yang mendesak ini memaksa Amerika Serikat untuk mengambil langkah-langkah yang justru menimbulkan kepanikan di kalangan warga Korea Selatan. Kepanikan ini muncul di tengah situasi keamanan yang sudah genting, menyusul uji coba peluncuran 10 rudal balistik oleh Korea Utara di dekat perairan Korea Selatan dan Jepang.
Analisis Krisis Rudal Pencegat AS dan Israel
Perkiraan para analis militer mengenai potensi krisis rudal pencegat bagi AS dan Israel dalam mengantisipasi serangan rudal dan drone kamikaze Iran tampaknya mulai terbukti. Rudal-rudal yang diluncurkan Iran dilaporkan tidak sepenuhnya berhasil dihalau oleh sistem pertahanan udara Israel dan AS. Israel, yang dikenal memiliki sistem pertahanan udara berlapis yang canggih seperti Iron Dome, David’s Sling, Arrow, serta sistem bantuan AS, THAAD, ternyata tidak mampu sepenuhnya menahan gempuran rudal Iran yang menghantam wilayahnya.
Bahkan, seorang jurnalis Israel secara terbuka mengakui bahwa sistem pertahanan udara negaranya kewalahan menghadapi rudal-rudal Iran. Menurutnya, rudal-rudal Iran mampu menembus pertahanan rudal pencegat Israel karena memiliki kemampuan untuk memecah menjadi enam bagian saat mendekati target.
AS pun tidak luput dari kesulitan. Mereka dilaporkan kewalahan menghadapi rudal-rudal Iran yang telah menghancurkan sejumlah aset militer mereka di berbagai negara di Timur Tengah. Sebuah laporan memperkirakan bahwa kerugian yang dialami AS akibat kerusakan aset militer di Timur Tengah mencapai sekitar 2 miliar dolar AS atau setara Rp 34 triliun hanya dalam empat hari pertama konflik.
AS Pindahkan Sistem Pertahanan Udara, Korea Selatan Panik
Akibat kesulitan menghadapi Iran dan krisis rudal pencegat, AS terpaksa mengambil tindakan drastis dengan memindahkan sistem pertahanan udara mereka yang ditempatkan di negara-negara sekutu, salah satunya Korea Selatan.
Laporan menyebutkan bahwa pada Selasa, 10 Maret 2026, AS telah merelokasi sistem pertahanan udara mereka dari Korea Selatan ke wilayah Timur Tengah. Relokasi ini terjadi pada hari ke-12 perang antara Iran melawan AS dan Israel, menyusul laporan terbaru mengenai hancurnya radar utama sistem Terminal High-Altitude Area Defense (THAAD) milik AS di Yordania yang bernilai 300 juta dolar AS oleh Iran.
Sistem THAAD sendiri pertama kali dikerahkan ke Korea Selatan pada tahun 2017 dengan tujuan utama untuk melindungi negara tersebut dari ancaman senjata nuklir Korea Utara.
Relokasi sistem THAAD dari Korea Selatan ini memicu kemarahan dan protes dari warga Korea Selatan yang khawatir tindakan tersebut akan menjadikan mereka target yang lebih rentan. Sementara itu, Tiongkok memberikan peringatan bahwa manuver ini dapat mengganggu stabilitas kawasan.
Sistem anti-rudal THAAD, yang diproduksi oleh Lockheed Martin AS, terdiri dari enam peluncur yang masing-masing membawa delapan rudal pencegat, serta sistem radar untuk deteksi. Rudal ini dirancang untuk menembak jatuh rudal balistik jarak pendek dan menengah menggunakan teknologi “hit-to-kill”, yang berarti menghancurkan target melalui energi kinetik murni. Keunggulan THAAD adalah kemampuannya untuk beroperasi di ketinggian, bahkan di luar atmosfer bumi, menjadikannya sangat berharga untuk mencegat dan menghancurkan hulu ledak nuklir, sebuah kemampuan yang sangat dibutuhkan di Korea Selatan mengingat ancaman dari Korea Utara.
Media Korea Selatan, termasuk SBS dan Yonhap, melaporkan bahwa peluncur THAAD telah diangkut keluar dari pangkalan udara Seongju, di selatan Seoul. Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, mengakui bahwa Seoul telah menyampaikan penolakan terhadap penarikan senjata AS tersebut. Ia menyatakan dalam rapat kabinet, “Tampaknya ada kontroversi baru-baru ini mengenai pasukan AS di Korea yang mengirimkan sejumlah senjata, seperti baterai artileri dan senjata pertahanan udara, ke luar negeri.”
Kepanikan warga Korea Selatan dapat dipahami mengingat beberapa hari sebelumnya, Korea Utara baru saja melakukan uji coba peluncuran 10 rudal balistik ke wilayah perairan dekat Korea Selatan dan Jepang. Sumber militer Korea Selatan mengkonfirmasi bahwa Korea Utara menembakkan lebih dari 10 rudal balistik ke laut pada hari Sabtu, bertepatan dengan latihan militer gabungan antara pasukan AS dan Korea Selatan.
Pasukan penjaga pantai Jepang melaporkan telah mendeteksi objek yang diduga sebagai rudal balistik yang jatuh ke laut. Rudal tersebut diperkirakan jatuh di luar zona ekonomi eksklusif Jepang. Rudal-rudal tersebut diluncurkan dari daerah dekat ibu kota Pyongyang menuju laut di lepas pantai timur negara itu.
Korea Utara telah secara konsisten melakukan uji coba peluncuran berbagai jenis rudal balistik dan rudal jelajah selama lebih dari dua dekade sebagai bagian dari upaya mereka untuk mengembangkan kemampuan pengiriman senjata nuklir, yang diyakini telah berhasil mereka kuasai.



















