Mengabdikan Diri di Jalur Kereta: Kisah Rahmat Haryanto, Sang Penjaga Rel

Di tengah hiruk pikuk Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta, Rahmat Haryanto (36) menyusuri rel kereta api dengan langkah pasti. Matanya awas mengamati setiap bantalan rel yang menjadi tumpuan ribuan ton baja yang melaju setiap hari. Mengenakan wearpack biru oranye khas KAI dan helm oranye, punggungnya menggendong tas berisi perlengkapan vital: kunci Inggris, bendera, helm, sepatu safety, alat komunikasi HT, hingga ponsel. Rahmat adalah seorang Petugas Pemeriksa Jalur (PPJ) Kereta Api Daop 6, sebuah profesi yang menuntut dedikasi tinggi demi memastikan setiap inci rel dalam kondisi prima, menjamin kelancaran dan keselamatan perjalanan kereta api.
Setiap harinya, Rahmat memiliki tanggung jawab besar untuk menyusuri jalur kereta api dari Stasiun Lempuyangan hingga Stasiun Maguwo. Perjalanan pulang-pergi ini membentang sepanjang sekitar 13,6 kilometer yang ditempuhnya dengan berjalan kaki. Dalam seminggu, ia hanya menikmati satu hari libur. Selama 13 tahun mengabdi sebagai PPJ, Rahmat telah mendedikasikan hidupnya untuk memeriksa dan memastikan keamanan seluruh elemen jalur kereta api, mulai dari rel, bantalan, balas, hingga bangunan di sekitar jalur. “Tugas pokok PPJ adalah memeriksa dan memastikan jalur aman untuk dilewati KA. Kami berjalan kaki memeriksa jalur di petak yang telah ditentukan oleh KUPT,” jelas Rahmat mengenai tugas utamanya.
Pengalaman Tak Terlupakan di Garis Depan
Selama 13 tahun berdinas, Rahmat telah mengumpulkan berbagai pengalaman yang tak terhitung jumlahnya, baik yang menyenangkan maupun yang menguji adrenalin. Pengalaman paling berkesan baginya adalah saat ia berinteraksi dengan anak-anak yang menunggu kedatangan kereta. “Paling senang itu waktu mungkin ketemu anak-anak nungguin kereta, kita sapa sambil memberikan edukasi jangan terlalu dekat dengan jalur, kalau bisa di area luar pagar,” ujarnya dengan senyum.

Namun, di balik interaksi yang hangat, tersimpan pula momen-momen menegangkan yang menguji keberanian Rahmat. Salah satu pengalaman yang paling menonjol adalah ketika ia berhasil mencegah aksi bunuh diri seseorang. “Menguji adrenalin itu waktu mengetahui ada orang yang mau bunuh diri di area petak pemeriksaan saya,” katanya, matanya menerawang mengingat kejadian tersebut. “Alhamdulillah berhasil dicegah,” tambahnya penuh syukur.
Di masa baktinya di Solo, Rahmat juga pernah merasakan pengalaman yang sedikit mistis. Saat bertugas di area Jembatan Bengawan, ketika jalur masih berupa single track, ia hampir tertabrak kereta api karena tiba-tiba tidak mendengar suara kereta sama sekali, padahal seharusnya suara itu terdengar jelas. “Di situ sempat hampir tertemper kereta karena tidak dengar suara kereta sama sekali,” tuturnya. Pengalaman ini menjadi pengingat betapa pentingnya kewaspadaan dalam setiap situasi.
Jadwal bertugas Rahmat pun bervariasi. Saat di Solo, ia kerap memulai tugasnya sejak pukul 03.00 pagi. Sementara di Yogyakarta, ia bertugas dari sore hingga larut malam. Pernah suatu ketika, di area Mayang, tepatnya di petak Purwosari–Gawok, di mana rel berdekatan dengan kebun tebu, Rahmat mendengar suara orang mengobrol dari sebuah gubuk.
“Jam 3 pagi saya jalan di situ. Pemeriksaan di situ dengar ada orang ngobrol, kayak asyik ngobrol gitu ya. Merasa senang ada temannya, masih ada yang belum tidur. Saya sapa sampai tiga kali. Nah di situ nggak respons sama sekali,” Rahmat menceritakan. Keheranan pun muncul ketika ia mendekati gubuk tersebut. “Saya balik ke gubuknya, saya soroti, ternyata nggak ada orang di situ,” bebernya, menyadari kejanggalan dari situasi tersebut.

Sesampainya di pos, Rahmat menceritakan pengalaman mistis yang dialaminya kepada rekan-rekan petugas. Ternyata, pengalaman serupa juga pernah dialami oleh petugas lain. “Petugas (lain) pun juga ternyata sebelumnya juga seperti itu, cuma di area posnya itu jam 3 pagi juga. Ada anak kecil di depan mainan mobil-mobilan gitu. Setelah pintunya dibuka, mau disapa, anak kecilnya lari ke belakang pos. Diikuti sama petugasnya itu, ternyata nggak ada dan nggak ada orang sama sekali di situ,” jelasnya. Peristiwa mistis ini terjadi sekitar tahun 2015 di wilayah Sukoharjo, Jawa Tengah. Beruntungnya, selama bertugas di Yogyakarta, Rahmat merasa lebih beruntung karena belum pernah mengalami kejadian mistis serupa.
Dedikasi Tanpa Batas, Bahkan di Bulan Puasa
Tugas berat sebagai PPJ tidak mengenal waktu, bahkan saat menjalankan ibadah puasa. Rahmat tetap setia menjalankan tugasnya memeriksa jalur pulang-pergi sepanjang 13 kilometer. “Yang jelas sedikit berbeda ya, karena biasanya sampai di tengah petak mungkin berhenti di PJL, minum, kita ngobrol, makan ringan. Tapi untuk di bulan puasa ini kita berhenti sebentar, nggak minum, nggak makan. Nanti lanjut lagi jalan gitu,” ungkapnya. “Tetap kuat puasanya,” tambahnya dengan semangat.
Setiap harinya, ia berjalan kaki total sekitar 4 jam. Saat puasa, ia memaksimalkan waktu sahur dengan mengonsumsi vitamin tambahan untuk menjaga stamina. Pembagian waktu pemeriksaan pun telah diatur. “Untuk pemeriksaan sore dikasih waktu 1 jam 40 menit. Untuk pemeriksaan malam diberi waktu 2 jam,” katanya.
Ketika menemukan adanya kerusakan pada rel, Rahmat wajib segera memperbaikinya di tempat. “Paling sering itu penambat kendor gitu ya. Itu pakai kunci Inggris,” ungkapnya merujuk pada salah satu jenis kerusakan yang paling sering ditemui.
Bahkan di tengah guyuran hujan deras yang kerap melanda Yogyakarta, Rahmat tetap harus menjalankan tugasnya. Namun, saat hujan, kekhawatiran terbesarnya adalah ancaman petir. “Kalau hujan kita tetap dinas ya. Kita menggunakan mantel, jas hujan, dan juga pakai payung untuk antisipasi kalau misalnya nanti hujan petir. Hujan petir itu yang paling berbahaya,” tegasnya, menunjukkan keseriusan dan kesadaran akan risiko profesinya.











