• Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
No Result
View All Result
Subscribe
  • Login
  • Register
batampena.com
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature
batampena.com
No Result
View All Result
Home politik

Jejak RI di Dewan HAM PBB: Tinjauan Kritis

Erwin by Erwin
16 Januari 2026 - 02:38
in politik
0

Indonesia Memimpin Dewan HAM PBB: Antara Harapan dan Realitas

Penunjukan Indonesia sebagai Presiden Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHRC) di Jenewa merupakan sebuah tonggak sejarah penting dalam kancah diplomasi internasional negara ini. Jabatan prestisius ini, yang akan diemban oleh Duta Besar Sidharto Reza Suryo, Wakil Tetap RI untuk PBB di Jenewa selama setahun ke depan, dipandang sebagai capaian diplomatik yang mengesankan. Posisi Presiden UNHRC memiliki otoritas strategis yang signifikan. Pemegang jabatan ini berwenang mengusulkan calon untuk posisi pelapor khusus, menunjuk para ahli untuk melakukan investigasi pelanggaran HAM, serta berperan krusial dalam menjaga kredibilitas UNHRC sebagai lembaga HAM terkemuka dalam sistem multilateralisme global yang kian rapuh.

Namun, di balik kebanggaan atas penunjukan ini, terselip pula pertanyaan mendasar mengenai tantangan yang akan dihadapi Indonesia. Kepemimpinan ini datang di tengah lanskap tata kelola HAM global yang sedang terdegradasi. Ketaatan terhadap norma HAM yang telah disepakati secara global semakin diabaikan, sementara Piagam PBB pun kerap terabaikan oleh tindakan unilateral negara-negara besar yang melanggar kedaulatan negara lain. Situasi ini semakin diperumit oleh kondisi HAM domestik Indonesia yang dilaporkan semakin memburuk.

Kondisi Hak Asasi Manusia di Indonesia: Catatan Kritis

Berbagai organisasi hak asasi manusia terkemuka di Indonesia, termasuk KontraS, Amnesti Internasional Indonesia, YLBHI, LBH, dan Komnas HAM, secara konsisten menyuarakan keprihatinan mendalam atas kondisi HAM di Indonesia. Catatan kritis mereka sepanjang tahun 2025 menunjukkan bahwa alih-alih mengalami perbaikan, situasi HAM justru mengalami kemunduran yang signifikan.

  • Kekerasan Ekstra-yudisial dan Penyiksaan: Laporan KontraS mencatat adanya 42 kasus pembunuhan di luar proses hukum (extra judicial killing) yang mengakibatkan 42 korban tewas selama periode Desember 2024 hingga November 2025. Selain itu, praktik penyiksaan masih terus terjadi, dengan 159 kasus tercatat yang menyebabkan korban meninggal dunia atau mengalami luka permanen. Penghilangan paksa terhadap para demonstran juga dilaporkan meningkat.

  • Represi Politik dan Regulasi Populis: Amnesti Internasional menyoroti bahwa kondisi HAM memburuk akibat praktik politik represif dan regulasi populis yang minim partisipasi publik. Sorotan politik mencakup upaya remiliterisasi ruang sipil melalui revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (TNI), upaya penulisan ulang sejarah, serta pengangkatan Soeharto sebagai pahlawan nasional.

  • Respons Publik dan Kritik Organisasi Masyarakat Sipil: Kekecewaan publik atas berbagai kebijakan tersebut memicu gelombang demonstrasi damai, mulai dari penolakan UU TNI, tuntutan kesejahteraan buruh, hingga protes terhadap tunjangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Kritik serupa juga disuarakan oleh WALHI, JATAM, ICW, Solidaritas Perempuan, dan berbagai organisasi masyarakat sipil lainnya.

Baca Juga  7 Fakta Mengejutkan Kolaborasi Politik Dae Ho-Gee Wan di Nice to Not Meet You

Mengenal UNHRC: Mandat dan Mekanisme Kerja

Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHRC) merupakan badan antarpemerintah dalam PBB yang beranggotakan 47 negara. Tugas utamanya adalah memperkuat kemajuan HAM global, menanggapi pelanggaran HAM, dan memberikan rekomendasi atas pelanggaran yang terjadi.

