Kehidupan Warga Kota Tua Terhenti Akibat Syuting Film Internasional
Jakarta – Kawasan bersejarah Kota Tua, Jakarta Barat, tepatnya di Jalan Nelayan Timur, baru-baru ini menjadi pusat perhatian bukan karena pesona sejarahnya, melainkan karena dijadikan lokasi syuting film internasional bertajuk ‘Extraction: Tygo’. Film yang dibintangi oleh salah satu anggota grup idola K-Pop ternama, Lisa Blackpink, ini disambut antusias oleh banyak pihak. Namun, di balik kemeriahan produksi film Hollywood, aktivitas warga sekitar terpaksa terhenti. Sterilisasi dan penutupan total area Kota Tua selama proses syuting berlangsung memberikan dampak signifikan, terutama bagi para pedagang kecil yang menggantungkan hidupnya di kawasan tersebut.

Area Kota Tua tepatnya di Jalan Nelayan Timur, Jakarta Barat, dipakai sebagai salah satu latar syuting film ‘Extraction: Tygo’ yang dibintangi Lisa Blackpink.
Proses syuting ini berimbas kepada terhentinya aktivitas warga sekitar karena seluruh area Kota Tua disterilkan atau ditutup selama dipakai untuk syuting.
Salah satu yang paling merasakan dampak langsung adalah para pedagang. Wiwi (60), seorang pedagang kue yang telah lama berjualan di Jalan Nelayan Timur, mengaku terpaksa menghentikan aktivitasnya sejak Minggu (1/2). “Mulai enggak dagang udah tiga hari ini sih saya. Minggu, Senin, sekarang Selasa,” ujar Wiwi dengan nada pasrah saat ditemui di lokasi, Selasa (3/2). Ia menambahkan bahwa tidak hanya dirinya, banyak pedagang lain yang juga mengalami hal serupa. “Banyak pedagang mah (yang berhenti berdagang). Tukang sayuran, tukang kue, banyak. Tukang ikan, ayam,” keluhnya.
Kompensasi yang Dinanti
Aktivitas perdagangan di area tersebut dijadwalkan baru akan kembali normal pada tanggal 7 Februari mendatang. Informasi mengenai penutupan ini diterima Wiwi dan para pedagang lainnya melalui Ketua RT 6, yang memperlihatkan surat keterangan resmi dari Kelurahan Pinangsia. “Dari RT dikasih tahu sambil ditunjukin suratnya dari kelurahan,” ungkap Wiwi.
Meskipun harus menghentikan sementara mata pencaharian mereka, Wiwi dan pedagang lainnya dijanjikan akan menerima kompensasi dari pihak rumah produksi film. Namun, besarannya masih belum diketahui secara pasti. Kompensasi tersebut baru akan dibagikan setelah seluruh proses syuting selesai. “Uang (bentuk kompensasinya). Belum dikasih. Memang uang itu sudah ada, cuma belum dikasih. Karena kan (saya) belum jualan. Begitu bilamana sudah jualan, nanti dibagikan,” jelas Wiwi.
Terlepas dari ketidakpastian jumlah kompensasi, Wiwi mengaku merasa senang dengan adanya proses syuting di lingkungannya. Baginya, ini adalah kesempatan untuk mendapatkan penghasilan tanpa harus bersusah payah berdagang. “Iyalah, senang. Kecuali saya enggak dapat uang, baru saya enggak senang. Tapi yang enggak dagang ya saya enggak tahu,” tuturnya dengan senyum tipis.
Kepatuhan Warga di Tengah Keterbatasan
Penutupan kawasan Kota Tua untuk kepentingan syuting ini juga dipahami oleh sebagian besar warga setempat. Lina (52), salah seorang warga, menyatakan bahwa ia tidak mempermasalahkan penutupan tersebut selama ada pemberitahuan yang jelas. “Kecuali enggak ada konfirmasi kita boleh marah ya. Kan (ini) udah dibilangin. Di media, udah TV, udah di itu, ya udah terima aja,” katanya.
Larangan Keras Merekam Aktivitas Syuting

Para warga terlihat bergerombol di pinggir gang untuk menyaksikan proses syuting yang berjalan sambil dijaga petugas. Meski begitu, tidak ada satu pun warga yang berusaha memotret karena dilarang.
Selain penutupan akses, pihak produksi film juga memberlakukan larangan ketat bagi warga untuk mendokumentasikan proses syuting, baik melalui foto maupun video. Sejumlah petugas keamanan disiagakan untuk memastikan aturan ini dipatuhi. Beberapa warga yang kedapatan mencoba merekam aktivitas syuting terpaksa diminta menghapus hasil dokumentasi mereka. “Ada banyak dihapus orang lewat. “Sini HP-nya,” katanya. ‘Buka sekarang’ suruh buka depan kita, depan petugasnya. Suruh hapus. ‘Hapus itu, ada apa videoin barusan’. Orang ketahuan sih kamera di mana-mana ini. Pohon itu kamera semua,” ungkap Lina, menceritakan pengalamannya melihat warga lain ditegur.
Lina menambahkan bahwa petugas keamanan sangat sigap dalam mendeteksi siapa saja yang merekam. “Itu semua ketahuan siapa yang ngerekam. Jadi kita keluar, kalau bisa enggak usah bawa kamera, digituin. Daripada pusing diteriakin malu lah. Minta aja malu, ya kan? Kita juga punya otaklah. Banyak yang tadi aja ibu-ibu kan kena di situ,” jelasnya.

Lina menyatakan, larangan dokumentasi mulai diberlakukan sejak akhir pekan lalu. Hal itu awalnya tidak diketahui warga setempat sehingga ada yang masih memotret.
Larangan mendokumentasikan ini mulai diberlakukan sejak akhir pekan lalu. Awalnya, beberapa warga yang tidak mengetahui aturan tersebut masih mencoba mengambil gambar. “Banyak orang lewat, yang ngontrak, yang itu bujang-bujang itu kan namanya orang iseng kali ya. Pikirnya kayak artis kita boleh difoto, mana boleh. Orang di ujung sono enggak keliatan aja suruh hapus. Belum ada artisnya (yang terlihat di lokasi syuting),” cerita Lina.
Namun, setelah adanya sosialisasi dan penjelasan dari petugas, larangan memotret dan merekam selama proses syuting akhirnya ditaati oleh warga. “Ya udah dibilangin ya udah, masa enggak nurut sih sekali ngomong. Ya udah kita mah ngapain. Jangan foto, jangan video, gitu ya,” tutur Lina menirukan arahan petugas keamanan yang berjaga di lokasi pengambilan gambar. Kepatuhan ini menunjukkan bahwa warga Kota Tua, meskipun terdampak langsung oleh penutupan dan pembatasan, tetap berusaha kooperatif demi kelancaran produksi film yang membawa nama baik daerah mereka.




















