Krisis properti yang melanda Tiongkok dan mulai menjalar ke pasar global kini mulai memberikan pukulan telak pada pasar saham Asia. Kekhawatiran akan dampak sistemik terhadap stabilitas keuangan global semakin meningkat, memicu koreksi tajam di berbagai bursa saham di kawasan ini. Investor di Indonesia pun perlu mencermati gelombang kejut ini agar dapat mengambil langkah antisipasi yang tepat dalam portofolio investasi mereka.
Akar Masalah: Krisis Properti Tiongkok
Sektor properti Tiongkok, yang pernah menjadi tulang punggung perekonomian negara itu dengan kontribusi hingga 30% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), kini tengah dilanda badai. Pengembang-pengembang besar seperti Evergrande terjerat utang miliaran dolar AS, sementara penjualan perumahan merosot ke level terendah sejak 2015. Skandal ini bukan hanya berdampak pada perusahaan itu sendiri, tetapi juga memicu penyelidikan terhadap pendirinya, Hui Ka Yan, atas dugaan kejahatan ilegal.
Dampak dari krisis ini bukan hanya sebatas pada sektor properti itu sendiri. Sektor ini memiliki kaitan erat dengan sektor lain, seperti industri berat dan pemerintah daerah. Industri berat, termasuk baja, semen, dan bahan kimia, sangat bergantung pada pasokan untuk konstruksi. Sementara itu, pemerintah daerah, terutama di kota-kota kecil, seringkali mendanai operasionalnya melalui penjualan tanah kepada pengembang.
Gejolak di Pasar Keuangan
Kebangkrutan pengembang properti kerap kali diikuti oleh kondisi serupa di sektor perbankan, seperti yang pernah terjadi di Amerika Serikat pada tahun 2008. Meskipun Tiongkok memiliki keunikan dalam pasar perumahannya dan pengaruh besar pemerintah pusat dalam sistem keuangan, risiko gejolak keuangan tetap ada. Penurunan harga perumahan dan tanah yang terlalu cepat, atau kegagalan Beijing dalam memberikan dukungan yang memadai kepada pemerintah daerah dan pemberi pinjaman kecil, dapat memicu kepanikan yang meluas.
Bank-bank di Tiongkok sendiri telah mulai mengurangi eksposur mereka terhadap sektor properti. Pinjaman kepada pengembang dan pembeli rumah, yang pernah mencapai hampir 30% dari total pinjaman bank komersial pada tahun 2019, turun menjadi 23% pada pertengahan tahun 2023. Namun, eksposur tidak langsung melalui pinjaman pemerintah daerah menjadi perhatian yang lebih besar. Utang pemerintah daerah melalui sarana pembiayaan korporasi mencakup setidaknya 11% dari total pinjaman bank, dan angka ini kemungkinan lebih tinggi mengingat ketergantungan banyak pemerintah daerah pada bank.
Dampak ke Pasar Saham Asia
Krisis properti Tiongkok tidak serta merta hanya berhenti di negara itu saja. Sebagai salah satu ekonomi terbesar di dunia, gejolak di Tiongkok memiliki efek riak yang signifikan terhadap pasar global, termasuk pasar saham Asia. Investor global mulai menarik investasinya dari aset-aset berisiko, termasuk saham di negara-negara Asia yang dianggap rentan terhadap perlambatan ekonomi Tiongkok.
Penurunan tajam pada saham-saham pengembang properti Tiongkok secara langsung menekan indeks saham di bursa seperti Shanghai dan Shenzhen. Namun, dampaknya tidak berhenti di situ. Sektor keuangan, yang memiliki eksposur terhadap kredit macet dari sektor properti, juga ikut tertekan. Selain itu, perusahaan-perusahaan di negara Asia lainnya yang bergantung pada permintaan dari Tiongkok, baik sebagai sumber bahan baku maupun pasar ekspor, juga merasakan imbasnya.
Relevansi untuk Investor Indonesia
Bagi investor di Indonesia, kabar ini harus menjadi perhatian serius. Pasar properti Tiongkok yang lesu dapat mengurangi permintaan komoditas yang diekspor Indonesia, seperti batu bara dan komoditas kelapa sawit. Selain itu, perlambatan ekonomi Tiongkok dapat berdampak pada sentimen investor global terhadap pasar berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.
Ketika investor global mengurangi porsi risiko dalam portofolio mereka, aliran dana keluar dari pasar saham Indonesia dapat terjadi. Ini dapat memicu koreksi pada indeks harga saham gabungan (IHSG) dan membuat volatilitas pasar meningkat. Oleh karena itu, investor Indonesia perlu mencermati pergerakan pasar saham Asia secara umum dan Tiongkok secara spesifik.
Antisipasi dan Peluang
Meskipun prospeknya suram, ada juga beberapa faktor yang patut diperhatikan. Beijing dan pemerintah daerah di Tiongkok telah mulai mengambil langkah-langkah yang lebih agresif untuk mendukung pasar properti, seperti pelonggaran kebijakan dan stimulus ekonomi. Hal ini diharapkan dapat meredam dampak terburuk dari krisis ini.
Laporan dari JPMorgan Chase & Co. memproyeksikan pemulihan sektor properti global baru akan terlihat pada tahun 2026, didorong oleh normalisasi pasar modal, penurunan suku bunga, dan meningkatnya permintaan terhadap aset properti berkualitas tinggi. Sektor industri dan logistik diprediksi menjadi primadona, diikuti oleh properti residensial dan ritel. Sektor perkantoran premium di lokasi strategis juga diperkirakan akan pulih.
Bagi investor, ini berarti bahwa meskipun pasar saham Asia mungkin mengalami periode volatilitas, diversifikasi portofolio ke sektor-sektor yang diprediksi akan pulih atau memiliki daya tahan lebih baik, seperti properti berkualitas tinggi, sektor industri, dan infrastruktur, bisa menjadi strategi yang bijak. Memahami dampak krisis properti global dan gejolaknya di pasar saham Asia adalah langkah awal yang krusial dalam menjaga dan mengembangkan aset investasi di tengah ketidakpastian ekonomi.
Penulis: Erwin