Mandat UNHRC mencakup beberapa fungsi krusial:

  • Forum Dialog Global: Menjadi wadah dialog antara pejabat PBB, pakar independen, masyarakat sipil, dan pihak-pihak terkait mengenai situasi HAM di seluruh dunia.
  • Resolusi dan Sesi Khusus: Menghasilkan resolusi yang mengikat bagi negara yang melakukan pelanggaran serius, serta mengadakan sesi khusus untuk merespons krisis HAM.
  • Universal Periodic Review (UPR): Melakukan tinjauan berkala terhadap catatan HAM seluruh negara anggota PBB.
  • Prosedur Khusus: Menunjuk para pakar independen sebagai pelapor khusus untuk memantau isu-isu tematik HAM di negara-negara tertentu, serta membentuk misi pencari fakta (fact-finding mission) untuk mengumpulkan bukti kejahatan kemanusiaan atau perang.

Rekam Jejak Diplomasi HAM Indonesia di Panggung Global

Indonesia telah menunjukkan partisipasi aktif dalam UNHRC, tercatat pernah menjadi anggota dewan tersebut sebanyak enam kali (2006-2007; 2007-2010; 2011-2014, 2015-2017, 2020-2022, dan 2024-2026). Selain itu, Indonesia juga dua kali menjabat sebagai wakil presiden UNHRC, melalui Duta Besar Dian Triansyah Djani (2009-2010) dan Duta Besar Febrian A Ruddyard (2023-2024).

Pasca-reformasi, Indonesia memang telah berupaya memposisikan diri sebagai negara yang gigih memperjuangkan HAM. Namun, peran yang dimainkan di tataran global masih terbilang terbatas. Salah satu indikatornya adalah keengganan Indonesia untuk memperkuat tata kelola dalam UNHRC.

Pada tahun 2025, Indonesia menerima 11 permintaan dari pelapor khusus PBB, sebuah peningkatan hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Permintaan ini didasari oleh berbagai isu krusial seperti revisi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), penangkapan dan pemenjaraan peserta unjuk rasa, kekerasan polisi dalam menghadapi protes damai, revisi UU TNI, isu pelanggaran HAM masyarakat adat, pelanggaran HAM dalam Proyek Strategis Nasional, serta pelanggaran HAM sistematis di Papua. Sayangnya, sebagian besar permintaan ini tidak mendapatkan respons yang memadai dari pemerintah Indonesia.

Baca Juga  Prabowo Gelar Halalbihalal Sembako di Aceh

Harapan Indonesia sebagai negara berkembang (Global South) untuk menyuarakan suara HAM yang otonom dan bebas dari perspektif Barat, terutama dalam menghadapi konfrontasi dengan negara-negara Utara (Global North), kerap kali pupus. Beban pelanggaran HAM domestik, khususnya kasus-kasus berat di Papua dan pendekatan keamanan kontra-separatisme, terus menjadi sorotan anggota UNHRC lainnya hingga kini. Isu Papua, secara khusus, telah menjadi batu sandungan permanen yang meruntuhkan kredibilitas Indonesia sebagai aktor terdepan dalam pemenuhan HAM global.

Pengalaman kelam masa lalu, seperti intervensi ke Timor Timur yang berujung pada referendum, masih terus membayangi langkah Indonesia dalam isu HAM di kancah internasional. Harapan agar Indonesia dapat menyuarakan kepentingan negara-negara berkembang yang menghadapi rezim represif tampaknya semakin sulit direalisasikan, mengingat memburuknya situasi HAM domestik.

Jika menilik rekam jejak pemungutan suara (voting behavior) Indonesia dalam isu-isu HAM berat, seperti kasus Myanmar dan Korea Utara, Indonesia cenderung menolak resolusi yang mengutuk pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh junta militer di Myanmar atau rezim diktator di Korea Utara. Dalam kasus Myanmar, Indonesia lebih memilih pendekatan regional. Sementara itu, terhadap Korea Utara, Indonesia menolak pemberian sanksi, dan tetap menjalin hubungan baik dengan negara tersebut, bahkan memperbarui kesepakatan bilateral.

Dalam isu Palestina, Indonesia secara konsisten memposisikan diri sebagai pendukung utama perjuangan rakyat Palestina di berbagai forum internasional. Namun, pernyataan politik dan komitmen legal yang disuarakan Indonesia kerap kali bertentangan dengan realitas di lapangan, terutama dengan berkembangnya kerja sama ekonomi dan perdagangan dengan Israel yang menunjukkan angka surplus bagi Indonesia.

