Korban Tewas Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur Bertambah Menjadi Tujuh Orang
Pada pukul 07.00 WIB, jumlah korban tewas akibat kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, meningkat menjadi tujuh orang. Informasi ini disampaikan oleh Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin.
Selain korban tewas, puluhan korban lainnya mengalami luka-luka dan masih menjalani perawatan. Bobby menyampaikan bahwa jumlah korban yang terjadi pada kecelakaan kereta pada malam hari telah diupdate. “Meninggal dunia itu 7 orang dan luka-luka dan dirawat itu sebanyak 81 orang,” ujarnya saat berada di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (28/4/2026).
Proses evakuasi korban dilakukan secara hati-hati oleh tim gabungan, termasuk Basarnas, di lokasi kejadian. Selain itu, rangkaian KA Argo Bromo Anggrek juga telah dievakuasi dari lokasi tabrakan. “Evakuasi dari kereta Bromo Anggrek itu telah kami lakukan. Jadi semua rangkaian sebanyak 12 gerbong itu telah kami lakukan eh evakuasi ke stasiun Bekasi,” jelas Bobby.
Bobby menambahkan bahwa layanan Kereta Rel Listrik (KRL) untuk sementara hanya beroperasi hingga Stasiun Bekasi. Kebijakan ini diterapkan karena proses evakuasi di Stasiun Bekasi Timur masih berlangsung. “Operasional kereta walaupun Commuter Line belum bisa kami operasikan untuk naik dan turun di stasiun Bekasi Timur ini, untuk Commuter Line kami batasi sampai di stasiun Bekasi,” jelasnya.
Ia juga memastikan tidak ada petugas kereta api yang menjadi korban meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut. Sebagai informasi, peristiwa ini diduga bermula dari adanya taksi berwarna hijau yang tertabrak KRL di pelintasan kereta. Setelah rangkaian tersebut berhasil dievakuasi, insiden lanjutan terjadi.
Kecelakaan kedua terjadi saat KRL tujuan Jakarta–Cikarang tengah berhenti di Stasiun Bekasi Timur. Pada saat bersamaan, KA Argo Bromo Anggrek jurusan Surabaya menabrak rangkaian KRL tersebut pada Senin (27/4/2026) malam.
Proses Evakuasi dan Dampak Terhadap Layanan Kereta
Proses evakuasi korban dan kereta yang terlibat dalam kecelakaan berjalan dengan cukup rumit. Tim gabungan yang terdiri dari Basarnas dan petugas kereta api bekerja sama untuk memastikan keselamatan para korban. Mereka melakukan evakuasi dengan hati-hati agar tidak menimbulkan risiko tambahan bagi korban yang terluka.
Selain itu, seluruh rangkaian KA Argo Bromo Anggrek yang terlibat dalam kecelakaan telah dievakuasi ke Stasiun Bekasi. Rangkaian tersebut terdiri dari 12 gerbong yang harus dipindahkan secara bertahap. Proses ini memakan waktu cukup lama karena kondisi lokasi kejadian yang kompleks dan memerlukan koordinasi yang baik antara berbagai pihak.
Layanan KRL juga mengalami gangguan akibat kecelakaan ini. Untuk sementara waktu, operasional KRL hanya dibatasi hingga Stasiun Bekasi. Hal ini dilakukan sebagai upaya mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan lebih lanjut dan memastikan kelancaran proses evakuasi di Stasiun Bekasi Timur.
Peristiwa Awal yang Memicu Kecelakaan
Menurut informasi yang diperoleh, kecelakaan ini dimulai dari sebuah insiden di mana sebuah taksi berwarna hijau tertabrak oleh KRL di pelintasan kereta. Insiden ini menjadi awal dari serangkaian kejadian yang berujung pada kecelakaan besar antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL.
Setelah rangkaian KRL yang terlibat dalam kecelakaan pertama berhasil dievakuasi, kecelakaan kedua terjadi. Saat KRL tujuan Jakarta–Cikarang berhenti di Stasiun Bekasi Timur, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah Surabaya menabrak rangkaian KRL tersebut. Kejadian ini terjadi pada Senin (27/4/2026) malam dan menyebabkan banyak korban jiwa serta luka-luka.



















