Jurnalis Amerika Serikat Didakwa sebagai Mata-mata China Selama Tujuh Tahun
Seorang jurnalis berkebangsaan Amerika Serikat, Thomas Wier Pauken II, menghadapi tuduhan serius sebagai agen mata-mata untuk pemerintah China selama kurang lebih tujuh tahun. Dakwaan ini diajukan oleh pengadilan Amerika Serikat pada Selasa, 26 Mei 2026, menggemparkan dunia jurnalisme dan intelijen internasional. Pauken, yang juga dikenal sebagai penulis buku dan pengamat politik, dilaporkan telah menetap di China selama lebih dari satu dekade. Selama periode tersebut, ia diduga beroperasi di bawah naungan Kementerian Keamanan China, sebuah badan intelijen utama negara tersebut.
Pengakuan Mengejutkan: Menjadi Agen Mata-mata China
Dalam sebuah pengakuan yang mengejutkan, Pauken sendiri mengakui perannya sebagai agen mata-mata China. Pengakuan ini disampaikan langsung dalam sesi wawancara dengan Agen Khusus FBI, Timothy Healy, beberapa waktu lalu.
-
Pertemuan Kunci dan Pertukaran Informasi Sensitif:
Dalam wawancara tersebut, Pauken merinci kunjungannya ke Amerika Serikat dengan tujuan bertemu dengan seorang individu bernama Cathy. Selama pertemuan tersebut, Pauken dilaporkan menyerahkan ponsel dan laptop kepada Cathy. Perangkat-perangkat ini diduga digunakan untuk memfasilitasi pertukaran informasi sensitif mengenai Pemerintah Amerika Serikat yang kemudian diteruskan kepada Pemerintah China.“Pauken mengakui selama wawancara sukarela bahwa pekerjaannya dengan Cathy dan individu lain yang ia akui juga bekerja untuk pemerintah China adalah bagian dari konspirasi untuk mendapatkan informasi rahasia dari Pemerintah Amerika Serikat,” jelas Healy.
Penangkapan dan Investigasi Mendalam
Penangkapan Pauken oleh otoritas Amerika Serikat terjadi pada awal Maret 2026. Namun, investigasi terhadap aktivitasnya telah dimulai jauh sebelumnya, yaitu sejak Desember 2025.
-
Kejanggalan di Bandara Dulles:
Titik awal kecurigaan muncul ketika Pauken tiba di Amerika Serikat dari China untuk bertemu dengan Cathy. Petugas di Bandara Internasional Washington Dulles mendeteksi adanya kejanggalan pada barang bawaannya. Ia ditemukan membawa dua unit telepon genggam, sebuah laptop, dan uang tunai senilai 3.000 dolar AS, yang setara dengan sekitar Rp53,3 juta pada saat itu.Ketika diinterogasi oleh petugas bandara, Pauken menyatakan bahwa tujuannya datang ke Amerika Serikat adalah untuk bertemu seseorang, namun ia tidak merinci identitas individu tersebut. Ia juga menyebutkan rencananya untuk tinggal di Amerika Serikat selama tiga hari sebelum kembali ke Beijing.
Jejak Karir dan Operasi di China Sejak 2010
Menurut catatan pengadilan Amerika Serikat, Thomas Wier Pauken II telah pindah dan menetap di China sejak tahun 2010. Selama bertahun-tahun di China, ia membangun karir di bidang jurnalisme dan penyiaran.
-
Karir Jurnalis dan Media:
Pauken bekerja sebagai jurnalis di Hong Kong dan juga pernah berkarier di berbagai stasiun televisi dan radio di daratan China. Puncaknya, pada tahun 2024, ia menjabat sebagai editor di salah satu media terkemuka China, Xinhua News.
-
Pengumpulan Informasi dan Pembayaran:
Periode antara tahun 2019 hingga 2025 menjadi sorotan utama dalam investigasi. Selama rentang waktu tersebut, Pauken dilaporkan melakukan beberapa kali kunjungan ke Amerika Serikat dengan misi mengumpulkan informasi yang dianggap sensitif. Laporan intelijen menunjukkan bahwa informasi yang berhasil dikumpulkannya ini bahkan pernah beberapa kali dikirimkan kepada Presiden China, Xi Jinping. Atas jasanya dalam menyediakan informasi rahasia tersebut, Pauken diduga menerima bayaran sebesar 100 ribu dolar AS, atau sekitar Rp1,7 miliar.

Kasus ini menyoroti kerentanan dalam ranah intelijen dan keamanan nasional, serta kompleksitas hubungan internasional di era modern. Investigasi lebih lanjut diharapkan dapat mengungkap seluruh jaringan dan dampak dari aktivitas spionase yang diduga dilakukan oleh Pauken.
-
Konteks Hubungan China-AS:
Kasus ini juga menambah dimensi baru pada dinamika hubungan antara China dan Amerika Serikat yang kerap diwarnai ketegangan dan persaingan intelijen. -
Implikasi bagi Dunia Jurnalisme:
Tuduhan terhadap seorang jurnalis yang dituduh menjadi mata-mata menimbulkan pertanyaan penting mengenai etika, integritas, dan peran media dalam lanskap geopolitik yang semakin kompleks.



















