Kesejahteraan Warga Kunci Kekuatan NU, Bangsa Indonesia Butuh Organisasi Islam Tangguh
JAKARTA – Kekuatan fundamental Nahdlatul Ulama (NU) secara inheren terikat pada kesejahteraan lahir dan batin para jamaahnya. Penegasan ini disampaikan oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Ahmad Muzani, dalam sebuah kesempatan penting yang menggarisbawahi peran strategis NU dalam tatanan bangsa.
Pernyataan ini dilontarkan Muzani saat menghadiri perayaan puncak satu abad usia NU, yang diselenggarakan meriah di Istora Senayan, Jakarta. Momen bersejarah ini menjadi panggung bagi Muzani untuk menyampaikan pandangannya mengenai fondasi kebesaran NU, yang menurutnya, harus dimulai dari kemandirian ekonomi para anggotanya.
“NU akan menjadi organisasi yang benar-benar kuat apabila seluruh warganya dalam kondisi sehat, tercukupi kebutuhan pangan, memiliki sumber penghidupan yang layak, dan stabil secara finansial,” ujar Muzani di hadapan ribuan pengikut setia NU yang memadati venue. Ia menambahkan, “NU kuat itu apabila jamaahnya sehat. NU kuat apabila jamaahnya kenyang, punya pekerjaan, dan dompetnya tebal.”
Pandangan ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah pengakuan atas korelasi strategis antara kekuatan NU dan ketangguhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Muzani menekankan bahwa bangsa Indonesia, dalam berbagai aspeknya, sangat membutuhkan kehadiran NU yang kokoh dan solid sebagai salah satu pilar utama penjaga persatuan dan kesatuan.
“Negara sangat membutuhkan peran NU yang tangguh. Mengapa? Karena ketika NU kuat, maka Indonesia juga akan turut menjadi kuat,” tegasnya, menggarisbawahi keterkaitan erat antara organisasi Islam terbesar di Indonesia ini dengan stabilitas dan kemajuan bangsa.
Jejak Sejarah NU: Dari Perjuangan Kemerdekaan Hingga Penjaga Stabilitas
Ketua MPR RI ini juga tidak lupa untuk menengok kembali perjalanan panjang dan monumental NU sejak didirikan pada tahun 1926. Ia mengingatkan kembali peran tak ternilai dari para ulama dan santri dalam perjuangan melawan penjajahan di masa lalu. Momentum bersejarah seperti Fatwa Jihad yang dikeluarkan pada November 1945, misalnya, menjadi bukti nyata bagaimana NU mampu membangkitkan semangat perlawanan rakyat dan berkontribusi signifikan terhadap kemerdekaan Indonesia.
Namun, kontribusi NU tidak berhenti pada masa perjuangan kemerdekaan. Muzani menyoroti bahwa semangat pengabdian NU terus berlanjut bahkan setelah Indonesia merdeka. Organisasi ini secara konsisten hadir sebagai kekuatan penyeimbang dan penjaga stabilitas nasional. Peran ini teruji dalam berbagai situasi, mulai dari penanggulangan ancaman ideologi yang dapat mengoyak persatuan, hingga respons cepat dalam menghadapi berbagai musibah dan bencana alam yang melanda negeri.
“NU selalu berdiri di garda terdepan untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, dalam situasi apapun,” imbuhnya, memberikan apresiasi mendalam atas dedikasi tanpa henti dari organisasi ini.
Berkhidmat Tanpa Pamrih: Mengejar Rida Ilahi, Bukan Pujian Manusia
Menjelang akhir pidatonya, Ahmad Muzani menyampaikan pesan inspiratif yang ditujukan kepada seluruh jajaran pimpinan, santri, pengurus, hingga para kiai di lingkungan NU. Ia mengajak seluruh elemen NU untuk terus mengabdikan diri kepada bangsa dan negara dengan ketulusan hati, tanpa terbebani oleh harapan akan pujian atau sanjungan dari sesama manusia.
Menurut Muzani, fokus utama dalam setiap perjuangan dan pengabdian warga NU seharusnya adalah mencari keridaan dari Allah SWT. Pengakuan atau kritik dari manusia, baik berupa pujian maupun makian, seharusnya tidak menjadi tolok ukur utama dalam berkhidmat.
“Pimpinan, santri, pengurus, hingga kiai NU tidak butuh pujian maupun makian dari siapapun. Yang terpenting bagi NU adalah ridho Allah SWT,” pungkasnya, menutup pidatonya dengan penekanan pada nilai-nilai spiritual dan keikhlasan yang menjadi landasan utama perjuangan warga Nahdliyin.
Pesan ini diharapkan dapat semakin memperkuat semangat juang warga NU dalam memberikan kontribusi positif bagi kemajuan bangsa, sekaligus menjaga nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulu. Dengan warga yang sejahtera dan organisasi yang kuat, NU akan terus menjadi pilar penting dalam menjaga keutuhan NKRI.



