Tantangan Diplomasi HAM Transformative

Dalam kajian hubungan internasional mengenai HAM, dikenal dua pendekatan utama: state-centric non-interventionist yang berlandaskan pada kedaulatan negara dan membatasi peran global HAM, serta pendekatan kritis yang berupaya mengejar transformasi HAM dengan menyatukan nilai moral, identitas negara, dan pemajuan HAM tanpa mengorbankan kedaulatan. Kemajuan HAM global sejatinya akan memperkuat situasi domestik, begitu pula sebaliknya, kondisi HAM dalam negeri akan berkontribusi pada perkembangan HAM dunia.

Baca Juga  Agustiar Sabran Pilih Dialog Saat Mahasiswa Anak Buruh Demo di Kantor Gubernur

Indonesia memiliki aspirasi untuk melakukan diplomasi HAM yang transformatif. Sejak pascareformasi, Indonesia telah menunjukkan keinginan untuk berkontribusi aktif dalam mempromosikan HAM dan demokrasi di tingkat global, terutama di Asia Tenggara melalui pembentukan institusi HAM ASEAN (AICHR) dan forum-forum bergengsi seperti Bali Democracy Forum.

Di tingkat nasional, institusi HAM nasional juga terus diperkuat melalui Rencana Aksi Nasional HAM (RANHAM) terbaru 2021-2025. Kementerian Luar Negeri, sebagai ujung tombak diplomasi Indonesia, juga telah melakukan reformasi internal dengan membentuk direktorat HAM di bawah Direktorat Jenderal Kerja Sama Multilateral.

Namun, kemajuan formal dalam penyebaran norma HAM domestik dan pembentukan institusi HAM tidak selalu beresonansi dengan implementasi HAM secara empirik di lapangan. Maraknya kasus-kasus pelanggaran HAM dan catatan kritis mengenai memburuknya situasi HAM di Indonesia menjadi bukti nyata kontradiksi ini.

Meskipun menjadi anggota aktif UNHRC, peran internasional Indonesia dalam menyikapi kasus-kasus besar seperti Myanmar, Korea Utara, Palestina, Ukraina, dan Sudan masih terbilang terbatas. Indonesia tampak enggan bersikap otonom dari kepentingan negara-negara besar dan menjadi corong bagi negara-negara Global South. Sikap yang tidak memberikan izin masuk kepada pelapor khusus atau melalaikan kewajiban pelaporan UPR dipandang sebagai keengganan untuk memperkuat tata kelola UNHRC.

Tantangan berat yang akan dihadapi Indonesia dalam waktu dekat adalah menyikapi krisis HAM di Venezuela, di mana Amerika Serikat terlibat secara terang-benderang melanggar instrumen norma HAM universal dan institusi HAM global.

Penunjukan Indonesia sebagai Presiden UNHRC 2026 akan menjadi ujian kredibilitas Indonesia sebagai aktor HAM global. Indonesia diharapkan dapat memimpin transformasi HAM, namun erosi HAM domestik yang terus memburuk menciptakan kontradiksi fundamental. Rekam jejak voting non-interventionist dalam kasus Myanmar dan Korea Utara, trauma masa lalu Timor Timur, serta beban isu Papua, semuanya menjadi tantangan serius. Tanpa reformasi domestik yang mendesak dan selaras dengan upaya diplomasi HAM transformatif, kepemimpinan Indonesia di UNHRC berisiko antiklimaks. Pengawalan berkala terhadap kinerja Indonesia sangat penting untuk meninjau jalannya tata kelola HAM global, yang pada akhirnya akan mencerminkan dampaknya pada ranah domestik.

  • Editor: Riko A Saputra
  • Redaktur Pelaksana: Erwin
Temukan Berita Lainnya

Baca Juga

Dino Patti Djalal: Bapak Diaspora Pengkritik Prabowo
politik

Dino Patti Djalal: Bapak Diaspora Pengkritik Prabowo

4 Juni 2026 - 03:01
politik

Pemkab Solok Selatan Tolak Gabung Tiga Nagari ke Dharmasraya

4 Juni 2026 - 02:09
Adat Maraina Desak Perda & Transparansi Batas Manusela
politik

Adat Maraina Desak Perda & Transparansi Batas Manusela

4 Juni 2026 - 01:17
Badal Haji: Bentuk Lembaga Pengelola
politik

Badal Haji: Bentuk Lembaga Pengelola

4 Juni 2026 - 00:51
berita

Golkar Dorong e-Voting Pemilu 2029: Harapan dan Tantangan Mewujudkannya

3 Juni 2026 - 18:36
Iran Gempur Pangkalan Militer Kuwait: Ancaman Baru, Timur Tengah Makin Memanas
Internasional

Iran Gempur Pangkalan Militer Kuwait: Ancaman Baru, Timur Tengah Makin Memanas

3 Juni 2026 - 18:07
Please login to join discussion
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Cak Nur dan Hardi Selamat Hood mendatangi kantor KPU Kota Batam untuk mendaftarkan diri maju di Pilkada tahun 2024. (Sumber foto: JP - BatamPena.com)

