Keberadaan Delman di Tengah Banjir Dayeuhkolot
Langit mendung masih menggantung di atas Sungai Citarum ketika matahari baru merayap di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Jalan raya yang biasanya riuh itu kini berubah menjadi sungai dadakan, dengan genangan setinggi paha orang dewasa. Namun, di tengah arus air yang mengalir lamban tetapi pasti, siluet para kusir delman sudah tampak berdiri tegak, memegang kendali kuda dengan kesabaran yang nyaris seolah menjadi bagian dari denyut kampung itu sendiri.
Mereka datang sejak subuh, bahkan sebelum ayam selesai berkokok. Sementara sebagian besar warga masih mengejar sisa mimpi, para kusir itu telah menggiring kudanya, memeriksa pelana, memoles roda kayu yang telah berumur, dan menepuk-nepuk leher kuda seperti menenangkan rekan seperjalanan. “Kalau datangnya kesiangan, penumpang sudah telanjur mencari cara lain,” ujar Asep, salah seorang kusir yang ditemui di lokasi.
Asep bukan satu-satunya. Ada pula Indra, Ujang, dan beberapa nama lain yang sudah begitu akrab dengan Dayeuhkolot. Mereka datang dari kampung seberang, sebagian dari Bojongasih, sebagian dari Citeureup, tetapi nasib menyatukan mereka di depan Pasar Dayeuhkolot, di titik yang airnya tak kunjung surut dan penghidupan justru tetap mengalir. “Waktu banjir begini, delman jadi penyambung jalan,” tutur Indra sambil menunjuk para pegawai pabrik yang baru pulang dari shift malam.
Dari kejauhan, terlihat sosok-sosok yang berjalan perlahan, menggulung celana hingga lutut, membawa helm di tangan, wajah letih tetapi tetap bergegas. Mereka mendatangi delman seperti rumah singgah yang tak pernah membantah kedatangan siapa pun. Seorang perempuan muda, pegawai pabrik, naik ke delman dengan langkah ragu. Rautnya memperlihatkan kelelahan setelah bekerja sepanjang malam. Namun, ketika duduk dan kuda mulai melangkah, sorot matanya mencair, seolah geli melihat dirinya diangkut dengan alat transportasi tradisional di tengah banjir kota yang sibuk. Ia tersenyum kecil. “Lucu juga, ya, tapi terbantu,” katanya pelan.
Di sisi lain, para pedagang kecil yang hendak membuka lapak di Pasar Dayeuhkolot turut memanfaatkan jasa ini. Mereka membawa karung berisi sayur mayur, buah, hingga bumbu dapur, barang dagangan yang tak boleh basah. Delman menjadi jembatan antara rezeki dan arus air yang mengancam merampasnya. Tak jarang pula, warga dari Baleendah yang hendak menuju pusat keramaian naik ke delman karena sepeda motor mereka tak berani memotong genangan. Air yang tenang sering kali menyimpan bahaya. Knalpot yang terendam, mesin yang tersedak, ongkos perbaikan yang tidak sedikit.
Cerita Delman
Delman, dalam hal ini, menjadi pilihan yang tak hanya praktis, tetapi juga penuh cerita. Ada momen-momen ketika para kusir harus memuat sepeda motor ke atas delman. Dengan kehati-hatian nyaris seremonial, mereka mengangkat, menyeimbangkan, dan menempatkannya di belakang bangku kayu. Ini bukan pekerjaan ringan, tetapi dilakukan dengan tangan yang sudah puluhan tahun bersahabat dengan keseimbangan.
Dari pekerjaan ini, penghasilan mereka tidak besar. “Kadang dua puluh ribu, kadang empat puluh lima ribu. Kalau lagi ramai, bisa lebih banyak dapatnya, ada juga yang ngasih lebih ongkosnya,” ucap Ujang sambil mengusap hidung kudanya yang basah. Tidak ada nada keluhan. Yang terdengar hanya kenyataan yang diterima apa adanya, seperti air yang menerima bentuk wadahnya.
Namun, yang paling sulit bukanlah banjir atau penumpang yang sedikit. Yang paling penting adalah menjaga kuda tetap tenang. Hewan itu adalah nyawa dari pekerjaan mereka. “Kadang kuda takut kalau air bergerak terlalu deras. Kami harus pelan, bicara sama dia, supaya dia mengerti kami aman,” kata Asep sambil menepuk lembut leher kudanya. Kuda, bagi para kusir, bukan sekadar hewan pekerja. Ia adalah teman perjalanan, rekan berbagi nasib, pembawa harapan.
Kuda yang panik dapat membuat delman terbalik. Karena itu, setiap gerak langkahnya dijaga dengan penuh kesabaran, seolah berjalan di antara garis tipis antara ketakutan dan keyakinan. Ada bisik-bisik dari warga yang menyaksikan mereka berlalu. “Masih ada, ya, delman,” kata seorang pemuda yang mengabadikan pemandangan itu dengan ponselnya.
Delman seperti membawa potongan masa lalu yang terselip dalam kehidupan modern. Kuda melangkah perlahan, tapi kisah yang dibawanya bergerak jauh ke dalam benak penonton. Para kusir tahu betul bahwa profesi mereka bisa saja hilang suatu hari nanti. Jalan raya diperlebar, kendaraan semakin cepat, manusia semakin terburu waktu.
Namun, di saat banjir datang dan motor tak lagi berdaya, delman kembali menjadi pahlawan yang tak pernah menyebut dirinya pahlawan. Indra tersenyum kecil ketika ditanya apakah ia bangga. “Bangga, atuh. Bukan soal uangnya. Kadang orang cuma butuh ditolong. Delman ini bisa bantu itu,” katanya. Ia ingat ketika seorang ibu membawa anak kecil yang demam. Mereka harus melewati banjir untuk mencari angkot yang melintas di tempat lebih kering. Delman itu menjadi penyambung harapan.
“Waktu itu rasanya hati saya kayak ditarik. Kuda saya juga kayak ngerti, jalannya pelan banget,” tambahnya. Di tengah aliran air yang mendesah lembut, suara tapak kuda terdengar seperti denting kenangan. Setiap langkah membawa ingatan pada masa ketika ritme hidup berjalan perlahan, ketika waktu mengalir seperti air sungai yang tidak tergesa sampai ke laut.
Para kusir duduk di balik kendali delman dengan postur tegak. Ada keanggunan yang tak dibuat-buat. Mereka tidak sedang mengejar sesuatu, mereka hanya mengalir bersama keadaan. Banjir air di Dayeuhkolot mungkin akan surut suatu hari nanti. Jalan raya itu akan kembali dipenuhi motor, mobil, dan ingar bingar kehidupan. Namun, jejak tapak kuda di permukaan air akan tetap tinggal dalam ingatan mereka yang pernah merasakannya.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, delman di Dayeuhkolot adalah sejenis salam hangat dari masa lalu, yang tidak pernah benar-benar pergi. Ia menunggu saat dibutuhkan, tanpa mengeluh, tanpa menuntut. Dan selama masih ada banjir yang membatasi langkah manusia, selama masih ada kuda yang berdiri gagah meski harus menerjang arus, selama masih ada kusir yang datang sejak fajar dengan harapan yang sederhana—tapak kuda akan terus terdengar di Dayeuhkolot. Lambat, tenang, dan penuh makna…


















