Solusi Pengairan untuk Pertanian Bireuen: Pembangunan 82 Unit Air Pump dan Perbaikan Infrastruktur Irigasi
Kondisi pertanian sawah di Kabupaten Bireuen menghadapi tantangan signifikan pasca-banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025. Untuk mengatasi kendala ketersediaan air yang diperparah oleh rusaknya jaringan irigasi, Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI) mengambil langkah proaktif dengan membangun sebanyak 82 unit sarana air pump di berbagai wilayah Bireuen. Upaya ini diharapkan dapat memulihkan produktivitas pertanian dan menjaga ketahanan pangan daerah.
Air pump, sebagai perangkat mekanis, memainkan peran krusial dalam menyuplai air ke lahan persawahan ketika jaringan irigasi utama tidak berfungsi optimal. Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Bireuen, Mulyadi SE MM, menjelaskan bahwa pembangunan air pump ini merupakan salah satu program Kementan RI dalam rangka merespons permasalahan di lapangan dan mencari solusi konkret.
Proses pembangunan sarana air pump ini dikerjakan oleh kelompok tani di masing-masing daerah, di bawah pengawasan ketat dari tim pengawas Kementan RI serta Distanbun Bireuen. Target penyelesaian pembangunan 82 unit air pump ini adalah menjelang Juli 2026, bertepatan dengan musim tanam gadu.
Distribusi dan Kapasitas Air Pump
Pembangunan unit air pump dilakukan berdasarkan pemetaan sumber air yang tersedia. Lokasi-lokasi yang menjadi prioritas pembangunan antara lain di Kecamatan Gandapura dengan 12 unit, Kutablang 10 unit, dan Makmur 10 unit. Unit lainnya tersebar merata di berbagai kecamatan lainnya di Bireuen.
Setiap unit air pump dirancang untuk memompa air dari kedalaman maksimal 60 meter. Kapasitas pompa dan bak penampung air kemudian dialirkan ke sawah. Secara ideal, satu unit air pump ditargetkan mampu mencakup area sekitar 30 hektar per sumur bor.
Namun, Mulyadi mengakui bahwa kondisi lapangan menunjukkan rata-rata satu unit air pump tidak mencapai target 30 hektar. Hal ini disebabkan oleh luasnya hamparan lahan pertanian dan kondisi saluran irigasi yang belum normal serta belum terkoneksi dengan baik. Meskipun demikian, pihaknya terus berupaya agar air yang disuplai dari pemerintah dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh para petani untuk kelancaran musim gadu.
Sawah yang terdampak banjir bandang sebelumnya umumnya akan sangat bergantung pada air pump. Selain itu, sawah yang sedang dalam proses rehabilitasi juga sangat membutuhkan pasokan air irigasi. Dengan tersebarnya unit air pump di seluruh kecamatan, diharapkan para petani dapat kembali menggarap lahan mereka. Proses pengolahan tanah dalam bertani membutuhkan pasokan air yang signifikan, dan air irigasi tetap menjadi andalan utama. Meskipun semua kecamatan menjadi prioritas, lahan sawah yang terdampak banjir dan lahan tadah hujan akan mendapatkan perhatian khusus dalam penyediaan sarana air pump ini.
Kebutuhan Mendesak Perbaikan Infrastruktur Irigasi
Selain pembangunan sarana air pump, kondisi infrastruktur irigasi di Bireuen juga menjadi sorotan utama. Sejumlah jaringan irigasi memerlukan perbaikan dan normalisasi mendesak karena sebagian telah mengalami pendangkalan dan banyak saluran utama yang rusak parah. Kondisi ini menyebabkan air irigasi tidak dapat mengalir lancar ke sawah, sehingga menghambat aktivitas pertanian.
Mulyadi memaparkan bahwa Irigasi Pante Lhong, yang memiliki bendungan di wilayah Juli, saat ini sedang dalam proses perbaikan dan diharapkan segera selesai. Penyelesaian irigasi ini sangat krusial untuk memastikan pasokan air dapat segera dialirkan ke sawah-sawah di kawasan tersebut.
Selain itu, kondisi irigasi di Nalan, Pandrah, Batee Iliek, dan Peudada juga memerlukan perhatian dan perbaikan segera. “Kita berharap irigasi Pante Lhong dapat segera rampung. Kemudian, irigasi lainnya di Bireuen juga butuh perbaikan segera termasuk saluran utama maupun saluran lainnya,” ujar Mulyadi.
Diharapkan, penyelesaian perbaikan Irigasi Pante Lhong dapat segera memberikan manfaat bagi kawasan Peusangan Raya, termasuk Jangka, sebagian Kutablang dan Juli, serta wilayah Kuala, sehingga mereka dapat melanjutkan aktivitas bercocok tanam. Tanpa selesainya perbaikan irigasi, aliran air ke sawah akan terus terhambat.
Mulyadi menekankan kembali pentingnya perbaikan irigasi tidak hanya terbatas pada Pante Lhong, tetapi juga mencakup irigasi Pandrah, Nalan Batee Iliek, dan Peudada. “Karena petani sangat membutuhkan air, utamanya untuk mengolah tanah,” tegasnya. Upaya perbaikan infrastruktur irigasi ini merupakan investasi jangka panjang untuk mendukung keberlanjutan sektor pertanian di Bireuen.