Cak Nur dan Hardi Selamat Hood Bersama Rombongan Datangi KPU Kota Batam 

29 Agustus 2024 - 18:04
Setelah Bencana, Ancaman Baru Mengintai: Kenali Penyakit Pascabencana

Setelah Bencana, Ancaman Baru Mengintai: Kenali Penyakit Pascabencana

6 Desember 2025 - 03:04
Aussie Porn Blocks Fuel VPN App Surge

Aussie Porn Blocks Fuel VPN App Surge

10 Maret 2026 - 21:44
Italia Setujui Hibah Kapal Induk Garibaldi ke RI

Italia Setujui Hibah Kapal Induk Garibaldi ke RI

28 Maret 2026 - 10:07
Sidang pembacaan tuntutan terdakwa mantan Kasat Resnarkoba Polresta Barelang, Kompol Satria Nanda di PN Batam. (Sumber foto: JP - BatamPena.com)

Jaksa Tuntut Kompol Satria Nanda Dengan Pidana Mati 

26 Mei 2025 - 16:54
Dino Patti Djalal: Bapak Diaspora Pengkritik Prabowo

Dino Patti Djalal: Bapak Diaspora Pengkritik Prabowo

4 Juni 2026 - 03:01
Prakiraan Cuaca Kepahiang Juni 2026: Hujan Ringan Merata

Prakiraan Cuaca Kepahiang Juni 2026: Hujan Ringan Merata

4 Juni 2026 - 02:35

Pemkab Solok Selatan Tolak Gabung Tiga Nagari ke Dharmasraya

4 Juni 2026 - 02:09
Aussie Politician’s Live TV Slip-Up: Trump Endorsement Backfires

Aussie Politician’s Live TV Slip-Up: Trump Endorsement Backfires

4 Juni 2026 - 01:56
Skuad Garuda Putri: FIFA Women’s Matchday Juni 2026 Bandung

Skuad Garuda Putri: FIFA Women’s Matchday Juni 2026 Bandung

4 Juni 2026 - 01:43

Pilihan Redaksi

Dino Patti Djalal: Bapak Diaspora Pengkritik Prabowo

Dino Patti Djalal: Bapak Diaspora Pengkritik Prabowo

4 Juni 2026 - 03:01
Prakiraan Cuaca Kepahiang Juni 2026: Hujan Ringan Merata

Prakiraan Cuaca Kepahiang Juni 2026: Hujan Ringan Merata

4 Juni 2026 - 02:35

Pemkab Solok Selatan Tolak Gabung Tiga Nagari ke Dharmasraya

4 Juni 2026 - 02:09
Aussie Politician’s Live TV Slip-Up: Trump Endorsement Backfires

Aussie Politician’s Live TV Slip-Up: Trump Endorsement Backfires

4 Juni 2026 - 01:56
  • Redaksi
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2025 batampena.com

No Result
View All Result
  • Home
  • Daerah
    • Batam
    • Kepulauan Riau
      • Tanjungpinang
      • Bintan
      • Karimun
      • Natuna
      • Lingga
  • Nasional
    • pendidikan-dan-pembelajaran
    • Serba-serbi
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Energi & BBM
    • Investasi
    • Keuangan
  • Hukum & Kriminal
    • Hukum
    • kejahatan
  • politik
    • Partai Politik
    • Pemilu
  • Internasional
    • Asia
    • Eropa
    • Amerika
    • Global
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • MotorGP
    • Lainnya
  • Opini
    • Kolom
    • Surat Pembaca
    • Editorial
  • Liputan Khusus
    • Investigasi
    • Human Interest
    • Laporan Mendalam
    • Feature

Copyright © 2025 batampena.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

*By registering into our website, you agree to the Terms & Conditions and Privacy Policy.
All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.